PASCA gempa dan tsunami yang menghantam Palu dan Donggala, muncul banyak berita. Dan hoax tentu saja. Kemudian disusul kabar mengenai gempa yang menghantam Sumba Timur. Disusul pula dengan berita yang menyebutkan bahwa Anak Krakatau mulai berdahak, dan diikuti ratusan gempa kecil.

Padahal, belum kering air mata kita terhadap gempa di Lombok. Yang sampai saat ini belum sepenuhnya bisa bangkit.

Melihat fenomena tersebut, seperti biasa, muncul analisis di medsos yang bikin kita muntah. Mulai mengaitkan gempa Palu dengan penetapan tersangka Gus Nur, menggoreng bencana dengan isu politik terkini, hingga menyebut bencana itu sebagai azab dari Allah.

Kemudian, muncul analisis dan peringatan serius mengenai potensi gempa di Jawa. Terutama di Jakarta dan Surabaya.

Lalu, masyarakat awam ini harus bagaimana? Kok seram sekali kelihatannya? Karena jawabannya, sejak awal kehidupannya, manusia memang rentan punah.

Skala hidup manusia paling banter 50-60 tahun. Tentu sulit memahami denyut kehidupan alam yang mencapai jutaan tahun tiap siklusnya.
***

Analisis serius mengenai potensi bencana yang mungkin timbul di Jakarta dan Surabaya memang benar. Tapi, yang harus diketahui, mulai kamu, saya, dan semua orang di Surabaya ini lahir, kita memang selalu hidup dalam bahaya laten seperti itu.

Kita selalu akan dibayangi dengan potensi bencana.

Indonesia adalah salah satu negara dengan patahan (sesar) lempeng yang paling banyak. Juga, dikelilingi sabuk gunung berapi. Karena itu, Indonesia dikenal sebagai negara cincin api. Yang berarti, negara ini selalu konstan terancam dengan perubahan geologis. Yang pasti, hal itu sering terjadi di negara dengan kondisi geologis seperti Indonesia.

Jika khawatir, maka pertanyaannya, kenapa khawatir sekarang? Toh, sepanjang usia, kita sudah hidup dalam kemungkinan seperti itu.

Lebih luas lagi, bumi itu hidup, Rek. Alam mempunyai siklus dan denyut kehidupannya sendiri. Perubahan geologis, salah satu contohnya.

Jika Anda melihat Pegunungan Himalaya, itu sebenarnya terjadi dari tabrakan dua lempeng benua. Saling menumbuk dan mengangkat, sehingga tercipta pegunungan.

Tapi, itu proses geologis yang terjadi selama jutaan tahun.

Itulah kenapa, manusia sering salah paham memaknai perubahan geologis itu sebagai “bencana”. Itu sebenarnya adalah proses geologis yang alami. Manusia gagal memahaminya karena skala denyut kehidupan manusia itu berbeda dengan alam.

Manusia menyebutnya bencana, ketika fenomena alam itu terjadi di titik di mana banyak manusianya. Sehingga terjadi banyak kematian.

Terkadang, bencana kerap menyadarkan manusia. Bahwa manusia sendiri sebenarnya tak lebih dari makhluk kecil yang tak berdaya di hadapan alam.

Ia hanya semacam gulma pengganggu, namun dengan ambisi besar untuk memanipulasi alam untuk kepentingannya sendiri.

***

Sepanjang kehidupan di bumi, total sudah ada lima kepunahan besar. Kepunahan terakhir terjadi 65 juta tahun lalu. Ketika ada satu meteor selebar 75 km yang menghantam kawasan Yucatan, Meksiko.

Akibatnya sungguh mengerikan. Terjadi gelombang hawa panas yang langsung membakar dalam radius ratusan kilometer dari titik tumbukan. Menimbulkan gelombang kejut yang memicu tsunami besar-besaran.

Awan bekas tumbukannya terlempar dan menutup atmosfer. Menghalangi sinar matahari. Membuat iklim berubah total.

Dan yang terpenting, membuat dinosaurus punah. Hewan-hewan jumbo itu tak mampu beradaptasi dalam perubahan cuaca yang ekstrem, dan punah karenanya.

Meski demikian, kepunahan itu juga blessing in disguise. Memungkinkan spesies cerdas, yaitu Homo sapiens alias kita, untuk tumbuh dan berkembang.

Sejak nenek moyang kita mulai mengecat gua-gua di Prancis, sejarah umat manusia baru tercipta 35 ribu tahun yang lalu. Usia yang masih sangat muda, namun juga membuktikan bahwa kita adalah spesies yang berbeda.

Dalam waktu yang relatif singkat, manusia telah mengembangkan peradabannya hingga seperti sekarang ini.

Keberhasilan Homo sapiens di bumi juga begitu dominan dengan menyingkirkan spesies-spesies Homo lainnya. Di antaranya, Homo neanderthal dan Homo denisovan. Masih belum jelas bagaimana Homo sapiens bisa memusnahkan sepupu spesiesnya. Tapi, pada akhirnya, Homo sapiens-lah yang kini menguasai bumi.

