Sedari awal, saya tak tertarik sedikit pun menonton Joker. Saya memang tak pernah menjadi penggemar film superhero dan sejenisnya. Pada Batman saja saya tak peduli, apa lagi pada Joker.

Maka, pada saat orang-orang heboh membicarakan film Joker, saya justru menanti waktu yang tepat untuk menonton film Bebas karya Riri Riza.

Ketidaktertarikan saya pada film-film action itu karena toleransi yang amat rendah terhadap adegan kekerasan, secemen apa pun adegan itu menurut orang-orang. Apalagi film Joker yang dianggap kelam dan mengerikan.

Mengapa pula saya harus mengeluarkan uang untuk menyaksikan adegan-adegan yang tidak ingin saya saksikan?

Keputusan saya untuk tidak mengikuti tren menonton film ini ternyata sulit diterima oleh sebagian orang. Setelah susah payah membujuk saya untuk nonton film Joker, seseorang sampai harus mengirim pesan pada suami saya.

“Luqman, kamu nonton Joker, ya. Ajak Lya. Saya yang bayar.”

Wah, wah, wah. Tentu ini tawaran yang sangat layak dipertimbangkan. Langsung runtuh iman saya untuk tidak nonton film bunuh-bunuhan. Hahaha.

Begitulah, akhirnya saya menonton Joker, saat film ini sudah mulai jarang dibicarakan orang dan penonton di dalam bioskop pun tak penuh lagi. Lalu, apa pendapat saya tentang film ini?

Emang pendapatmu penting, Mbak?

Ya kan saya dibayari nonton untuk dimintai pendapatnya, hehehe.

Saya blas nggak terkesan dengan film Joker. Maap, saya langsung ngegas. Bukan karena film ini buruk, tapi lebih karena apa yang disajikan dalam film ini bukan sesuatu yang baru bagi diri saya.

Apa yang dialami oleh Joker adalah gambaran apa yang dialami oleh Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Perlakuan buruk yang mereka terima dari lingkungan adalah salah satu hambatan terapi yang paling dipusingkan oleh praktisi kesehatan mental di mana saja mereka berada.

Seperti yang pernah diceritakan oleh seorang perawat jiwa pada saya, begitu banyaknya pasien yang membaik di RSJ, namun segera kambuh kembali ketika dikembalikan pada lingkungan asalnya yang tak ramah.

Joker membungkus hampir semua persoalan rumit penanganan gangguan jiwa dalam satu kemasan. Ia dibesarkan dalam pengasuhan seorang ibu yang menderita gangguan psikotik.

Saat masih kecil, Joker mendapat kekerasan yang membuat kepalanya mengalami cidera. Cidera kepala itu menimbulkan kerusakan otak dan memicu gangguan perilaku tertawa yang tak bisa ia kendalikan. Hal ini menyebabkan gangguan emosi pula akibat respon negatif lingkungan terhadap keganjilan perilakunya.

Dengan segala faktor risiko yang ia miliki, Joker kemudian kehilangan akses pada obat-obatan yang ia butuhkan. Saya pikir, praktisi kesehatan mental mana pun akan menetapkan prognosis Malam (buruk) pada kondisi Joker.

Banyak orang yang melaporkan timbulnya perasaan tertekan dan sedih setelah menyaksikan berbagai tekanan hidup yang dialami oleh Joker.

Seorang teman menceritakan, ia kehilangan selera makan dan menangis tanpa sebab selama tiga hari setelah menonton film ini. Sebagian yang lain menceritakan munculnya rasa empati terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oleh Joker. Semua tindak kekerasan itu seolah menjadi bisa dipahami.

Lalu, entah siapa yang memulainya, mulai tersebarlah di media sosial sebuah kutipan kalimat dengan tagar #terJoker:

“Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.”

Di tengah viralnya kalimat ini, Afi Nihaya Faradisa adalah satu-satunya akun dalam daftar pertemanan saya yang mengkritisi kalimat ini. Menurut Afi, kalimat ini salah kaprah dalam memahami perilaku Joker.

Saya sepakat dengan Afi, saya pun merasa ngilu-ngilu gimanaaa gitu membaca kesimpulan ini. Bahkan di saat kita sudah berada dalam sudut pandang orang yang mengalami gangguan jiwa, stigma gangguan jiwa pun masih kuat mencengkram kita.

Kita cenderung memandang kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh Joker sebagai aksi kejahatan, alih-alih memahaminya sebagai efek dari gangguan jiwa yang tak tertangani. Maka dari itu, kalimat yang lebih pas menurut saya adalah, “Aksi melukai orang lain dan diri sendiri bermula dari gangguan jiwa yang tak tertangani.”

Joker bukan film yang bisa saya nikmati. Banyak adegan yang saya lewatkan dengan menutup mata dan telinga. Meskipun demikian, saya ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya pada semua orang yang terlibat dalam pembuatan film ini.

Bagi saya, mereka semua berhasil “memaksa” jutaan penonton untuk melihat dunia dari sudut pandang seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Sungguh, hal ini adalah capaian kampanye kesehatan mental yang sulit dicapai oleh praktisi kesehatan mental melalui psikoedukasi konvensional.

Catatan: Artikel ini ditulis sebagai laporan pertanggung jawaban pada Wahyudi Akmaliah yang mensponsori saya menonton Joker.