Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini ya.

Kabar sayembara tersebut akhirnya terdengar oleh Minak Sraba. Banyak cerita beredar, kala itu Minak Sraba sedang ‘malih rupo’ menjadi seekor buaya putih, yang akhirnya berubah menjadi manusia kembali.

Setelah itu, Minak Sraba lantas menyembuhkan penyakit bau badan Dewi Amiswati dengan cara menjilati kakinya.

Ada pemaknaan khusus dalam kisah ini. Buaya yang berubah menjadi manusia, adalah perlambangan bahwa ketika Minak Sraba mengikuti sayembara, dirinya menyamar sebagai rakyat biasa yang seolah-olah beragama Hindu, bukan sebagai ulama.

Sementara penyembuhan bau badan dengan cara menjilati kaki, melambangkan bahwa Minak Sraba menyebuhkan akhlak Dewi Amiswati dengan lidah atau lisannya—yaitu perkataan dan nasihat-nasihat.

Kaki sebagai anggota tubuh yang berfungsi untuk berjalan atau melangkah, melambangkan bahwa nasihat-nasihat Minak Sabra adalah tentang jalan hidup, tentang cara menjalani hidup dengan baik.

Minak Sraba, sesuai janji, akhirnya dinikahkan dengan Dewi Amiswati karena berhasil menyembuhkan penyakitnya.

***

Dalam suatu kisah dituliskan, ketika menjadi suami Dewi Amiswati, Minak Sraba memberikan pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar. Antara lain, Dewi Amiswati tidak diperkenankan membuka penutup dadanya (mekak) dan ikat pinggang kain panjangnya (bengkung) pada waktu matahari tenggelam.

Namun suatu hari, pantangan tersebut dilanggar. Akibatnya, ketika masuk ke dalam rumah, Dewi Amiswati menemukan buaya putih yang bisa berbicara. Dia pun segera tahu kalau suaminya adalah seekor buaya putih.

Karena saat itu Dewi Amiswati bertelanjang dan masuk ke dalam ruang tempat Minak Sabra sedang salat dan bertafakur kepada Allah, dia pun juga tahu bahwa Minak Sabra sebenarnya beragama Islam (dalam hikayat, diceritakan bahwa Minak Sabra kembali berwujud buaya putih).

Untuk menghindari kericuhan dalam keluarga Ki Ageng Galek, Minak Sabra pun memutuskan untuk kembali ke Kedung Bagong.

***

Beberapa waktu sepeninggal Minak Sabra, Dewi Amiswati melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Minak Sopal. Menginjak usia remaja, Minak Sopal bertanya pada ibunya perihal ayah kandungnya. Setelah beberapa hari berkilah, Dewi Amiswati terpaksa menceritakan pada anaknya bahwa ayahnya adalah buaya putih yang tinggal di Kedung Bagong.

Mendengar cerita itu, Minak Sopal kemudian meminta izin untuk mencari dan menemui ayahnya. Setelah keduanya bertemu, Minak Sabra begitu bahagia melihat putranya tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan berpendirian.

Minak Sopal pun dididik dan diberi pelajaran agama Islam sampai kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda muslim yang taat.

Dikutip majalah Panjebar Semangat, nama Sopal sebenarnya berasal dari Bahasa Arab, yaitu kata “asfala” yang berarti turun atau rendah. Ini jadi simbol bahwa meskipun Minal Sopal keturunan bangsawan, tetapi toh dirinya tetap hidup sederhana dan merakyat.

Sebagai seorang muslim, Minak Sopal kemudian merasa harus mendakwahkan Islam dan mengajak masyarakat untuk memeluk agama Islam.

***

Kala itu, penduduk Trenggalek yang kebanyakan bekerja sebagai petani, seringkali kesulitan air. Untuk menarik hati rakyatnya, Minak Sopal lantas berinisiatif untuk membangun bendungan agar pertanian daerahnya tidak kekurangan air sehingga rakyatnya makmur. Langkah ini juga dimaksudkan agar mereka bisa menerima dakwah Islamnya.

Namun, usaha Minak Sopal dalam membangun bendungan selalu gagal. Minak Sopal kemudian kembali Sowan kepada ayahnya dan meminta petunjuk guna mengatasi masalah tersebut.

Dikisahkan oleh Sarni Wiryodiharjo, sang ayah kemudian memberi tahu bahwa bendungan akan dapat dibangun dengan cara ditumbali kepala gajah putih.

Untuk itu, Menak Sopal mengirimkan utusannya ke tempat Rondo Krandon (janda yang bertempat tinggal di Krandon) yang mempunyai gajah putih.

Rondo Krandon tak keberatan untuk meminjamkan gajah putihnya, asal setelah selesai tugasnya dalam membantu pembuatan bendungan, hendaklah segera dikembalikan ke Krandon. Utusan Menak Sopal pun menyanggupinya.

Akhirnya gajah putih itu dibawa ke Trenggalek. Tak jauh dari Kedung Bagong, gajah tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada rakyat yang bekerja untuk membuat Bendungan Bagong. Sedangkan, kepalanya dijadikan tumbal.

BERSAMBUNG