Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini.

Dari kejauhan, mulai nampak sorotan senter menembus kegelapan di kuburan yang mendekat menuju Rohmat. Dengan wajah berkeringat, Bambang mendekatinya.

“Mat, nangndi wae. Digoleki kok, malah mlaku-mlaku tekan kene, ndoprok ngono sisan. Kowe iki ngopo?” Bambang berseloroh.

Rohmat yang masih ternganga dengan kejadian yang baru saja menimpanya kembali tersadar. Ia memandangi teman sebayanya yang saat ini tepat berada di hadapannya. Tepat d tempat ia melihat makhluk hitam yang membuatnya diam tak bergerak.

“Ya Allah, Alhamdulillah kowe, Mbang! Tak kiro sopo! ” jawab Rohmat. Ia segera beranjak dari tanah dan menerima uluran tangan Bambang yang mencoba membantunya berdiri. Kedua pemuda tanggung ini kemudian berjalan menuju lubang kuburan Ningrum.

“Onok opo Mat? Kok raimu pucet ngono? Koyok bar ketemu setan wae,” cetus Bambang sembari tertawa kecil. Rohmat tak menjawab, Ia hanya melihat wajah konyol kawannya kemudian berlalu. Tangannya yang masih gemetar, berusaha memegangi kayu penutup mayat kuat-kuat.

“Jancuk cah iki!” batin Rohmat.

Rohmat menahan diri. Ia tak ingin bercerita tentang apa yang dilaluinya tadi. Ia tak ingin membuat temannya yang satu ini malah lebih histeris dari dirinya sendiri. Rohmat takut reaksi berlebihan Bambang akan membuat keluarga Ningrum dan rombongan pelayat semakin tak tenang.

Tak lama kemudian, kedua pemuda ini akhirnya sampai ke pemakaman Ningrum. Jasad Ningrum yang sudah dikafani seakan menunggu kedatangan mereka. Tepatnya, menanti papan-papan yang mereka kumpulkan. Rohmat sempat merinding, namun atas nama kewajiban sebagai orang beragama dan bagian dari masyarakat, ia memberanikan diri turun kembali ke dalam kuburan Ningrum.

Sesaat, Rohmat memandangi pocong Ningrum, gadis desa yang pernah membuatnya dimabuk cinta.

“Aahh, seandainya kowe nerimo aku Rum, uripmu mesti wes tak gawe bahagia,” batinnya. Lamunannya berlalu. Ia bersama dua temannya kembali menata papan-papan tepat diatas jasad Ningrum.

Kejadian ganjil tak lagi berlanjut hingga jasad Ningrum dikebumikan dengan sempurna. Usai Pak RT memanjatkan doa, para pelayat yang hadir satu-persatu pun pulang, tak terkecuali Paidi dan Sumi.

Meski masih menangisi kematian anak dan cucunya, Sumi dengan dipegangi Paidi, kembali ke rumahnya dengan hati yang membeku. Hatinya yang semula hangat menjadi dingin dan rapuh, terkoyak luka. Sakit hatinya kemudian menjadi dendam, amarahnya mengarah kepada Reza, suami Ningrum yang pergi entah kemana.

***

Pagi menyingsing, warga kembali memulai aktivitasnya sehari-hari. Begitu pula Paidi. Hari ini Ia kembali menggarap sawah milik orang, tanpa ditemani istrinya.

m

Meski sudah memasuki usia senja, pundak dan lengannya masih terlihat kuat. Otot-ototnya mengguratkan perjalanan dan perjuangan yang ia lakukan demi keluarganya. Jikalau sudah ke medan kerjanya, Ia tak lagi membutuhkan orang lain, hanya membutuhkan sahabat karibnya yang senantiasa nangkring di pundaknya, Si Cangkul.

Tapi baru beberapa langkah saat Paidi melangkah menjauh dari rumahnya, pundaknya ditepuk tangan dari belakang. Paidi kaget bukan kepalang. Hampir saja cangkulnya ia tambatkan tepat di sisi kanan kepala si penepuk.

“Rausah ngaget-ngageti, Rif. Untung wae ndasmu ra kesambit pacul. Ono opo?” Paidi menimpali Arif yang masih terengah-engah. Arif masih memegangi dua dengkulnya. Dengan wajah pucat pasi, Arif menggapai tangan kiri Paidi.

“Pak, tulong.. Mamak.. Mamak,” Arif yang tak memiliki kegagapan ketika berbicara berubah menjadi tak lancar berucap kata. Perlahan air matanya keluar, tak mampu lagi berkata-kata. Paidi dengan rasa ingin tahu yang sudah memenuhi kepalanya, berusaha menenangkan pemuda ini. Setelah dirasa cukup, Paidi kembali menanyai Arif.

“Pak, Mamak gantung diri,” ucap Arif singkat. Air matanya yang tertahan kini pecah, tak lagi mampu dibendung. Sementara Paidi, masih memegangi tangan Arif seakan tak percaya. Masih segar di ingatannya kala jasad Ningrum dan Rahma menggantung dengan wajah mengerikan.

Belum ada 24 jam anak dan cucunya memutuskan untuk mati dengan cara yang mengenaskan, kini tetangganya juga mati dengan cara yang sama.

Jasad Jumantri, Mamak Arif sekaligus tetangga Paidi, masih menggantung di pohon glodokan belakang rumahnya. Wajahnya sudah membiru, mulut dan lubang hidungnya mengeluarkan cairan kental dengan lidah menjulur keluar, persis seperti Ningrum. Paidi segera menyuruh Arif memanggil warga secepatnya.

Paidi masih memandangi wajah Jumantri yang membelalak ke langit. Paidi tak sadar, tepat di bawah jasad Jumantri yang menggantung, tanah bergerak tanpa sebab, menciptakan gundukan. Tiga gundukan di tanah terbentuk, namun tak bertahan lama lalu kempes dan menghilang..

BACA KELANJUTANNYA DI SINI..