DNK

Hegel Dan Marx Tidak Laku Di Sini

Hegel Dan Marx Tidak Laku Di Sini

Siapa pernah membaca buku filsafat atau teori ilmu sosial pasti pernah dengar dua nama raksasa Jerman, Hegel dan Karl Marx. Keduanya bisa dibilang guru dan murid, tetapi bersimpang jalan. 
Pangkal cekcoknya, meneruskan ‘perkelahian’ filsafat Plato dan Aristoteles. 

Plato bilang “ada” yang sejati (the really real) adalah “ada” yang ada dalam pikiran. Pikiran mendahului kenyataan. Ada dalam kenyataan, sekadar manifestasi ada dalam pikiran yang tidak sempurna. 

Contoh, patung adalah manifestasi ide pemahat. Kue adalah penjelmaan ide baker. Kuda adalah perwujudan ide Pencipta. Sebelum mewujud, seluruhnya tercetak dalam ide sang pembuat dalam cetakan yang sempurna. 

Karena itu, jika ada patung yang rompal, kue yang bantat, atau kuda yang pincang—menurut Plato—itu sama sekali tidak mengurangi konsepnya yang sempurna. 

Plato pendiri aliran rasionalisme. Filsafat Plato melahirkan tradisi berpikir deduktif. 

Aristoteles menyanggah teori Plato. Menurutnya, dualisme plato menggandakan kenyataan menjadi dua: “ada” di pikiran dan “ada” dalam kenyataan. 

Padahal, menurut Aristoteles, ide tercipta karena kenyataan. Ide tentang kuda, misalnya, ada setelah melihat kenyataan kuda. Kenyataan mendahului pikiran. 

Aristoteles pendiri madzhab empirisisme. Filsafat Aristoteles mendorong tradisi induktif berbasis riset empirik. 

Perkelahian Plato dan Aristoteles kelak diteruskan oleh Descartes (mewakili tradisi Perancis) melawan Hume (mewakili tradisi Inggris). Cekcok ini reda oleh campur tangan raksasa Jerman bernama Immanuel Kant. 

Kant bilang rasionalisme benar separo, empirisisme benar separo. Pengetahuan yang kita peroleh, kata Kant, adalah hasil sintesis pikiran dan kenyataan, campuran dari unsur-unsur apriori dan aposteriori. Filsafat kritis Kant membagi tiga jenis pengetahuan yaitu pengetahuan analitis apriori, sintesis aposteriori, dan sintesis apriori.

Kant menjembatani cekcok berabad-abad antara aliran rasionalisme dan empirisisme.

Seorang pengagum Kant bernama Hegel, tak sepenuhnya mengekor junjungannya. Hegel melihat ide manusia berkembang dalam sejarah dalam pola dialektis. Dia mengamati bagaimana perang sengit rasionalisme melawan empirisisme berujung pada sintesis Kant. 

Rasionalisme itu tesis, empirisisme antitesis, filsafat kritis Kant sintesis. Gerak dialektis ini dipakai Hegel untuk melihat gerak sejarah. Individu itu tesis, masyarakat antitesis, negara sintesis. 

Negara adalah penjelmaan puncak dari ide-ide tentang individu dan masyarakat. Marx, yang pernah mengaku sebagai Hegelian muda, selanjutnya mengkritik dialektika Hegel.
 
Marx setuju dengan teori dialektika sejarah. Tetapi Hegel keliru karena meletakkan dialektika di atas atas kepalanya. Menurut Marx, sejarah tidak bergerak di aras dialektika roh, tetapi dialektika di basis produksi material. 

Sejarah adalah wujud pertentangan antara corak-corak produksi dalam masyarakat. Teori ini dikenal dengan materialisme historis-materialisme dialektis.

Filsafat Hegel dekat dengan rasionalisme Plato, Marx melanjutkan empirisisme Aristoteles dalam corak revolusioner. Yang diperlukan orang bukanlah menafsirkan kenyataan, kata Marx, tetapi mengubahnya. 

Bukan kesadaran yang menentukan realitas, tetapi realitaslah yang membentuk kesadaran. Kenyataan dalam pengertian Marx adalah corak-corak produksi ekonomi.  Ekonomi adalah basis, sementara ideologi, agama, budaya, dan politik adalah superstruktur. Superstruktur ditentukan basisnya.  

Basis produksi masyarakat primitif, yang mengolah alam dengan kaki tangan untuk memenuhi kebutuhannya, akan menghasilkan corak ideologi, agama, budaya, dan sistem politik yang cocok dengan basis materialnya. 

Begitu juga basis produksi masyarakat kapitalis, yang mengolah alam dengan mesin atas nama akumulasi, akan membentuk corak ideologi, agama, budaya, dan sistem politik yang mencerminkan basis materialnya. 

