DNK

Pelajaran Politik dari Pasangan Dildo

Pelajaran Politik dari Pasangan Dildo

SEORANG politisi sebuah partai kawakan mengeluh kepada saya beberapa waktu lalu. Begini keluhannya: ’’Yok opo carane bro nggaet pemilih milenial? Opo maneh onok Dildo iku?’’ katanya.

Dildo yang dimaksud adalah pasangan capres-cawapres fiktif yang eksis di dunia maya yang kini lagi trending.

Politisi itu mengaku sudah melakukan sejumlah gimmick. Baik di media sosial, maupun di acara darat. Tapi, tetap saja minim respon.

Jika posting, maka yang like paling banter lima belas jempol. Sebelum ada pasangan Dildo, kampanyenya kadang masih bersambut.

Namun, setelah pasangan Dildo menjadi hits dalam dua bulan terakhir, kampanyenya mati kutu. 

’’Terus apa yang harus saya lakukan?’’ keluhnya, dengan nada tanya. Terus terang, saya juga tak tahu jawaban pastinya.

Tapi, setidaknya ada beberapa hal yang bisa ditelaah.

Kenapa Pasangan Dildo Beroleh Banyak Simpati?

Ada sejumlah hal. Yang pertama, gaya kampanye pasangan Dildo menggunakan bahasa dan kreativitas yang sama dengan mayoritas netizen. Campaign pasangan ini sebenarnya sudah dimulai sejak Mei 2018 lalu. Namun, tidak terlalu bersambut.

Resep yang digunakan sama seperti akun Bude Sumiyati di Instagram. Menggunakan wajah asli orang yang bukan protagonis, kemudian diberi caption receh dan khas shitposting. Seperti akun Bude Sumiyati, jika ada keuntungan finansial (dari monetizing), maka yang paling banyak mendapat porsi adalah figur asli.

Seperti yang dilansir BBC, admin pasangan Dildo ada delapan pemuda dengan rentang 18 tahun sampai 23 tahun dari sejumlah kota. Mereka bahkan tidak pernah bertemu muka satu sama lain. Hanya, berkoordinasi via online.

Visi mereka bisa bertemu untuk membuat fanspage shitposting capres-cawapres. Ide mereka bersambut. Dalam waktu singkat, bahkan jumlah followers mereka mengalahkan akun resmi PSI.

Bukan hanya itu, followers mereka adalah followers yang aktif. Yang ikut menggandakan kampanye mereka.

Luar biasanya, meme dan akronim yang dipakai meski segar, namun sama sekali tak ramah bagi kaum perempuan dan anak-anak. Memang ada sejumlah meme yang berisi pesan serius seperti reklamasi, tapi 90 persen dari meme mereka memarodikan kondisi politik dengan mesum dan nakal.

Lihat saja akronim mereka. Mulai dari partai pengusung (Partai untuk Kebutuhan Iman), nama koalisinya (Koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asyik. Saya sampai tidak tega sendiri mengakronimkannya, hahaha), hingga nama program-programnya.

Bahkan, balasan komen mereka di kolom komen pun juga rusak-rusak. Seperti ada yang tanya saat pergantian tahun baru. ’’Apa hukumnya jika memasang petasan di mulut sendiri?’’ pasangan Dildo pun menjawab absurd: ’’Loh, bagaimana jika petasannya itu mengeluarkan sperma?’’

Anehnya, semua pada tertawa. Tak terkecuali akun-akun yang ber-PP perempuan sekalipun. Mereka bisa menerimanya.

Yang kedua adalah mereka terbantu oleh situasi politik Indonesia terkini sendiri. Ini yang harus menjadi catatan semua pelaku politik. Entah itu capres, timses, parpol, maupun politisi itu sendiri.

Naiknya dukungan pasangan Dildo ini sebagai pertanda muaknya masyarakat, terutama netizen ya, terhadap polarisasi politik yang ada. Manuver politik dengan narasi agama, hoax, saling serang dengan bahan argumentasi kelas anak TK, tak pernah mau saling mendengar.

Semua hal ini membuat banyak warga yang muak.

Bahkan, rasanya menjadi cebong (pendukung Jokowi) atau kampret (pendukung Prabowo) sekarang sudah menjadi seperti aib.

Scroll saja kolom komentar di fanspage pasangan Dildo. Jika ada salah satu komentar yang mengisyaratkan dukungan ke salah satu pihak, maka akan langsung di-bully ramai-ramai.

Seharusnya ini menjadi pelajaran bagi kedua timses untuk instropeksi. Bahwa, manuver yang digunakan sekarang untuk menarik simpati publik, kini tak lagi efektif. Memuakkan malah.

Dengan situasi seperti itu, kedatangan pasangan Dildo ini bisa menjadi kanal bagi masyarakat yang muak. Mereka bahkan merasa lebih nyaman dengan pasangan yang mengeluarkan banyak kata mesum (tapi lucu), ketimbang serius-tapi-sebenarnya-kamu-jahat-tebar-fitnah-lagi ala politikus sekarang.

Satu hal lagi, pasangan Dildo ini bebas kepentingan. Dalam artian, tidak berpihak kepada salah satu mafia tertentu.

Sehingga, mereka merasa Dildo itu adalah representasi netizen sendiri. Dan akan membela habis-habisan karakter capres-cawapres fiktif ini dalam upaya apa pun untuk mengkapitalisasinya.

Namun, apa pun itu, ini cukup melegakan bagi Indonesia. Setidaknya, perdebatan njelehi antara cebong vs kampret tak lagi dominan di timeline. Bahkan, banyak para cebong dan kampret yang kemudian beralih postingan lucu-lucu. Senada dengan postingan pasangan Dildo.

