Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini ya.

Dakwah Islam Ki Ageng Menak Sopal di Trenggalek (2): Tumbal Gajah Putih di Kedung Bagong

Setelah diberi tumbal gajah putih, pembangunan bendungan bisa terlaksana tanpa ada halangan berarti. Air dari bendungan itu membawa kemudahan penduduk sekitar, mulai dari mengairi sawah dan keperluan sehari-hari penduduk Trenggalek.

Masyarakat Trenggalek pun bersuka ria karena sawahnya yang dulu hanya merupakan sawah tadah hujan saja, dapat ditanami padi dua kali dalam setahun. Hasil pertanian kian melimpah, warga semakin sejahtera. Akhirnya, rakyat Trenggalek pun mau memeluk Agama Islam.

Dalam kisah sebelumnya, diceritakan bahwa bendungan tersebut diberi tumbal kepala gajah putih. Yang dimaksud gajah putih sebenarnya adalah perlambang Agama Buddha dan Hindu. Gajah adalah lambang kebesaran, putih adalah lambang kesucian.

Jadi jika ditafsirkan, pimpinan-pimpinan agama Hindu Buddha di daerah ini akhirnya dapat menerima negosiasi Menak Sopal untuk membuat bendungan. Setelah berhasil, rakyatnya merasa lebih berbahagia bila beragama Islam.

Sementara Janda Krandon yang sudah lama menanti kedatangan gajah putihnya yang tidak pernah dikembalikan, terpaksa menyiapkan tentaranya untuk meminta kembali gajah putihnya dari tangan Menak Sopal.

Untuk menghindari pertumpahan darah di daerah Trenggalek, Menak Sopal pun akhirnya minta pertolongan ayahnya.

Bersama ayahnya, ia membuat lorong bawah tanah (gangsiran) dari daerah Trenggalek ke Rawa Ngembel. Lorong bawah tanah yang diceritakan di sini, mengandung perlambang penyebaran agama Islam yang dilakukan secara dia- diam.

Di sisi lain, Janda Krandon bersama tentaranya memutuskan untuk bersiap di puncak gunung sekitar Trenggalek sambil menanti gerak gerik tentara Menak Sopal. Namun karena tak ada pergerakan, pasukan Janda Kradon menjadi terlalu lama di daerah itu sampai batang tombaknya dimakan rayap dan menjadi lapuk.

Pelapukan ini menyisakan tombak-tombaknya menjadi bubuk halus. Kini, daerah tersebut kini dikenal dengan nama Gunung Bubuk. Janda Krandon pun terpaksa membatalkan kehendaknya untuk menyerang Trenggalek.

Simbol dari kejadian ini: tongkat tombak adalah rakyat Krandon. Sedangkan maksud dari dimakan rayap adalah rakyat yang ada di bawah kekuasaan Janda Krandon, sudah nyaman dengan ajaran dari Menak Sraba dan Menak Sopal yang Islam diam-diam.

Akibatnya, banyak rakyat Trenggalek yang akhirnya beragama Islam karena ujung tombak atau pimpinan yang masih beragama Hindu tidak mampu merebut kembali kepemimpinannya.

Simbol lainnya adalah Janda Krandon yang merupakan seorang janda atau wanita yang sudah ditinggal suaminya. Dengan kata lain, pemimpin umat Hindu Buddha di daerah tersebut sudah kehilangan pelindungnya. ini disebabkan karena Majapahit telah runtuh dan kesultanan Islam Demak Bintoro gantian berdiri.

Berkat dakwah Menak Sopal dengan cara yang baik dan halus kepada warga setempat, ia berhasil menuntaskan penyaran Islam di Trenggalek pada waktu itu. Tak heran, sebagian besar penduduk di Kabupaten Trenggalek banyak yang memeluk Agama Islam.

Bukti keberhasilan dakwah Menak Sopal juga dibuktikan dengan semakin banyaknya pembangunan masjid dan perguruan Islam di Trenggalek masa itu. Meski begitu, ia tak pernah melarang pemeluk agama lain menjalankan ibadah di Trenggalek.

Dari cerita di atas dapat kita ketahui bahwa Menak Sopal adalah tokoh penyebar Agama Islam di Trenggalek dan mampu memakmurkan rakyat disitu dengan cara membangun Bendungan Bagong. Tak hanya itu, ia juga memberi keleluasaan kepada masyarakat untuk memilih kepercayaan.

Karena itu, tidak aneh bila sampai saat ini cerita Menak Sopal masih hidup di hati rakyat dan makamnya, terus diberi penghormatan.

TAMAT