***

Meski resmi menjadi penguasa di bumi, sebenarnya hidup manusia sangat rentan. Mereka belum mampu merekayasa alam, atau menandingi keperkasaannya. Dewasa ini, banyak potensi kepunahan manusia. Inilah potensi-potensinya.

Yang pertama adalah tabrakan meteor. Sebagaimana kita tahu, sangat banyak benda langit (estimasi terakhir menyebutkan bahwa tiap satu pasir di bumi ada 100 juta benda di langit), dan darinya besar sekali kemungkinan terjadi tumbukan.

Tiap hari, sebenarnya sekitar 1.000 ton meteor menabrak bumi. Namun, gesekan dengan atmosfer membuat benda langit itu terbakar. Celaka jika ada benda langit selebar 10 km saja yang lolos dan kemudian menabrak bumi.

Jika ini terjadi, maka wasalam. Kematian masal pasti terjadi. Dan sampai sekarang, belum ada satu pun teknologi manusia yang mampu menghadangnya. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa.

Yang kedua adalah peristiwa geologis seperti supervolcano yang meledak. Dulu, banyak sekali gunung dengan skala besar-besar yang meledak dan menimbulkan bencana bagi kehidupan. Sebut saja Gunung Toba. Letusan gunung berapi hebat-hebat seperti Krakatau, Tambora, dan Pinatubo tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan letusan gunung purba.

Letusan supervolcano dipastikan akan mengakhiri 70-80 persen kehidupan di muka bumi. Memang sekarang terlihat tidak ada potensi itu. Tapi, pertanyaannya, jika di zaman dulu kerap terjadi, kenapa tidak di zaman sekarang?

Oya, jika kamu googling supervolcano Yellowstone, yang kamu baca akan membuat merinding. Sebab, di dalam perut taman nasional di AS yang terkenal itu, berdiam sebuah supervolcano.

Celakanya, dapur magmanya terus memasak dan kabarnya sudah mendekati matang. Letusannya akan membuat Krakatau seperti petasan anak-anak belaka.

Yang ketiga adalah wabah penyakit. Dalam sejarah kehidupannya, manusia memang mencatatkan prestasi baik di bidang kesehatan. Kita telah mengalahkan cacar. Flu yang dulu begitu mematikan di awal abad ke-20, menjadi penyakit biasa saja.

Tapi, jangan lupa, bakteri dan virus pun berevolusi. Dan yang terakhir, evolusi mereka bisa membuat makhluk kecil-kecil ini resistan dengan kebanyakan antibiotik bikinan manusia.

Ini artinya kiamat. Sebab, tergores pisau kecil saja bisa membunuhmu. Karena bakteri akan terus memangsa luka kita tanpa bisa dicegah.

Yang keempat, karena kebodohan kita sendiri. Paling sederhana analoginya. Karena impulsif, Donald Trump dan Vladimir Putin berkelahi, kemudian memencet tombol nuklir masing-masing untuk saling serang. Hasilnya adalah tiji tibeh. Mati siji mati kabeh.

Atau kita terlalu gegabah mengeksplorasi alam, sehingga keseimbangan alam terganggu. Siapa tahu.

***

Lalu apa yang bisa dilakukan manusia? Ya melakukan sebaik mungkin. Jika ada gempa dan tsunami seperti di Palu dan Donggala, bantulah sebisa yang kamu lakukan.

Dukung mereka, percepat kebangkitan dan rekonstruksi daerah. Bangun daerahnya sesuai dengan potensi bencana untuk meminimalkan jumlah korban.

Jika tidak bisa seperti itu, berdoalah dalam hati untuk mereka yang tertimpa musibah. Jangan sekali-kali sangkut pautkan dengan politik. Itu malah menjijikkan.

Juga, jangan kait-kaitkan dengan agama. Gempa dan tsunami adalah peristiwa geologis biasa. Bukan azab. Sebab, di sana tidak hanya ada orang jahat. Banyak juga orang baik.

Lagi pula, jika mengaitkan gempa dan badai dengan azab, saya beri tahu, di Mars sana tiap hari ada badai pasir yang hebat. Lah badai pasir itu mau mengazab siapa? Wong Mars tidak berpenghuni kok. Mosok mau mengazab bebatuan yang ada di sana?

Bagaimana jika kemudian satu dari empat hal yang mengakibatkan kepunahan manusia itu terjadi? Berusaha amanlah sekuat tenaga.

Tapi, jika tidak bisa, segeralah datangi orang tercintamu. Genggam tangannya, ciumlah dia, dan bersamanya di saat-saat terakhir. Tidak ada akhir yang lebih indah dari itu. Sembari menyanyikan akhir lagu Bread berjudul If: and you and I would simply fly away