Karomah Bu Nyai Sinta Nuriyah Wahid (1): Puasa Setiap Hari Tak Pernah Putus, Istiqomah Safar Sampai Pelosok Nusantara

Pada artikel sebelumnya, dikisahkan, tanpa sang suami tercinta yang meninggal sejak 2009 lalu, Bu Nyai Sinta Nuriyah Wahid tetap melanjutkan misi suami tercintanya untuk terus menyemai harapan bahwa warga Indonesia bisa hidup damai berdampingan dengan beragam suku, bangsa, agama, aliran kepercayaan, dan bahkan perbedaan pandangan.

Ketika dulu saya menimba ilmu di pondok pesantren, salah seorang guru saya pernah berkata al istiqomah ainul karomah wa haqiqotul karomah husnul khotimah, yang berarti laku istiqomah adalah substansi dari karomah, dan karomah akan sumber dari kebaikan di akhir. Pesan ini benar-benar dijalani dengan baik oleh Bu Sinta.

Beliau senantiasa istiqomah memperjuangkan kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang. Dengan pemikiran beliau yang inklusif, beliau dekat dengan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.

Dikisahkan oleh KH M. Misbahus Salam, keistiqomahan Bu Sinta inilah yang menjadi karomah bagi beliau. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah pernah berkata, pekerjaan-pekerjaan (yang baik) yang lebih disukai Allah adalah pekerjaan yang terus-menerus dikerjakan walaupun pekerjaan itu sedikit.

Dijelaskan pula dalam syarah Al Hikam Al-‘Athoiyyah, bersungguh-sungguhlah menjalankan syariat, thariqah, dan hakikat karena sesungguhnya istiqomah itu lebih utama ketimbang seribu karomah.

Istiqomah adalah konsekuen pada akidah yang benar, melanggengkan diri pada ilmu yang bermanfaat, beramal shalih, ikhlas yang murni, selalu meniatkan segala sesuatu pada hadirat Allah, serta berpaling dari selain Allah.

“Sudah banyak yang tahu, bahwa beliau adalah sosok yang sangat humanis dan pluralis. Sebagaimana yang dicontohkan Gus Dur selama beliau masih hidup. Namun, selain itu, tak banyak orang bisa selalu konsisten dengan misi kebaikan seperti yang dilakukan Bu Nyai,” ujar Kyai Misbah.

Semangat Bu Sinta juga tertuang dalam Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) dan PUAN Amal Hayati. Semangatnya yang selalu ingin masuk ke dalam berbagai golongan, tanpa batas dan bahkan memberikan bantuan terbaik yang kemudian menular ke orang-orang yang berada di sekitarnya.

Tanpa terkecuali, Bu Sinta juga mengabdikan dirinya ke dalam keberpihakan gender. Semangat ini bahkan sudah ada sejak dia belajar di pesantren dan Program Kajian Wanita Universitas Indonesia—sekarang Kajian Gender.

Sinta Nuriyah menginisiasi PUAN pada Juli 2000, tiga tahun setelah menjadi ujung tombak kelahiran Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) pada 1997.

“PUAN itu (akronim) Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan. Amal artinya harapan. Hayati artinya hidupku,” ujar Sinta Nuriyah seperti dilansir dari Lokadata.

PUAN Amal Hayati bergerak dalam kasus-kasus yang di antaranya melibatkan kekerasan terhadap perempuan. Dalam bergiat, lembaga tersebut menjadikan pesantren sebagai basis gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Beliau berpandangan, kiai atau ulama adalah salah satu sosok sentral dalam suatu komunitas. Entah di perkotaan maupun pedesaan. Dengan menyasar ke pondok pesantren, beliau mencoba menyampaikan misi PUAN ke dalam pondok pesantren, sehingga pesantren-pesantren tak hanya sekadar menjadi tempat belajar tapi juga menjadi basis utama penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

FK3 pernah mengkritisi sekaligus menafsir ulang atas kitab kuning dengan bias gendernya yang sangat kental. Bukunya yang berjudul Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah Kitab Uqud Al-Lujjayn dianggap kontroversial karena menafsir ulang ‘Uqud Al-Lujjayn dengan sudut pandang yang “baru”. 

Kitab ‘Uqud Al-Lujjayn adalah salah satu kitab yang banyak membahas hubungan suami istri. Di dalam kitab ini, banyak dijelaskan tindak tanduk suami dan istri dalam keluarga. Yang disayangkan oleh Bu Sinta, dalam kitab ini banyak dijelaskan bagaimana perempuan harus melayani suami dengan sedemikian rupa.

“Di dalam kitab itu, dijelaskan penindasan kepada perempuan betul-betul. Perempuan harus melayani suami dengan sedemikian rupa. Apa-apa harus pamit, harus segala macam,” ujar Bu Sinta dalam wawancaranya dengan Bonardo Maulana Wahono.

Tafsir ulang kitab karya ulama terkemuka, Nawawi Al-Bantani tersebut tak asal gebrak rame. Banyak penjelasan dalam kitab tersebut yang menurut FK3 bisa dipelajari kembali dengan mencari dasar lain dari Al-Quran dan kitab-kitab terpacak.

Hal ini sepenuhnya benar, karena dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang artinya, mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun pakaian bagi mereka. Secara tak langsung ayat ini menunjukkan, pada dasarnya baik laki-laki maupun perempuan saling membutuhkan satu sama lain. Tak ada ketimpangan dari keduanya, dan tidak boleh ada istilah “berkuasa” dari salah satu gender kepada gender lainnya.

Bu Sinta merasa ada ketimpangan gender antara laki-laki dengan wanita. Ia menyadarinya jauh sejak menjadi santri. Ingatannya ini terbawa hingga Ia menjadi salah satu aktivis yang aktif menyuarakan kesetaraan gender serta agama sejak 90-an melalui Nahdlatul Ulama.