Entah apa alasan Olivier Giroud selalu dimainkan dalam skuat utama Timnas Prancis oleh Didier Deschamps, sang pelatih. Padahal, skuat ini juga diisi deretan pemain bintang lain.

Mulai dari Paul Pogba, Antoine Griezmann, sampai N’golo Kante.

Banyaknya pemain berkualitas berpaspor Perancis ini memang jadi keunggulan tersendiri. Jelas mempermudah Deschamps memilih pemain yang sesuai dengan skema terbaiknya.

Berkat kedalaman skuatnya pula, Timnas Perancis bisa membuktikan diri sebagai tim terbaik dunia dengan menjuarai Piala Dunia 2018.

Namun, kebiasaan unik Deschamps yang sering sekali memainkan Giroud dibandingkan penyerang lain di skuat Perancis mungkin membuatnya terkesan “pilih kasih”.

Meskipun sering dihujani kritik lantaran selalu memilih Giroud, Deschamps seakan tak bergeming. Padahal saat berada di Chelsea, Giroud tak sering dimainkan karena performanya tak bisa dibilang mentereng.

Sejak kompetisi 2019-2020 bergulir, Giroud sudah lima kali diturunkan. Dari lima pertandingan, penyerang 33 tahun itu belum satupun menyarangkan gol ke gawang lawan. Tak ayal, kondisi tersebut membuat Deschamps disudutkan.

Saya sendiri sudah ngerasani hal ini sejak lama. Menurut saya, ada hubungan misterius antara Deschamps dengan Giroud di luar hubungan profesional antara pemain dengan pelatih.

Hubungan ini membuat Giroud selalu dan akan menjadi pilihan utama dan ujung tombak Les Blues, setidaknya sampai ia pensiun atau Deschamps dipecat.

Berbagai pihak pun mendorong Deschamps sepatutnya memberi kesempatan bagi penyerang Manchester United, Anthony Martial, untuk jadi penyerang di tim utama skuad Prancis. Apalagi, performa Martial juga semakin membaik.

Selain Martial pun, masih ada Karim Benzema yang sedang dalam performa baik akhir-akhir ini. Pemain berusia 31 tahun tersebut sudah mencetak 10 gol dalam 12 pertandingan bersama Real Madrid musim ini.

Tapi dibanding Martial, Benzema bernasib lebih buruk di Timnas Perancis. Pintu kembali ke skuat dipastikan sudah tertutup baginya. Deschamps bahkan menegaskan bahwa memanggil kembali Karim Benzema akan jadi hal buruk untuk tim.

Sudah lebih dari tiga tahun Benzema tak pernah lagi dipanggil membela Perancis. Pemain keturunan Aljazair itu pun juga sudah cukup lama absen membela Le Blues. Terakhir kali Benzema membela Prancis pada Oktober 2015.

Maka dari itu, melalui cuitan Twitternya, Benzema mengancam Noel Le Graet (Presiden Federasi Sepakbola Perancis) bahwa dirinya akan membela negara lain saja.

Ini dipicu pernyataan Noel dalam sebuah wawancara dengan Radio Montecarlo, yang menjelaskan bahwa karier Benzema bersama Les Blues sudah berakhir. Benzama pun berang.

“Noel, saya pikir Anda tidak bisa ikut campur dengan keputusan pelatih Timnas!” tulis Benzema di akun Twitter resminya.

“Anda harus tahu bahwa hanya saya yang akan memutuskan kapan karier internasional saya selesai. Jika Anda pikir karier saya sudah tamat, biarkan saya bermain untuk negara lain yang bisa saya bela dan kita lihat hasilnya,” lanjut Benzema.

Terlepas dari tren baik yang ditorehkan Martial dan Benzema, Deschamps toh masih memilih Giroud sebagai ujung tombak andalannya.

Giroud sendiri sukses menjadi pahlawan Tim Perancis ketika menundukkan Moldova di Stade de France melalui titik putih. Namun di level klub, ia bukanlah pilihan utama Frank Lampard, pelatih The Blues.

Kedatangan Lampard memang membawa perubahan bagi Giroud. Musim lalu, di bawah asuhan Maurizio Sarri, Giroud berperan sebagai pemantul bola sembari menunggu pemain yang lebih kreatif seperti Eden Hazard dan Willian datang menjemput bola.

Di bawah asuhan Lampard, barisan depan The Blues dituntut untuk bermain aktif dan menciptakan peluangnya sendiri. Selain itu, pressing dan intensitas tinggi yang diterapkan Lampard dalam strateginya juga tidak cocok bagi Giroud yang tak punya keunggulan dalam hal kecepatan.

Parahnya, menyikapi hal ini, Deschamps bahkan sempat meminta Lampard agar Giroud diberi waktu bermain lebih banyak. Mungkin Deschamps was-was dengan situasi terkini Giroud yang bisa membuat kemampuannya menurun seiring makin bertambahnya umur.

Sejauh ini, Giroud memang bisa dibilang pemain yang banyak bejonya. Salah satu contohnya di Piala Dunia 2018 lalu. Meski dipasang sebagai ujung tombak, Giroud hanya menorehkan satu assist tanpa gol.

Padahal patut digarisbawahi, Giroud adalah penyerang murni.

Mau tak mau, Giroud harusnya sadar diri dengan keadaannya saat ini. Dengan tingkat kesulitan yang tinggi untuk mendapatkan tempat utama, pilihan Giroud adalah hengkang pada transfer musim dingin, ke klub yang bisa memberikan menit bermain lebih banyak.

Hal ini bertujuan agar ia tetap fit menjelang Euro 2020 nanti. Karena tentu saja ia tak bisa melulu hanya mengandalkan kebejoannya atau kedekatannya dengan Deschamps.