Ibarat seleb Instagram adalah Inces Syahrini, maka Twitter adalah Ashanti. Andai Instagram itu Balajaer, maka Twitter adalah Baladewa. Atau jika Instagram adalah Ninja, maka Twitter adalah RX King.

Tidak setuju dengan perumpaan itu? Ora popo. Mbok pikir aku setuju?

Butuh kesetiaan yang kukuh bagi siapapun untuk bertahan menikmati Twitter di jaman Tik Tok ini. Pun hanya dengan penghayatan yang hakiki pula seorang netijen tetap istiqomah ngetwit ketimbang bikin Instastory.

Twitter kini jadi tempat untuk pulang. Ini seperti jejaka yang kembali ke RX King setelah kecewa karena meski sudah bawa Ninja eh tetep aja gebetan ditelikung sama Avanza rentalan.

Sesekali coba tengok akun Twitter-mu. Berapa tahun tak dibuka lagi? Mungkin sudah berdebu. Atau jaring laba-laba hinggap dimana-mana.

Barangkali ketika sedang menengoknya kau temukan lagi jejak-jejak kenangan lama yang mengajakmu menuju kenangan lainnya yang lebih indah.

Dengan diiringi tagar #SelamatDatangdiTwitter kini masyarakat pengguna sosial media berangsur pulang ke Twitter. Sekarang mulai tampak lagi teman-teman di feed kita yang sekadar me-retweet cuitan selebtweet. Atau nge-tweet ga penting. Bebas. Mosok kate ngetweet ae kudu penting?

Para pengguna Twitter, sebut saja bala Twitter atau Twitteristy, atau Twittet mania, kerap dipandang sebelah mata. Sudah nggak jaman lah katrok lah, inilah, itulah.

Fenomena itulah yang membuat saya ingin mencari alasan kenapa seseorang Twitter-an lagi. Setelah dikulik, saya menemukan empat alasan. Ini dia:

1. Alasan Idiologis

Mereka yang pulang ke Twitter kebanyakan kecewa dengan Instagram. Situs berbagi foto itu kini hanya menjadi ajang pamer. Alat narsis. Padahal semua itu semu. Palsu.

Instagram membuat kita menjadi orang lain. Mengikuti gaya hidup selebgram yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Apalagi penting-penting sangat. Nggak.

Sialnya, kita jadi merasa iri. Merasa bahwa segala sesuatu harus ditunjukkan, biasanya melalui insta-stories, bahkan sekadar screenshot chat dengan seorang teman yang dianggap lucu padahal garing.

Sebaliknya, Twitter tempat yang digunakan untuk mengagung-agungkan kemiskinan. Indahnya berbagi kepedihan melalui tagar #SobatMiskin.

Ada rasa tertekan ketika melihat feed Instagram rapi yang dimiliki oleh orang-orang. Mungkin juga ikut terbebani dengan keinginan memiliki feed yang rapi seperti itu sehingga kita berusaha mencobanya. Tetapi setelah dicoba, yang didapat hanya kehampaan. Kosong tanpa isi.

Twitter sudah seperti ajang berkumpulnya orang-orang proletar sementara Instagram adalah dunia semu kaum borjuis. Bau bedak. Menor lagi.

Kalau ada yang bilang Twitter hanya berisi politik, bisa jadi ada yang salah dengan following-mu. Stop ikuti akun yang menurutmu menyebarkan “penyakit”. Karena semua tergantung dari siapa yang kamu follow, cukup ikuti akun yang sesuai dengan keinginanmu.

Kalaupun kamu masih merasa perlu mengikuti orang-orang yang tidak sepaham denganmu, orang-orang yang tidak kamu suka, cukup jadikan ia sebagai bahan belajarmu untuk menerima segala perbedaan. No baper. Gimana, sudah cocok jadi @Greschinov belum?

2. Alasan Praktis

Twitter lebih up to date. Ini kelebihan yang paling dibanggakan oleh loyalis Twitter. Pergerakan informasi di Twitter begitu cepat dan masif membuat pengguna merasa tidak sia-sia menggunakannya karena ada sesuatu yang bisa didapat.

Adanya fitur trending topic membuat pengguna Twitter lebih leluasa mengetahui beragam isu lokal maupun global. Selain itu, Twitter kini akan menyarankan penggunanya beragam berita maupun tweet berdasarkan akun-akun yang kita follow.

Twitter berada di garda terdepan dalam penyebaran informasi maka tak heran jika pengguna Twitter lebih cepat mengetahui sesuatu yang viral dibanding pengguna media sosial yang lain seperti Facebook, Line bahkan Instagram.

Karena biasanya, apa-apa yang viral di Twitter baru akan diketahui oleh pengguna media sosial lain beberapa hari kemudian. Jadi jangan pernah menganggap loyalis Twitter itu usang. Karena ketika kamu baru membicarakan satu isu yang viral, kami dengan mudah akan menjawab: Telat!! Wes tauuu!!

3. Alasan Psikologis

Twitter cocok untuk melampiaskan perasaan. Kamu sedang galau akibat pacarmu lebih memilih push rank Mobile Legend dibanding balas chat dan angkat teleponmu? Atau pacarmu jarang kasih kabar padahal kamu sedang Long Distance Reladibohonginsip LDR?

Atau kamu tak punya pacar dan ingin sekadar galau saja? Atau kamu adalah seorang loser di kehidupan nyata sehingga ingin menjadi opinion leader di dunia maya dan diikuti banyak followers? Atau ingin menjadi pakar dari segala sesuatu hanya dengan modal googling dan kuota internet?

Hmm Twitter-lah tempat yang cocok untuk itu semua.

Tampilannya yang berbeda dengan Facebook serta adanya batasan karakter, entah kenapa, membuat Twitter jadi lebih cocok untuk membuang sampah-sampah yang menumpuk di kepala. Menjadi tulisan-tulisan pendek dengan emosi yang berbeda. Sedih maupun bahagia.

Kegiatan nggalau jadi lebih mudah hanya dengan ngetweet “kangen :(“. Hanya butuh beberapa detik dibanding membuat insta-stories dengan background hitam disertai tulisan kecil-kecil diiringi lagu Karena Kusanggup-nya Agnez Mo. Dunangis..

4. Alasan Ekonomis

Dari semua alasan di atas, inilah yang paling hakiki. Twitter lebih irit kuota. Betul, saya setuju, karena kuota untuk membuat satu insta-stories di Instagram, bisa digunakan untuk baca thread viral di Twitter, me-retweet jokes-jokes receh hingga mendapat banyak informasi lainnya. Karena itu pula Twitter begitu manunggal dengan pengguna sosial media yang fakir kuota.

Namun, penggunaan alasan Twitter lebih irit kuota dibanding media sosial lain sebagai alasan untuk main Twitter lagi, bagi saya, cukup menggelikan. Karena sebenarnya, kalian aja sih yang fakir kuota.