Sempat diisukan bakal hengkang ke salah satu klub negeri tirai bambu di akhir musim 2018/2019 lalu, Gareth Bale akhirnya tetap jadi pemain surplus milik El Real di musim ini. Entah apa yang merasuki manajemen Real Madrid yang seolah membuang pemain yang membantunya membawa pulang tiga Piala Champions berturut-turut.

Semua orang pasti setuju kalau Real Madrid adalah salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepakbola dunia. Namun, meski punya status klub bersejarah besar, El Real juga punya sejarah kurang bersahabat bagi pemain-pemain bintang yang berjasa pada klub.

Real Madrid adalah salah satu klub yang lebih mengutamakan membeli pemain bintang dengan harga mahal, dibanding menghargai pemain legenda mereka sendiri dengan kehormatan.

Bisa dibilang, keputusan manajemen Real Madrid adalah cerminan kebijakan dari sang presiden klub, Florentino Perez. Pria yang tahun ini genap berusia 72 tahun ini jadi orang yang paling lama menjabat sebagai presiden Real.

Meski sempat diselingi Fernando Alvarez, Luis Gomez, hingga pengacara kontroversial Ramon Calderon, Perez sudah memimpin Real Madrid sejak tahun 2000. Pria kelahiran Madrid ini setidaknya sudah 16 tahun menjadi sosok paling sentral di Los Galacticos.

Jadi, adil bukan bila saya bilang kebijakan madrid adalah titah dari Florentino Perez?

Seperti yang dikemukakan di atas, Real Madrid adalah klub bersejarah panjang yang tidak menghargai pemain bintangnya. Sebut saja Fernando Hierro yang jadi salah satu pemain penting Madrid medio 1990an.

Ia sukses memenangkan lima gelar La Liga dan tiga gelar Liga Champions. Namun, Hierro akhirnya dibuang klub pada 2003. Saat itu, Madrid percaya bahwa Hierro sudah terlalu tua untuk berkontribusi secara efektif dan melepasnya kurang dari seminggu setelah gelar dimenangkan.

Kepergiannya lantas memicu periode kritis bagi Madrid.

Kisah sedih lainnya terjadi pada pangeran Madrid, Raul Gonzalez yang akhirnya harus terusir dari kerajaannya sendiri, Santiago Bernabeu, setelah sang presiden klub tak lagi membutuhkannya. Padahal, Raul sempat menyatakan kesediaannya menandatangani kontrak seumur hidup sekaligus ingin pensiun di Madrid.

Namun, loyalitas Raul dibalas pahit oleh Los Blancos. Alasannya, klub tak lagi menginginkannya karena usianya sudah mulai menua. Ironisnya, Raul didepak saat tengah menjadi simbol klub. Raul akhirnya pindah ke Schalke 04 dan gagal mencapai impiannya pensiun di klub kecintaannya.

Tak jauh beda dengan kompatriotnya di Madrid, Casillas juga mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari klub yang sudah ia jadikan rumah sendiri. Serupa dengan Raul, Casillas juga ingin pensiun di Madrid dan menandatangani kontrak seumur hidup.

Namun, seiring berjalannya waktu, Casillas akhirnya harus terdepak dengan cara yang menyakitkan. Dimulai dari perlakuan Jose Mourinho yang membangku cadangkannya sampai Perez yang ingin membuang kiper 34 tahun itu karena memiliki tubuh pendek—yang menurutnya lebih pantas digantikan Gianluigi Buffon yang memiliki tubuh tinggi.

Tiap kali Casillas tampil buruk dan melakukan blunder, bukan dukungan yang ia dapat. Fans Madrid di Bernabeu malah menyoraki Casillas dengan kata-kata “boo” di musim 2013/14. Hal yang sebenarnya tak pantas dilakukan terhadap legenda yang telah memberikan segalanya bagi klub.

Casillas akhirnya harus meninggalkan Madrid menuju Porto dengan cara yang pahit. Dengan cucuran air mata saat konferensi pers, Casillas tak ditemani rekan-rekannya yang tengah pergi tur pra-musim ke Australia. Ia pun harus menangisi kepergiannya sendiri.

Bahkan bintang dengan nama besar seperti Cristiano Ronaldo pun pernah merasa dikhianati oleh Real Madrid. Kala itu, Madrid akan menerima tawaran senilai 100 juta euro atau setara Rp1,6 triliun dari klub yang bukan rival langsung La Liga Spanyol untuk menjual Ronaldo.

Nilai tersebut jelas membuat Ronaldo marah.

“Jika saya dihargai 100 juta euro, itu karena mereka tidak mencintaiku,” katanya pada wawancara yang dilansir Marca. Tentu saja Ronaldo menertawarkan saran penjualan tersebut, dan merasa bahwa Real Madrid sudah tidak menghargai dan menghina semua jasa-jasanya kepada klub.

Real Madrid memang sudah seperti itu sejak dulu. Bukan berarti mereka tidak menghargai pemain mereka, tapi dengan gelimang uang dan tuntutan prestasi instan, menjadikan Real sebagai klub yang tak berperasaan pada pemain yang sudah berkontribusi pada klub.

Kemungkinan besar, Bale akan menjadi korban selanjutnya dari kebijakan manajemen Real. Padahal, Bale bukanlah pemain bola biasa-biasa saja, hal ini terbukti dari raihan golnya yang sudah lebih dari 100, membukukan 77 caps bersama, serta 31 gol untuk timnas Wales.

Jangan lupa, dia juga berperan besar dalam tiga piala Liga Champions yang direngkuh Real Madrid beberapa tahun belakangan.

Bayangkan apa yang ada di pikiran Bale ketika manajemen terang-terangan mengungkapkan tak lagi membutuhkan dirinya. Namun di saat yang sama, Real Madrid masih enggan melepaskan pria asal Wales tersebut.

Mungkin dalam hati Bale, ia masih ingin bertahan di Madrid. Selain gaji besar, kesempatan bermain di kompetisi teratas masih terbuka baginya. Namun Zidane tidak berpikir seperti itu, Bale harus keluar bagaimanapun caranya.

Salah satu alasannya: Real memang butuh dana segar untuk mendatangkan kembali beberapa pemain incarannya.

Hmm.  #KasihanBale.