Kalau ngomongin Arsenal musim ini, maka nggak akan pernah lepas dari yang namanya gonjang-ganjing dan kelabilannya. Tercatat, sepeninggal kepergian Arsene Wenger, Arsenal seperti tak mampu menemukan permainan terbaiknya.

Unai Emery yang ditunjuk sejak 2018 nyatanya tak bisa memenuhi ekspektasi yang dibebankan kepadanya. Emery sejatinya menorehkan prestasi yang “lumayan” ketika membawa Sevilla memenangkan Europe League tiga musim berturut-turut. Karirnya bersama Paris Saint-Germain juga bisa dibilang meyakinkan dengan menambahkan tujuh koleksi piala domestik ke dalam lemari PSG.

Namun, dengan segala prestasi prestisius yang dibawanya, Unai tak mampu membawa Meriam London kembali ke dalam trek terbaiknya. Bahkan, selama di Emirates Stadium, Unai tak mampu membawa Arsenal kembali ke berlaga di Liga Champions. Unai Emery akhirnya diganti sang caretaker, Freddie Ljungberg (yang akhirnya menjadi asisten pelatih), sebelum akhirnya Arsenal “memulangkan” Mikel Arteta ke Emirates Stadium.

Sempat meraih hasil imbang dan kalah pada dua laga pertamanya, Mikel Arteta akhirnya meraih kemenangan pertamanya ketika menjamu Manchester United di Emirates Stadium. The Gunners bahkan memimpin 2-0 sejak paruh pertama pertandingan.

Kedua gol tersebut dicetak oleh Nicolas Pepe dan Sokratis. Kemenangan ini tak hanya menjadi harapan baru Arsenal di bawah asuhan Arteta, tapi juga memperlihatkan sebuah “gerakan kongkrit” di dalam klub ini. Apa saja?

Pertama, Arsenal kembali menunjukkan karakter dalam permainannya, setelah sekian lama main tapi yo angger main. Sebelas pemain yang ada di lapangan tak hanya sekedar “bermain”, mereka tahu tujuan mereka sebagai tim dan apa yang harus mereka lakukan. Pada laga melawan United, karakter ini cukup terlihat. Meski hanya mencatat 48% penguasaan bola, sepasang gol di menit awal dan akhir babak pertama sudah cukup untuk memukul lawan.

Di babak kedua, Arteta dan Arsenal berani bermain lebih pragmatis, antara lain dengan menarik keluar Nicolas Pepe di menit ke-63, kemudian digantikan Reiss Nelson. Selebihnya, mereka hanya tinggal membendung semua upaya Manchester United, untuk setidaknya mencetak gol hiburan. Arteta juga paham betul ia harus mampu memaksimalkan pemain yang ada, melihat jadwal Liga Inggris di Januari nanti akan semakin padat. Ditambah lagi, deretan pemain Arsenal banyak yang cedera.

Kedua, pelan tapi pasti, Arteta mulai mengembalikan keintiman yang ada di dalam Arsenal. Terlihat dari kembalinya Xhaka dan Ozil ke posisi starter. Kepercayaan Arteta dibayar lunas keduanya, dengan tampil apik saat menghadapi anak asuh Ole Gunnar Solskjaer di Emirates.

Arteta tak hanya mampu “membela” kedua pemain ini di hadapan fans dan media, tapi juga memaksimalkan kemampuan dua “pemain pesakitan” ini. Ia juga sekaligus menegaskan, tim asuhannya akan fokus penuh pada performa di lapangan, bukan gosip di media.

Arteta memang masih muda, bahkan dia adalah pelatih yang paling muda di Liga Inggris. Dengan usia yang masih 37 tahun, usia yang bahkan lebih muda dari Zlatan Ibrahimovic yang baru saja dikontrak oleh AC Milan, sebagai pemain barunya. Tapi dengan usianya yang belum genap 40 tahun, ia tak hanya jadi mentor di lapangan, tapi juga siap pasang badan ketika salah satu pemainnya dicerca entah oleh fans atau media.

Ia bahkan mampu mengembalikan sentuhan maestro seorang Ozil, yang sudah hampir dua tahun kehilangan magisnya. Ozil mampu membuktikan diri pada pertandingan melawan United kemarin. Ia mencatatkan pemain dengan daya jelajah paling tinggi dibandingkan dengan pemain lain. Padahal Ozil selalu dicap sebagai gelandang pemalas—hanyalah tipikal gelandang penyerang dengan kreativitas, namun sangat malas. Tapi di bawah Arteta, Ia menjadi sosok yang baru. Mengisi kekosongan ruang di belakang trisula penyerang Arsenal, Aubameyang, Lacazette, dan Pepe.

Arteta juga sekaligus menegaskan, Xhaka dan Ozil adalah elemen kunci strateginya (setidaknya sampai akhir musim ini), bukan biang kerok dalam tim. Ozil dan Xhaka memang termasuk dalam pemain yang paling banyak dicerca media, selain Mustafi dan jajaran pemain bertahan Arsenal. Tapi di tangan Arteta, keduanya menjadi jantung lapangan tengah Arsenal.

Ketiga, secara taktikal, Arteta sudah mulai menunjukkan kepiawaiannya menukangi tim besar, bersama dengan tekanan besarnya. Arteta memang selalu dikait-kaitkan dengan Pepe dan Arsene, karena ia pernah berguru pada keduanya. Pepe sendiri juga pernah belajar dengan Arsene.

Tapi, Arteta adalah Arteta, ia bukanlah Pepe atau Wenger. Arteta bisa lebih pragmatis saat dibutuhkan, tidak seperti Pepe atau Wenger, yang begitu memuja sepak bola indah.

Dengan segala kekacauan yang mewarnai Arsenal musim ini, kemenangan atas United patut disyukuri oleh fans Gunners seluruh dunia. Dengan catatan, manajemen dan suporter Arsenal perlu memberi waktu ekstra buat Arteta, untuk membenahi atau bahkan membangun ulang tim.

Arteta harus diberi kebebasan dan dana yang cukup, khususnya dalam hal taktik dan belanja pemain, supaya bisa bekerja maksimal. Dari sinilah, bagus-tidaknya kinerja Arteta dapat dinilai secara utuh.

Jadi, apapun capaian Arsenal di liga domestik dan Liga Eropa musim ini, suporter dan manajemen Arsenal hanya perlu mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan Arteta. Bagaimanapun, Arteta datang saat Arsenal sedang ambyar.

Dengan tuntutan yang terlalu tinggi, suporter dan manajemen hanya akan memperburuk tekanan dalam tim. Sepak bola tak seperti mie instan, tak cukup 1–15 menit, tapi 3–5 tahun untuk membawanya menuju kapasitas terbaiknya.

#COYG