Jika Hegel bilang kesadaran menentukan realitas, Marx menampik bahwa realitaslah yang menentukan kesadaran. Hegel bilang ideologi menentukan ekonomi, Marx bilang ekonomi determinan terhadap seluruh superstruktur.

Gampangnya, mengikut jalan berpikir Marx: ideologimu, agamamu, politikmu, semua ditentukan oleh cara kamu cari makan. Tesis Marx ada benarnya, meski tidak benar semua. 

Weber, dalam tradisi Hegelian, membuktikan bahwa ekonomi  juga ditentukan oleh agama dan ideologi. Menyanggah determinisme ekonomi Marx, Weber melihat etika Protestan, terutama Calvinisme, justru merangsang kegiatan ekonomi dan melahirkan kapitalisme di Eropa. 

Apa hubungan filsafat ini dengan keadaan kita? Saya melihat ada anomali. Hegel bilang ideologi dan kesadaran menentukan kenyataan. Marx bilang kenyataan ekonomi dan basis produksi menentukan kesadaran. 

Kedua teori ini tidak laku di Indonesia dalam konteks politik. Saya melihat aneh sekali: corak ideologi dan agama tidak mendikte politik, tetapi politik mendikte ideologi, agama, dan—dalam beberapa hal—kegiatan ekonomi. 

Ada gejala yang saya rasakan di mana afiliasi politik menentukan ideologi dan corak keagaamaan seseorang. Bukan agama dan ideologi yang menentukan politik, tetapi—sebaliknya—ideologi dan corak keagamaan ditentukan oleh afiliasi politik. 

Kalau kamu pendukung 02, maka ideologi dan corak keagamaanmu akan sangat dibentuk oleh paradigma 212. 

Tidak peduli ente sekuler, sama sekali tidak paham Islam atau bahkan non-Muslim, begitu ente mendukung Prabowo dan berbaris di rombongan 212, wawasan keagamaanmu akan terpapar oleh narasi konservativisme.

Ente akan percaya Jokowi PKI, pro-asing, aktor di balik kriminalisasi ulama, Islam sedang digencet, percaya Islam punya bendera tauhid, nyaman dengan FPI, percaya bahwa Pilpres adalah medan jihad, dan nyinyir terhadap NU. 

Bahkan gejala ini saya rasakan di kalangan Nahdliyin pendukung Prabowo. Cara pandangnya tidak lagi mengikuti framing NU, tetapi framing 212. 

Kita tidak heran kalau Nahdliyin pro-Prabowo, meski tidak semua, nyinyir terhadap putusan Munas/Konbes NU tentang non-Muslim bukan kafir dalam konteks NKRI dan ikut-ikutan menyebar opini sesat bahwa NU telah mengamandemen ayat al-Qur’an. 

Dukungan terhadap Prabowo menyatukan orang dengan berbagai latar belakang ideologi dan agama, berdiri sama tegak di podium Monas menyerukan jihad bela Islam. 

Saya tidak bisa membayangkan, tetapi kenyataannya terjadi, bagaimana dukungan terhadap Prabowo telah menyatukan orang semacam Amien Rais, Ahmad Dhani, Habib Riziq, Ratna Sarumpaet, Rocky Gerung, Suryo Prabowo, Neno Warisman, Haikal Hasan, dan Al-Khattat dalam satu wadah.

Padahal, anda tahu sendiri, ideologi mereka bermacam-macam. Dalam kondisi ‘normal’, tidak mungkin mereka bisa sekongsi. Sebagian nama yang saya sebut itu sekuler, tidak paham Islam atau bahkan non-Muslim.

Tetapi anda lihat sendiri, laku mereka ibarat pemuda-pemuda hijrah yang percaya Prabowo capres terbaik pilihan ulama. Dulu Dhani diincar FPI, tetapi sekarang gandeng renteng atas nama jihad bela Islam. 

Dia mulai gemar teriak takbir. Istrinya pun tampil dengan hijab syar’i, mungkin mulai akrab dengan sapaan Akhi Ukhti. 

Sementara Sandiaga Uno—cawapres milenial, gaul, seorang pengusaha sukses—dalam sebuah tayangan di video, terlihat kaku ikut-ikutan meneriakkan takbir karena dikelilingi bapak/ibu berjubah/berhijab yang menggemakan dukungan sambil mengepalkan tangan ke angkasa. 

Saya merasakan betapa janggalnya Sandi, yang tampil modis, harus melakoni peran seperti itu. 
Tetapi, itulah kenyataannya. Politik menentukan segalanya. Dan di titik ini, Hegel dan Marx tidak laku di sini.