Sumber: Al Habib Aly Muhammad Bin Alwy dan lainnya.

Dakwah Islam di Tanah Jawa sejatinya telah ada ratusan tahun, bahkan jauh sebelum masa Wali Songo. Di wilayah Lumajang, Jawa Timur pada sekitar abad 12-13 Masehi, dikenal sosok penyebar Islam yang terkemuka bernama Syeikh Abdurrahman Assyaibani.

Penyebar agama Islam yang juga dikenal dengan nama Syech Bintungan Tinggi ini, bernama lengkap Abdurrahman bin Muhammad bin Syaiban bin Aly bin Abbas bin Syafi’ bin Tsaqib bin Umar bin Utsman bin Abu Bakar bin Utsman bin Muhammad.

Syekh Abdurrahman Assyaibani merupakan seorang ulama Persia yang disegani oleh berbagai kalangan. Sang kakek, Syekh Abdurrahman Assyaibani, adalah Syekh Qutb Syaiban Al Iraqi Al Bagdadi, yang tak lain merupakan sepupu Imam Ahmad Bin Hambal Assyaibani.

Syekh Abdurrahman muda pernah menuntut ilmu agama di Mekkah, hingga mampu menghafal Alquran dan hadist di usia muda. Beliau juga telah melaksanakan ibadah haji sebanyak 28 kali.

Menginjak usia 30 tahun, Syekh Abdurrahman memutuskan hijrah ke Yaman. Tak lama setelah keputusannya itu, beliau mendapatkan mandat dari raja Turki Utsmani pertama yang memerintah kala itu, Amir Ghazi, untuk berdakwah ke timur, yang tak lain adalah Nusantara.

Tak jelas di mana lokasi pertama yang dikunjungi Syekh Abdurrahman di sini. Namun, beberapa sumber menyebut, Aceh jadi lokasi pertama penyebaran dakwah—sambil berbaur dan berdagang.

Tak lama setelah  bermukim di Tanah Serambi Mekkah, Syekh Abdurrahman menikah dengan Cut Nazilah dan Sheikhoh Aisyah Binti Muhammad Al Marbawi. Setelah itu, beliau mulai menyebarkan agama Islam, dari Aceh sampai Ternate.

Syekh Abdurrahman tak pernah menggunakan kekerasan dalam menyebarkan Islam. Beliau berdakwah dengan sangat santun, memberi contoh kepada para petinggi setempat untuk dapat menjadi tauladan bagi rakyatnya, membantu pembangunan di tengah-tengah rakyat, dan mau selalu belajar kepada siapapun.

Dengan cara ini, para petinggi pun percaya dan banyak yang masuk Islam.

Jejak Syekh Abdurrahman di Lumajang

Sekitar tahun 1250 Masehi, Syekh Abdurrahman Assyaibani tiba di Kerajaan Lamajang (sekarang Lumajang) dan mulai menyebarkan Islam.

Kedekatan Kerajaan Lamajang dengan tokoh-tokoh Islam jadi salah satu faktor yang memuluskan dakwah Syekh Abdurrahman. Dengan cara dakwah yang begitu mengena, Syekh Abdurrahman mampu menyentuh hati keluarga kerajaan. Hingga akhirnya beliau menikahi Roro Wulandari, bibi dari Minak Koncar Lumajang.

Saat berada di Lumajang, Syekh Abdurrahman Assyaibani beberapa kali menunjukkan karomahnya. Di antaranya, bisa berbicara semua bahasa, termasuk bahasa malaikat, jin dan hewan. Konon, apabila Syekh Abdurrahman Assyaibani memohon sesuatu pada Allah, maka dengan mudah akan dikabulkan.

Selain itu, beliau juga diyakini bisa mencapai tempat yang jauh dalam hitungan detik.

Syekh Abdurrahman Assyaibani juga pernah menjadi penasihat penguasa Lumajang kala itu, Raden Arya Wiraraja yang sebelumnya jadi Adipati Sumenep. Raden Arya merupakan salah satu tokoh yang membantu Raden Wijaya mendirikan Majapahit, sehingga diberikan kekuasaan di daerah sekitar Lumajang, Probolinggo, hingga Banyuwangi (Lamajang Tigang Juru).

Makam Raja Arya Wiraraja dan sejumlah senopati Kerajaan Lumajang memang berdekatan dengan makam Syekh Abdurrahman. Ini membuat banyak yang meyakini bahwa Raja Arya Wiraraja sudah memeluk Islam di akhir hayatnya.

Hal ini juga diperkuat fakta bahwa raja kelima Kerajaan Lamajang, Arya Tepasana, menikahkan kedua putrinya dengan keluarga Wali Songo. Putrinya, Nyimas Ayu Tepasari diperisteri oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati). Sementara putrinya yang lain, Nyimas Ayu Waruju, diperisteri Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Syekh Abdurrohman Assyaibani juga dikenal memiliki banyak murid. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah Syekh Abdullah dari Lumajang dan Syekh Muhammad Anas dari Demak.

Hingga akhirnya beliau meninggal di usia 189 tahun, meninggalkan banyak murid, ilmu, dan pesatnya perkembangan Islam, sampai saat ini.

Wallahu ‘alam bisshowab..