Kebanyakan masyarakat kita punya hobi membakar sampah. Padahal, bahaya membakar sampah, khususnya sampah plastik, bisa mengancam nyawa, lho! Lah, kok bisa? Berikut sedikit pembahasannya.

Sampah di Indonesia memang bukan lagi dipandang sebagai masalah lingkungan semata. Sampah sudah mempengaruhi ekonomi dan budaya. Hampir semua kota di Indonesia mengalami kendala dalam mengelola sampah.

Ini terjadi karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lahannya masih kurang, sehingga masyarakat banyak membuang sampah di sungai atau pakai cara paling praktis: membakarnya!

Menurut survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015 lalu, jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Sedangkan berdasar penelitian yang dilakukan Jambeck et.al pada 2015 lalu, tiap manusia di Indonesia memproduksi sekurang-kurangnya 0,58 kilogram sampah dalam sehari.

Bayangkeun sodara, bahaya membakar sampah macam gimana yang bakalan dialami kalau tiap orang hobi bakar sampah?

Sampah plastik yang didiamkan menggunung dan bercampur dengan sampah yang lain, akan menyimpan karbon dan hidrogen dengan jumlah yang tidak sedikit.

Tak hanya itu, zat tersebut juga akan terkumpul dengan zat-zat lain seperti klorida yang mudah ditemukan pada sisa makanan. Ketika disulut api, zat-zat ini akan terlepas bebas dan bisa berdampak buruk bagi dirimu.

Salah satu jenis zat yang sangat berbahaya dalam kandungan gas sisa pembakaran plastik adalah dioksin, yang punya efek berkelanjutan pada binatang percobaan. Mempengaruhi perubahan sistem hormon, perubahan pertumbuhan janin, menurunkan kapasitas reproduksi, dan menekan sistem kekebalan tubuh.

Menurut Andari, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, dioksin dalam dosis tertentu dapat mempengaruhi perubahan kode marker pada manusia dari tingkat pertumbuhan awal hormon.

Pada dosis yang lebih besar bahkan mampu mengakibatkan sakit kulit yang serius yang disebut chloracne. Ngerine cik..

Dioksin memang biasa kita ditemukan pada sampah rumah tangga yang berbahan plastik (PVC), pestisida, herbisida, pemutih kertas, dan alat medis sekali pakai. Dan salah satu ¬†aktivitas yang menimbulkan dioksin dalam jumlah besar adalah kebiasaan membakar sampah, di samping produksi serta penggunaan pestisida dan herbisida, daur ulang produk elektronik, hingga ehem… merokok.

Di Tropodo, Sidoarjo, pernah terjadi pembakaran sampah plastik dalam jumlah yang sangat besar. Yang miris, sampah tersebut bukanlah sampah yang berasal dari masyarakat, melainkan sampah impor. Bisa dikatakan, kita mengimpor zat beracun yang setiap saat bisa saja merenggut nyawa kita sendiri.

Wes ngobong sampah, sampah impor sisan!

Pada akhirnya kita jadi serba salah kan. Sampah dibakar jadi penyakit, didiemin juga jadi penyakit. Hmm enake piye iki…