Tengoklah kehidupan pondok pesantren, kehidupan dimana seorang kyai ibarat pedagang air yang senantiasa berkeliling kampung.

Sang kyai, ibarat pedagang air yang tak pernah melakukan kecurangan seperti mencoba melipatgandakan harga air pada pembeli. Sang kyai walau hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, tetap bekerja sebagaimana mestinya.

Beliau tetap melayani warga yang kesulitan air, meskipun pada suatu saat, kebutuhan air bersih tengah meningkat lantaran kemarau panjang.

Kehidupan kyai di ponpes tak jauh seperti itu. Beliau bagaikan mata air yang melayani para santri yang kehausan. Sang kyai terus menerus memberikan kesejukan pada para santri, tanpa berharap mendapatkan keuntungan.

Namun, dari santri pulalah sang kyai merasa dirinya menjadi hidup. Para santri telah memotivasi dirinya, mencurahkan ilmu yang dimilikinya. Beliau menambah keyakinan bahwa hidup harus memberi manfaat bagi santri dan warga sekitar.

Para orang tua kini patut merasa gembira. Santri yang belajar di ponpes selama 24 jam di bawah pengawasan seorang ulama atau kyai, memetik nilai-nilai universal, pesan-pesan adiluhung, dan keteladanan dari kyai, ustadz dan ustadzah.

Lebih dari itu, para santri yang berasal dari berbagai daerah di Bumi Nusantara dapat belajar secara langsung tentang kehidupan toleransi dan disiplin bersama dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk kerja sama tim dan saling sayang menyayangi antar sesama.

Sang kyai selalu membuat aturan yang memperkuat nilai-nilai luhur. Di ponpes, selalu ada santri yang menjadi petugas keliling di malam hari. Selain melaksanakan ronda malam, santri itu juga membangunkan rekan-rekannya untuk shalat malam.

Tak lupa, ada juga kegiatan olahraga, termasuk ilmu jaga diri. Santri, selain sehat jasmani, juga bugar secara spiritual.

Setiap ponpes di Bumi Pertiwi ini memang memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang punya keunggulan bidang pertanian, teknologi, kemaritiman hingga dalam hal mempelajari kitab kuning yang dinilai berat bagi generasi sekarang.

Tetapi yang jelas, ponpes kini telah mendapat pengakuan setelah pemerintah memberlakukan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sayangnya, lembaga pendidikan Islam tersebut belumlah menggembirakan. Masih ada ponpes kehidupannya berjalan terseok-seok, bergantung dari dukungan dana para donatur.

Hal itu dapat dipahami. Jika ditengok, ponpes memang kebanyakan berstatus swasta. Keberlanjutan kehidupan ponpes sangat tergantung dari peran kyai bersangkutan. Seperti juga para ulama terdahulu, hingga kini kyai yang mengasuh ponpes bekerja iklhas.

Mereka itu tak henti-hentinya mendorong dan memotivasi santri untuk terus meningkatkan kualitasnya.

Pengakuan pemerintah akan eksistensi santri yang diwujudkan sebagai Hari Santri Nasional pada 22 Oktober,  memberi ketegasan pada semua pihak bahwa peran santri dan kyai (ulama) di negeri ini memberi banyak kontribusi  nyata bagi kemajuan bangsa.

Penetapan Hari Santi Nasional—yang ditetapkan Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal beberapa tahun silam—adalah wujud pengakuan pemerintah dari resolusi jihad para ulama. Umat Islam, termasuk para santrinya, telah menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negeri ini.

Termasuk melalui resolusi jihad Nahdlatul Ulama (NU), dimana warga Surabaya dan para ulama Indonesia berhasil mengusir tentara Sekutu yang saat itu ingin kembali menguasai Indonesia setelah mengalahkan Jepang dalam Perang Dunia 2.

Bermula dari gerakan fundamental melawan penjajah, para santri yang berkobar semangat jihad itu menyerbu. Entah dengan cara apa mereka melawan, yang pasti spirit illahi yang mereka sulut di dada menjadi bara yang menyala.

Teruslah berjuang para kyai, para santri, karena sepandai apapun manusia, tanpa akhlak hanya akan menjadi seonggok daging tanpa pegangan.

Selamat Hari Santri Nasional!

Wallahu ‘alam bisshowab..