Namanya Gus Muwafiq. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya coklat kehitaman, rambutnya yang sudah mulai memutih, kadang digelung ke belakang punggung meskipun tak jarang juga dibiarkan tergerai begitu saja.

Penampilannya seakan tak ingin menunjukkan kedalaman ilmu yang ada dalam dirinya. Pakaian yang seringkali dikenakannya berwarna putih, kontras dengan kulitnya yang gelap.

Gus Muwafiq adalah seorang mubaligh, yang mungkin pernah kamu dengar. Entah dari YouTube, Facebook, Instagram atau grup WhatsApp keluarga.

Belum lama ini, Gus Muwafiq ramai disorot berbagai media atas ceramahnya yang menurut beberapa pihak, menghina Nabi Muhammad SAW.

Front Pembela Islam (FPI) melaporkan Gus Muwafiq ke polisi karena ceramahnya, meski laporannya ditolak karena kurang syarat.

Polemik ini berawal saat Gus Muwafiq menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW dan perjuangan beliau di masa kecil. Beliau menyebut, Rasulullah lahir layaknya bayi manusia pada umumnya. Tidak seperti yang banyak dikisahkan, yang menyebut ketika Nabi Muhammad lahir, memancarkan cahaya yang benderang.

Alasannya, seandainya bayi Nabi bersinar ketika kelahirannya, maka akan ketahuan oleh bala tentara Abrahah. Dan hal ini tentu akan membuatnya dibunuh oleh pasukan Abrahah.

Dalam ceramahnya di Purwodadi tersebut, Gus Muwafiq juga menyebut kalau Nabi sewaktu kecil “rembes” karena ikut kakeknya. Pernyataan inilah yang kemudian dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.

Sementara, beliau sendiri menilai ceritanya adalah bentuk improvisasi untuk menjelaskan ke kaum milenial

Gus Muwafiq, yang lahir di Lamongan pada 2 Maret 1974. Ia sudah aktif menjadi anggota perkumpulan mahasiswa sejak kuliah di UIN Kalijaga, Yogyakarta. Puncaknya, saat ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara.

Setelah lulus kuliah, beliau sempat menjadi asisten pribadi Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Rambut gondrong menjadi ciri khas pengasuh pondok pesantren di Sleman, Yogyakarta ini.

Tapi, dengan pengalamannya itu, bukannya membalas gontok-gontokan terait ceramahnya, Gus Muwafiq justru berterima kasih kepada orang yang melaporkannya. Dia tak membalas laporan orang-orang yang menuduhnya menistakan Nabi Muhammad SAW.

Gus Muwafiq bisa saja kekeuh atas pendapatnya, tak menarik kata-katanya. Namun dia memilih meminta maaf, mengakui kesalahan meskipun tak sepenuhnya hal tersebut adalah kesalahannya.

Dilansir NU Online, Gus Muwafiq dalam ceramahnya sebenarnya merespons tantangan-tantangan dari kaum milenial yang kerap menanyakan tentang nur Muhammad dan “rembes”– yang dimaknainya dengan ingus atau umbel.

“Saya yakin dengan seyakin-yakinnya nur Muhammad itu memancarkan sinar. Akan tetapi, generasi sekarang banyak bertanya apakah sinarnya seperti sinar lampu, dan semakin dijawab semakin tidak ada juntrungnya,” ucapnya.

“Kemudian terkait kata rembes, dalam bahasa Jawa itu artinya umbel. Di bahasa saya, rembes itu umbel. Ini juga terkait dengan pertanyaan: apakah anak yang ikut kakeknya ini bersih, karena kakek saking cintanya sama cucu sampai cucunya apa-apa juga kadang boleh. Hal itu saja yang sebenarnya,” imbuhnya.

Beliau menyatakan bahwa pernyataannya itu tidak bermaksud menghina Nabi. Sejak kecil ia dididik untuk menghormatinya. Namun beliau tetap meminta maaf pada umat Islam jika pernyataannya dianggap menyinggung.

“Untuk seluruh kaum Muslim seluruh Indonesia, apabila kalimat ini saya lancang, saya mohon maaf sebesar-besarnya. (Saya) tidak ada maksud menghina, mungkin hanya inilah cara Allah menegur agar ada lebih adab terhadap Rasulullah dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya sederhana, tapi beberapa orang menganggap ini kalimat cukup berat,” pungkasnya.

Gus Muwafiq yang kala itu sedang naik daun, tiba-tiba seperti diruntuhkan kepopulerannya. Selama ini, kita sebagai pemeluk agama Islam di Indonesia, diajari untuk membela kehormatan Nabi Muhammad SAW.

Bahkan beberapa umat ada yang menerapkan hukuman berat hingga dibunuh bila berani menghina Nabi. Tapi, apakah benar Nabi mengajarkan umatnya untuk sekeras itu menghadapi orang yang membencinya?

Terlepas dari semua tuduhan kepada Gus Muqafiq, beliau justru seakan mengingatkan kita tentang keteladanan akhlak Nabi melawan orang-orang yang membencinya.

Dalam suatu kisah yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, suatu hari Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami hari yang lebih buruk dari Perang Uhud?”

Rasulullah menjawab, “Suatu hari aku pernah menemui kaum yang sangat kejam yang belum pernah aku temui, hari di mana aku menemui kaum di Kampung Aqobah (Thaif), lalu aku pulang dalam keadaan wajahku berdarah karena perlakuan warganya yang melempali dengan batu.”

“Saat aku berhenti di Qarnul Tsa’alib (Miqat Qarnul Manajil), aku melihat ke atas dan awan memayungiku sehingga aku merasa teduh. Lalu, aku melihat Jibril memanggilku seraya berkata:

“”Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan (hinaan) kaummu serta penolakan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk menghadap kepadamu.””

Rasulullah SAW selanjutnya malah berdoa, tanpa ada sedikit pun keinginan untuk membalasnya. Dari sini, kita bisa tahu, betapa agungnya akhlak Rasulullah, bahkan kepada orang yang membencinya.

Rasul tak pernah mengajarkan kepada kita kebencian, memaki orang lain, dan bahkan memaafkan mereka yang menjelek-jelekkannya. Bisakah kita, sebagai umatnya, meniru keteladanannya?

Teladan ini sudah ditunjukkan Gus Muwafiq, yang membalas terpaan cacian kepadanya dengan teduh dan tidak balik membalas dengan kebencian.