Pola fashion anak hypebeast
kekinian seringkali hampir seragam untuk urusan alas kaki. Mereka akan
cenderung memakai merek seperti Adidas, Nike, Converse, Vans, and merek branded lainnya. Instagram lewat hastag #OOTD atau #hypebeast, seolah ikut
memperkuat tren itu.

Kamu mungkin—bahkan sudah hampir bisa dipastikan—punya salah
satu dari merek-merek itu.

Tapi, tak bisa dipungkiri, merek sneakers yang disebut di atas punya harga yang tak murah—bahkan ada
 terlampau mahal. Sementara bagi kelas
menengah ke bawah, jelas itu terlalu berat. Tren punya semacam sihir yang tak
bisa ditolak: barangsiapa tak mengikutinya akan rentan tergilas.

Inilah yang memicu banyaknya merek sneakers KW atau Premium—kalau di Surabaya, tengok DTC atau Royal
Plaza. Semacam pembuktian bahwa atas nama style, atas nama tampil keren,
seseorang harus ikut dan menduplikasi gaya, meskipun itu palsu.

Tapi mungkin mulai pertengahan tahun lalu, fenomena hypebeast mulai dilawan dengan hastag
baru: #localpride. Merek sneakers pribumi
mulai bermunculan. Kualitas bisa diadu, tapi harga, terpaut jauh. Kalau 600
ribu adalah harga paling murah untuk sneakers
branded, maka mentok tak sampai 300 ribu atau bahkan separuhnya, kamu sudah
bisa mendapat alas kali yang tak kalah bagus.

Beberapa merek ini pelan-pelan mencoba melawan dominasi
merek besar. Mereka di antaranya: Warrior, Compass, Dragonfly, dan Kodachi.
Terasa tak asing? Ya, keempat-empatnya adalah merek yang sempat jaya di masa
lampau, tenggelam, bangkit kembali, dan jadi tren baru di pasaran.

“Biasae yang beli Dragonfly itu dari kalangan arek Bonek, buat
datang ke tribun. Mereka mungkin nggak pakai Adidas, tapi Dragonfly itu sama
kerennya,” ujar Iyok, pemilik toko Hemat Bergaya di Jl. Kertajaya Surabaya,
yang saya temui 25 Januari lalu.

Toko punya Iyok ini adalah satu diantara reseller sneakers non arus utama yang setiap
harinya ramai dikunjungi pengunjung. Salah satu pelanggannya, kata Iyok, adalah
anak tribun.

“Mungkin Adidas kemahalan, tapi Dragonfly sama bagusnya,
kok,” ujarnya.

Tren dilawan dengan tren. Tren yang membebani dilawan dengan
tren yang meringankan. Ini yang menurut saya keren. Tak hanya Dragonfly,
Warrior pun jadi merek sneakers yang
diminati. Hanya dengan kisaran 150 ribu, kamu sudah bisa membawa pulang merek
yang secara bentuk, mirip dengan Converse ini.

“Sebelum booming film Dilan (yang pemerannya memakai
Warrior, red), kita udah jualan dulu. Malah mulai rame dan dianggap nostalgia.
Yang beli nggak hanya kalangan anak muda, mahasiswa atau anak SMA, melainkan
juga orang-orang tua,” ujar Iyok.

Iyok bercerita kalau pernah ada pembeli Warrior dari
kalangan bapak-bapak yang sudah beruban—bayangkan berapa usianya. Bapak ini mengunjungi
toko bersama istrinya, dan memborong koleksi Warrior. Kata Iyok, orang itu
punya momen nostalgic, seperti
kebanyakan orang tua.

“Mereka bilang, ini dulunya merek sepatu basket. Lumayan
rame di era 80-90an. Buat nostalgia,” ujarnya.

Di toko kecilnya, kita bisa melihat display beragam jenis sepatu yang hampir-hampir mirip dengan brand besar. Kodachi dan Dragonfly dengan garis tiga, jelas terinspirasi Adidas. Sementara, Warrior punya kecenderungan bentuk yang sama dengan Converse. Dan Compass—yang paling mahal dari semuanya, sekitar 250 ribuan—seolah mengombinasikan Vans dan Nike SB.

“Secara kualitas, sama bagusnya. Cuman dari bahan pembuatan, sepatu-sepatu ini pakai bahan yang lebih murah. Yang bikin awet dan bagus, teknik pembuatannya sama kayak sepatu merek besar. Pakai teknik vulcanized, full mesin, demi menjaga kualitas,” ujarnya.

Vulcanized adalah teknik yang banyak dipakai merek besar seperti Vans, dalam memproduksi sepatu. Teknik ini menciptakan sol luar sneakers saat karet sepatunya masih lembut. Selanjutnya, sneakers akan dipanggang dengan suhu yang tak terlalu tinggi. Vulcanized jelas memengaruhi tingkat keawetan sepatu.

Hastag #localpride mungkin bisa dibenarkan meskipun aslinya, produk tersebut kebanyakan berasal dari Cina. Ini karena untuk produksi, Iyok mengaku  sneakers ini memang dibuat di Indonesia—dengan lisensi produk asli tentu saja.

“Kita semuanya memasok dari Bandung, karena memang sneakers ini ramenya dimulai di sana,” ujarnya.

Persepsi keren sering disalahartikan sebagai yang paling hype, yang paling banyak dipakai orang-orang, yang paling banyak diimani arus utama. Padahal keren sendiri konotasinya adalah menjadi diri sendiri. Kalau ada barang murah yang bagus dan berkualitas, mengapa harus memaksakan diri membeli sneakers berharga selangit?

Setidaknya, inilah opsi yang ditawarkan Warrior, Kodachi, dan yang lainnya.

“Kalau untuk Kodachi dan Dragonfly, bentuknya sekilas memang mirip, tapi ada bedanya kok kalau dilihat lebih jelas,” ujar Iyok.  Keduanya memang sama-sama punya pola klasik. Dalam olahraga, keduanya pun sering dipakai atlet voli karena punya kelenturan dan daya cengkeram bagus.

Dragonfly lebih dikenal sebagai sepatu capung karena punya sol yang melebar. Sementara kalau diamati, Kodachi tampak lebih kokoh karena punya semacam busa di bagian bawah tumit kaki. Tapi yang pasti, keduanya sama-sama bisa diandalkan di lapangan.

“Anak sekarang udah mulai menjadikan ini tren, di Surabaya juga udah mulai rame. Ya, walaupun masih kalah sama Jogja, Bandung, atau Malang. Prediksinya sih, tren ini bakalan bertahan lama. Malah mungkin akan meningkat terus, ” ujar Iyok.

Selesai ngobrol dengan Iyok, saya melihat koleksi sepatu di display sambil memerhatikannya satu-persatu.

“Kalau Kodachi cuman 100 ribu, mas,” ujarnya saat saya menimang-nimang sepatu legendaris yang mirip kepunyaan kakek saya ini.

Saya mengecek isi dompet, melirik sebentar ke arah Iyok, dan mengamati lagi sepatu klasik dengan tiga strip warna putih yang tampak bertenaga itu.

“Kayaknya cocok nih buat lari-lari,” batin saya, sambil tersenyum ke arah Iyok. Pilihan yang tak terlalu sulit.