Dengan caranya sendiri, pasangan Dildo telah meredakan suhu politik Indonesia. Dildo mengajari bahwa politik itu harus berpihak pada keinginan rakyat. Politik itu harus lucu dan menyatukan, tidak memecah belah. Politik itu harus jujur, tidak munafik (yang dilambangkan dengan penggunaan kata-kata mesum).

Siapa saja yang Dirugikan

Ketika membuat kebohongan award, siapa pun paham bahwa PSI tengah melakukan gimmick politik. Sebagai partai baru, dan mengklaim sebagai partai generasi milenial, PSI memang harus melakukan banyak langkah berbeda khas milenial.

Salah satu cara yang dipakai adalah Kebohongan Award ini. Mereka menganugerahkan piagam memalukan itu kepada Prabowo Subianto (atas pernyataan kontroversial soal selang darah RSCM yang dipakai 40 kali), Sandiaga Uno (yang mengatakan bahwa dia membangun Tol Cipali tanpa utang, dan belakangan terungkap bahwa pernyataan itu bohong belaka).

Andi Arief yang cuitan di twitternya menuai kecaman karena menyebut adanya tujuh kontainer berisi 70 juta surat suara yang telah dicoblos dan belakangan resmi dinyatakan hoax juga dapat award.

Well, tiga tokoh tersebut memang keliru pernyataannya dan PSI tengah melakukan gimmick politik.
Tapi, melakukan gimmick politik seperti itu di tengah kejayaan pasangan Dildo? Ini adalah blunder besar bro dan sis.

Seperti yang disebutkan di atas, pasangan Dildo mengajari bahwa politik itu harus lucu, dan tidak memecah belah. Maka, penggunaan gimmick politik yang berpotensi membawa kebencian seperti penganugerahan Kebohongan Award tentu saja tak bisa diterima masyarakat.

Maka, kini PSI pun menjadi sorotan netizen. Gimmick politik ala millennial berupa penghargaan buruk malah menjadi bulan-bulanan. PSI dianggap kurang punya etika politik yang baik. Karena toh mereka juga mengambil jalan politik formal. Sama dengan orang yang dianugerahinya penghargaan buruk tersebut.

Namun, alasan utama PSI mendapat kritikan adalah karena keberpihakannya yang jelas. Tiga tokoh yang dianugerahinya semua berasal dari oposan. Akan lain ceritanya jika PSI memberikan penghargaan itu kepada tokoh yang juga dikenal sebagai cebong semacam Abu Janda atau Deny Siregar, misalnya.

Tapi, PSI tak sendiri. Manuver dari parpol manapun untuk mendekati generasi milenial tampaknya akan makin sukar setelah pasangan Dildo ini merajalela. Parpol kini dianggap menjadi monster, dan para politisi tampaknya tak lebih dari penjahat semuanya.

Selain parpol, dua pasangan capres-cawapres yang berlaga pun juga kena getahnya.

Kubu pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pun kini pusing dibuatnya. Selama ini, kubu mereka lah yang kerap mengisi wacana publik dengan kampanye-kampanye kreatif. Seperti iklan-iklan Si Manis Jembatan Ancol, pasangan kekasih Papua, dan sebagainya.

Juga gimmick yang dipakai sangat milenial. Jokowi pun juga kerap tampil khas milenial. Sepatu sport, jaket kulit, naik motor.

Nah, ceruk kampanye ini sekarang sudah dihabisi oleh pasangan Dildo. Pasangan capres-cawapres fiktif ini telah membawa kampanye milenial ke next level. Sehingga, kampanye dan gimmick politik kreatif yang akan mereka luncurkan sekarang, pasti akan tenggelam dalam hiruk-pikuk para pendukung Dildo.

Citra milenial kubu petahana ini pun tiba-tiba terkesan hilang.

Di sisi lain, kubu Prabowo-Sandi pun juga cenut-cenut kepalanya. Sebab, gaya politik mereka justru antitesis dari gaya kampanye Pasangan Dildo. Santun, mengedepankan narasi agama, dan celakanya, banyak pendukungnya yang kemudian terbukti menebar hoax.

Bukan hanya sekedar tenggelam, timses pasangan Prabowo-Sandi ini pun harus memutar otak membuat planning kampanye baru jika ingin meraih suara para milenial.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?

Sebenarnya, ada yang bisa dilakukan para politisi untuk meraih kembali suara milenial. Tapi, pasti sangat susah dilaksanakan. Yakni, menjadi jujur, asyik, dan benar-benar berpihak kepada rakyat.

Sebab, hal-hal itulah yang kenapa membuat pasangan Dildo menarik simpati. Tinggal melihat seperti apa karakter mereka, dan persis seperti itulah keinginan masyarakat. Sebab, pasangan Dildo sebenarnya hanyalah refleksi.

Tak perlu (dan tak mungkin juga) berubah untuk menjadi bebas kepentingan seperti pasangan Dildo.

Tapi, setidaknya tunjukkan keberpihakan ke rakyat. Bukan dengan kata-kata, yang biasanya kemudian menjadi hoax, tapi dengan segala kesungguhan hati. Berani jujur. Kata dan perbuatannya itu yang menyatukan. Bukan malah memecah belah. Bukan yang tuding sana-sini dengan bahasa yang kasar.

Tapi, yang terpenting, resapi keinginan warga, dan berusahalah sekuat tenaga untuk memperjuangkannya.

Salam tronjal-tronjol