Kisah Bu Nyai Sinta Nuriyah Wahid sebelumnya bisa dibaca di sini:

Karomah Bu Nyai Sinta Nuriyah Wahid (2): Perjuangan Bagi Derap Langkah Perempuan

Bagi sebagian umat Islam, entah disengaja atau tidak, ada beberapa pihak yang begitu anti perayaan hari besar agama lain. Saking alerginya, bahkan sampai ada yang mengkafirkan saudara seagamanya sendiri.

Mungkin benar kata salah seorang kerabat saya di grup WhatsApp keluarga besar. Dua hari lalu, dia mengirimi saya sebuah gambar tangkapan layar cuitan akun twitter saya sendiri.

“Kamu kan anak pondok, harusnya tahu kalau mengucapkan selamat Natal itu merusak akidah muslim! Masa kamu kayak gitu aja nggak tahu!” ujarnya mengomentari twit saya.

Entah apa maksudnya. Padahal, di cuitan saya tersebut, saya hanya menulis yang intinya “terlepas dari agama, aku adalah manusia.” Saya dikira kurang ajar sama agama Islam yang tak lain adalah agama yang sudah saya peluk selama 25 tahun.

Ya, mungkin saja saya yang salah karena menurut saya, mau beragama atau tidak, selama seseorang tak menghina kepercayaan orang lain, ya nggak jadi masalah. Mungkin kerabat saya yang benar, seorang muslim memang harus memegang teguh akidah menurut pengertian kitab dan sunnah.

Entah sunnah yang mana, karena saya bukan ahli agama yang paham semua hadist layaknya Ibnu Hajar Al-Asqolani.

Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan tersebut dengan kalimat, “Nggih pun, menawi kulo salah mugi mawon Gusti Pengeran paring pangapunten, Rasulullah paring syafaat.”

Jawaban tersebut saya berikan dengan maksud mendinginkan suasana panas. Tapi, bukannya ngadem, kerabat saya malah japri. “Kamu itu dikasih tahu kalau salah kok malah gitu, akidah kita itu akidah Islam!” ujarnya.

Saya pun membalas agak panjangan.

Nggih om, biar urusan akidah hubungan saya sama Allah, biar Allah yang menentukan mana yang benar. Saya hanya menjalankan apa yang saya percayai. Akidah ke-Islam-an saya juga biar Allah yang menilai. Mari, om sama saya sama-sama ibadah, diterima atau nggak ya kita kembalikan pada Allah.”

Jawaban saya ini hanya dibalas singkat,”Orang dikasih tahu kok malah keras kepala.

Yah, mungkin saya juga keras kepala. Tapi hal ini mengingatkan saya kembali pada wawancara saya dengan KH Misbah tiga hari sebelumnya.

“Kita, sebisa mungkin jangan sampai lupa, Mas. Agama Islam adalah agama yang sempurna, agama yang sudah disempurnakan oleh Allah. Namun, jangan lantas kita sebagai pemeluknya, merasa ujub, merasa lebih baik dari orang lain,” ujar KH Misbah.

Kami berdua banyak berbicara tentang mendiang Gus Dur dan Bu Nyai Sinta Nuriyah Wahid, tentang bagaimana sang istri tetap menjadi melakukan nilai-nilai yang dilakukan Gus Dur selama beliau masih hidup.

Salah satu kisah yang beliau ceritakan adalah agenda sahur bareng. Hampir tiap tahun, selama 23 tahun terakhir, Bu Sinta menggelar sahur dan buka bersama dengan banyak kalangan dari berbagai latar belakang, yang juga termasuk dengan kalangan non-muslim.

Beliau, seperti sang suami, ingin menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menyapa kalangan bawah dan mereka yang dianggap berbeda. Bu Sinta datang ke daerah-daerah terpencil tanpa memandang apapun agamanya. Beliau mendatangi tempat-tempat yang  tak banyak diperhatikan kalangan agama.

KH Misbah, yang sudah menemani Bu Sinta sejak tahun 2000 bercerita bahwa Bu Sinta pernah berbuka dengan para pemulung di lokasi TPA yang kumuh, dengan ODHA, dengan masyarakat miskin kota, dengan penderes kelapa di ujung lereng Gunung Slamet.

Bu Sinta, di lain kesempatan, bahkan juga sahur bersama dengan para penghuni sebuah RS Jiwa, termasuk Sumanto di dalamnya.

“Beliau ingin menjadi jembatan, menyambung yang putus, merapatkan yang renggang, menyatukan Indonesia yang memiliki banyak latar belakang, dan menjadikan Ramadan sebagai bulan yang penuh kasih bagi semua manusia, tak hanya umat Islam,” ujar Kiai asal Jember ini.

Bu Nyai Sinta seakan tak mendengar beberapa suara sumbang yang mencemooh, menyebutnya sbukan lagi sosok sentral Islam di Indonesia. Terlepas dari itu semua, Bu Nyai Sinta justru menjadi seorang muslimah yang mengenalkan Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya Islam yang rahmatan lil muslimin saja.

Wallahu a’lam bishawab..