Jokowi berhasil mencuri hati masyarakat Indonesia dua hari terakhir ini. Momen pembukaan Asian Games pada Sabtu lalu (18/8) berhasil mendongkrak namanya. Aksi video kreatif ala film eksyen Barat, memasuki venue dengan naik motor, harus diakui merupakan ide tak biasa yang sangat brilian. 

Ditambah dengan adegan pembukaan yang membuat bungah banyak dada warga Indonesia. Bisa dipastikan, elektabilitas politikus asal Solo tersebut terkerek tinggi. Masyarakat pun makin jatuh hati setelah Jokowi melakukan gerakan dayung ketika Via Vallen berdendang.

Jika pemilu presiden dilakukan hari ini, bisa dipastikan Jokowi akan melenggang mudah menjadi presiden RI untuk kali kedua. 

Namun, pilpres tak dilangsungkan hari ini. Tapi masih sembilan bulan lagi. Dalam politik, waktu sembilan bulan relatif cukup panjang. Apa pun bisa terjadi. Dan, kubu Jokowi belum bisa memecahkan problem terbesarnya: KH Ma’ruf Amin. 

Saya tak akan membahas lagi soal kenapa Ma’ruf Amin, bukannya Mahfud MD. Sudah dijelaskan banyak orang dan memang saat itu Jokowi tak punya pilihan. Memaksakan Mahfud MD bisa berarti Jokowi bisa-bisa tak bisa maju, tak ada lagi back up NU, atau muncul poros ketiga. Pendek kata, koalisi pasti berantakan. 

Satu hal yang harus segera digarap serius adalah meyakinkan publik soal KH Ma’ruf Amin. Soal komitmen terhadap demokrasi, pluralitas, dan kompetensi menangani berbagai permasalahan kenegaraan.

 

Hal yang paling ditakuti kubu Jokowi adalah tergerusnya modal suara dukungan. Terutama kelompok aktivis hukum-HAM dan satu elemen: Ahokers. Juga, kelompok pemilih muda yang menurut Direktur Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi jumlahnya mencapai 55 persen. 

Hingga sekarang, kubu Jokowi belum mempunyai jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan: kenapa saya harus memilih KH Ma’ruf Amin? 

Lepas dari kadar keulamaan beliau yang tak perlu diragukan lagi, rekam jejak rais am PBNU itu tidak memuaskan di bidang hukum, HAM, dan pluralitas. Semua masih ingat betapa fatwa sesat yang dikeluarkannya untuk Ahmadiyah mendorong terjadinya kekerasan dan persekusi di banyak tempat. 

Yang paling diingat Ahokers dan yang paling sulit diterima adalah kesaksian dalam sidang kasus penistaan agama mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. 

Dia bersaksi bahwa pejabat yang akrab dipanggil Ahok itu memang telah menista agama. Kesaksian yang mengantarkan majelis hakim menyatakan bahwa Ahok terbukti melakukan penistaan agama dan dijatuhi hukuman penjara. Sesuatu yang masih sangat diingat Ahokers hingga sekarang. 

Bahkan, di lini masa media sosial, penampilan ciamik Jokowi di opening ceremony Asian Games tak membuat mereka luluh. Nyaris tidak ada komentar positif sama sekali dari para Ahokers tentang Jokowi. 

Mereka lebih suka bicara tentang kebanggaan sebuah bangsa. Lain halnya dengan para cebong (pendukung Jokowi militan) dan kampret (para haters Jokowi militan).

Ditambah lagi kepergian KH Ma’ruf Amin ke Mekkah dan rencana menemui imam besar FPI yang sedang dalam pelarian, Habib Rizieq. Pertemuan keduanya, apalagi kemudian jika ada deal, akan semakin mematahkan hati para aktivis. 

Untuk apa deal dengan Habib Rizieq? 

Dengan seseorang yang dianggap vigilante berjubah ulama? Apalagi, statusnya masih bermasalah secara hukum. Ini bisa dianggap hukum bagi kubu Jokowi bisa ditekuk untuk kepentingan politik.  

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya basis suara Jokowi tinggal pendukung militan dan NU. Paling tidak, minimal 60 persen nadhliyin akan mencoblosnya. Ahokers, kelompok aktivis hukum-HAM, dan pemilih milenial akan tetap menunggu. Atau malah sudah memutuskan golput.  

Jumlahnya mungkin secara riil tidak banyak. Tapi, mereka rata-rata adalah orang yang berpengaruh di lingkungan. Mereka juga opinion leader. Semakin mereka kecewa, semakin besar pula amplitude kekecewaan itu. Yang pada gilirannya akan menggerus basis dukungan Jokowi sendiri. Kampret akan mengipasi mereka. Cebong pasti akan segan untuk meng-counter

Ini adalah sesuatu yang harus segera diantisipasi, jika Jokowi masih ingin menjadi presiden untuk kali kedua. 

Selain Jokowi harus sering-sering tampil ciamik (setidaknya seperti dalam opening ceremony Asian Games kemarin), satu hal yang harus segera digarap serius adalah meyakinkan publik soal KH Ma’ruf Amin. Soal komitmen terhadap demokrasi, pluralitas, dan kompetensi menangani berbagai permasalahan kenegaraan.

Di linimasa, gugatan dan pertanyaan terhadap komitmen KH Ma’ruf Amin sudah bertebaran. Dan itu diajukan dengan baik, oleh orang-orang yang integritasnya diakui. Bahkan counter-nya tak boleh sembarangan. Harus cerdas, bernas, dan bersifat dialogis. Sesuatu yang tak gampang dilakukan.

Dalam sembilan bulan ke depan, KH Ma’ruf Amin terus menjadi titik lemah kubu Jokowi. Bukan oleh lawan, tapi oleh konstituen yang dulu mendukung Jokowi. Kecuali jika KH Ma’ruf Amin membuat pernyataan besar. 

Namun, tampaknya hampir mustahil dan kemungkinan besar paling-paling KH Ma’ruf Amin akan dibuat irit bicara.   

Sementara itu, kubu Prabowo-Sandi belum mempunyai jurus ampuh untuk menghantam elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Masih berkutat pada isu yang itu-itu saja. Isu yang tetap dikuatkan bukan untuk menggerus elektabilitas lawan, tapi mengikat massa pendukung.

Tagar #2019GantiPresiden memang cukup bagus, tapi sejauh ini belum dibarengi dengan alasan yang kuat. Dalam artian, alasan yang benar-benar sulit dibantah lawan. 

Sepertinya, koalisi parpol di kubu Prabowo-Sandi lebih fokus dalam pemenangan Pileg, yang digelar bersamaan. Sebab, meraih kursi legislatif banyak-banyak menjadi sangat penting. 

Lapangan pemilihan presiden 2024 akan rata. Jokowi sudah tak bisa maju lagi, generasi tua sudah habis, tinggal nama-nama dari generasi yang lebih muda yang akan muncul.