Bagi sebagian orang, mengendarai sepeda motor sambil merokok mungkin mengasyikkan banget. Tapi bagi yang lainnya, hal itu amatlah mengganggu. Tak bermaksud menghakimi, tapi izinkan saya sebagai salah satu manusia yang pernah jadi korban untuk bercerita.

Hari ini seperti biasa saya terjun ke lapangan untuk meliput salah satu kampung unggulan di Surabaya. Karena budaya molor Indonesia yang sudah mendarah daging, janji wawancara yang harusnya jam sembilan, ngaret jadi jam 11.

Memang jancok, tapi mau gimana lagi. Saya sebagai WNI yang baik, wajib menjunjung tinggi budaya, termasuk kebiasaan ngaret.

Saya kemudian tiba di salah satu bangjo di daerah Surabaya Barat. Saat itu saya berpapasan dengan mobil sedan, kaca depannya sengaja dibiarkan terbuka oleh si sopir. Tangan kirinya megang setir, sedang tangan kanannya, di antara jari telunjuk dan tengah terdapat udud yang sudah setengah batang.

Saya sih cuek. Wes biasa to rek?

Tiba-tiba, mak nyoss, leher saya terasa panas. Lambe yang sudah agak ngeblong, nggak isok ngerem, langsung saja saya berucap sedikit tak sopan.

“Wasuu, pwanas!” teriak saya sambil napuk-napuk leher. Untung napuknya nggak sampe muntah getih. Saya sampe dilihati orang-orang sekitar. Mungkin mereka mengira saya kerasukan Mbah Asu, penunggu jalanan situ. Entahlah.

Saya memutuskan untuk minggir sejenak. Bermaksud mengecek apa yang terjadi dengan leher saya yang begitu berharga seperti anak sendiri. Kuraba-raba, Alhamdulillah masih utuh. Tapi, kayak ada yang beda, ya. Setelah tangan kiri saya menggerayangi leher, kulihat ada sisa utis a.k.a abu rokok yang sudah menghitam.

“Lha hancik!” kali ini saya nggak mbatin. Saya misuh sejadi-jadinya. Kok bisa ada abu rokok sampek di leher saya. Pantes aja kok tiba-tiba terasa mak nyoss di leher saya yang mulus ini. Pikiran saya langsung tertuju ke bapak-bapak sing wenak-enak udud sambil nyetir tadi.

“Astaghfirullah, apa sih nikmatnya ngerokok sambil berkendara? Apakah mampu menimbulkan syahwat dan memuaskan nafsu? Orang-orang ini kok ya anehnya nggak pernah habis. Sama seperti pekoknya,” batin saya.

Padahal sudah jelas, selain membahayakan orang lain, merokok sambil berkendara juga melanggar aturan.

Tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 12 tahun 2019 pasal 6 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan Untuk Kepentingan Masyarakat, pengendara motor dilarang merokok sambil mengendarai kendaraan.

Berikut bunyinya, saya cantumin selengkap-lengkapnya:

Pemenuhan aspek kenyamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c paling sedikit harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

– Pengemudi menggunakan pakaian sopan, bersih, dan rapi.
– Pengemudi berperilaku ramah dan sopan.
– Pengemudi dilarang merokok dan melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi ketika sedang mengendarai sepeda motor.

Sanksi jika melanggar akan dikenakan pasal 106 Undang-Undang No 22 th 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Mereka bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan, atau denda paling banyak Rp750.000,-.

Buat yang suka merokok sambil berkendara, coba deh kalau kalian lagi enak-enak naik motor terus tiba-tiba ada abu yang masih panas nemplok di muka atau lehermu, atau bahkan yang lebih parah, kena di mata. Bisa-bisa sampek bikin buta. Kon emosi nggak? Terima nggak kon kiro-kiro? Heleh tai!

Merokok nggak masalah, tapi tahu kondisi bro! Mending ngudud sambi ngiseng po ngopi, wenak. Ojok disambi nyetir! Nggak masalah sih kalo mau ngudud sambil motoran atau nyetir, asalkan abu sama asepnya juga ikut ditelan. Biar nikmatnya semakin lengkap!

Ada yang punya pengalaman serupa? Tulis di kolom komen cok!