Ulama bernama lengkap KH Thoyyib Syamsuddin ini dikenal punya ciri unik. Beliau seringkali berpegian sembari membawa senter dan membagikan amplop berisi sejumlah uang pada mereka yang membutuhkan.

Bahkan, pernah pada satu kesempatan sesudah menerima amplopan setelah mengisi pengajian, beliau langsung berangkat ke daerah-daerah yang masjidnya perlu dibangun. Uang yang diperolehnya langsung dibelikan kebutuhan yang diperlukan masjid-masjid tersebut.

Mulai dari cat, material bangunan, hingga gapura. Abah Thoyyib memang punya cita-cita membangun masjid sebanyak-banyaknya—dengan warna hijau. Salah satu masjid yang sekarang bisa dinikmati oleh peziarah adalah Masjid Ibrohim Asmorokondi di Tuban. Beliaulah yang memugar dan menata bangunan makam itu, dari hasil uangnya sendiri.

Sementara pondok pesantrennya dijuluki Pondok Laku oleh masyarakat sekitar. Ini karena para santri, baik putra maupun putri yang menuntut ilmu di sana tak hanya diajari ngaji dan ilmu agama saja, melainkan juga ilmu bercocok tanam, beternak, hingga berdagang.

***

Meski sudah dikenal masyarakat dan disegani,beliau tetap menjaga kebiasaan yang dilaukan sedari muda. Di antaranya kebiasaan menjaga sholat sunnah rowatib dan puasa sunnah sepanjang umur beliau. Selain itu, Abah Thoyyib juga rutin sowan ke sejumlah kiai sepuh.

Beberapa kiai yang sering dikunjunginya diantaranya Mbah Abdul Hamid Kajoran Magelang, Mbah Yunus Banyuwangi, Mbah Nur Moga Tegal, Mbah Arwani Kudus, Kiai Muhammad Sedayu, serta banyak kiai lain, tak terbatas hanya di tanah Jawa saja.

Semasa hidupnya, Abah Thoyyib juga rutin mengajar di pesantren. Beliau banyak mengajarkan pada para santrinya agar mereka tak hanya belajar satu ilmu saja. Muridnya juga diwajibkan mengikuti perkembangan terkini, khususnya keterampilan yang berguna saat berinteraksi dengan masyarakat.

Karena itu, pada para santri, beliau mengajarkan keahlian mengerjakan bangunan, bertani, berkebun, dan bekerja dengan banyak keahlian. Selain bekerja, tentu saja muridnya selalu diingatkan untuk tak lupa beribadah.

Karena itulah, masyarakat lebih mengenal Pondok pesnatren Abah Thoyyib dengan sebutan Pondok Laku. Meski mengedepankan para santri untuk membuka cakrawala keilmuan, Abah Thoyyib tetap menekankan bahwa yang nomer satu adalah ilmu agama.

***

Diceritakan oleh PW LTN Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Ahmad Karomi, ada satu kisah menarik saat beliau mendatangi pengusaha tambak yang cukup kaya di Tuban dan Bojonegoro. Kepada sang pengusaha yang sudah bergelar haji ini, Abah Thoyyib mengingatkan untuk mengeluarkan zakat.

Namun, maksud Abah Thoyyib untuk mengingatkan pebisnis itu bertepuk sebelah tangan. Pebisnis itu  menganggap bahwa berzakat adalah kegiatan membuang uang dan pemborosan.

Ketika anjurannya tidak diindahkan, Abah Thoyyib tak ingin memaksa. Beliau lebih memilih pergi. Tapi sesampai di dalam mobil, Abah Thoyyib langsung berbisik kepada Khadam (sopir nya).

“Titenono omonganku. Nggak sampek rong tahun wak kaji iki entek bondo dunyone, soale wes pelit ngetokno zakat.”

Sang sopir hanya mengangguk, tak paham dengan kata-kata Abah Thoyyib.

Tak sampai satu tahun, terdengar kabar bahwa bisnis udang dan bandeng pengusaha yang sudah naik haji itu bangkrut lantaran terserang hama. Karena tak menyangka mendapat cobaan yang menghancurkan bisnisnya, pebisnis itupun terserang stroke dan akhirnya meninggal.

Tak berhenti sampai di situ, setelah si pengusaha itu meninggal, tak lama kemudian sang istri juga menyusul.

***

Banyak riwayat menyebutkan bahwa Abah Thoyyib selalu menerapkan motto man talataina, fanaina yang artinya, siapa yang telaten, bakal panen. Beliau Juga sering mengingatkan santrinya untuk terus bersikap sabar, nriman, loman, akas, temen, lan ngalah.

Petuah ini terus diikuti para muridnya, disebar ke seluruh penjuru, meskipun Abah Thoyyib sudah tiada.

Wallahu A’lam..