Sepertinya menghapuskan rasisme dari muka bumi layaknya candu narkoba. Seseorang tak akan pernah bisa benar-benar lepas dari kebiasaan rasis kalau dia dasarnya emang nggak mau berubah. Apalagi kalau sudah jadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Contohnya seperti perilaku rasis para suporter pada pemain sepakbola di Liga Aki-aki (sebutan akrab untuk Liga Serie A Italia).

Yang terbaru adalah perlakuan rasis yang diterima Mario Balotelli ketika Brescia bersua Hellas Verona di pekan ke-11 Serie A Italia.

“You can’t delete racism. It’s like a cigarette. You can’t stop smoking if you don’t want to, and you can’t stop racism if people don’t want to!”

Enam tahun lalu, Super Mario (julukan Balotelli), mengucapkan kata-kata itu dalam sebuah wawancara dengan Sports Illustrated.

Kala itu, dia berada di puncak prestasinya. Menjadi pemain penting di Timnas Italia dan menjalani setengah musim yang lumayan sukses di Milan.

Balotelli bisa dibilang sebagai atlet sepakbola yang sudah memenuhi “syarat penyerang ideal.” Fisik setinggi 189 cm membuatnya unggul dalam bola-bola atas. Ditambah dengan kemampuan long shot yang mumpuni, membuatnya selalu mematikan. Baik di luar atau dalam kotak penalti.

Namun, bahkan untuk pemain sekelas Balotelli yang dikenal berprestasi, bengal, dan bar-bar, ia mengaku tak bisa menghentikan penggemar sepakbola di negara asalnya dari kebiasaan melecehkan perbedaan warna kulit.

Balotelli berhak untuk bersedih. Ia sudah seharusnya kecewa. Semenjak Serie A bergulir di tahun 1929, entah sudah berapa kali kasus cemoohan rasis dilemparkan suporter pada pemain. Tak terkecuali bagi pemain Gli Azzuri sendiri.

Seakan tak mau belajar dari masa lalu, Serie A musim ini yang baru berjalan 11 pekan, sudah memakan banyak korban. Beberapa kejadian rasis sudah dilakukan oknum suporter di musim ini.

Mulai sorakan menyerupai monyet suporter Cagliari ketika Romelu Lukaku mengambil bola pinalti, atau ketika pendukung Atalanta yang mengejek Dalbert (pemain Fiorentina). Ada pula teriakan rasis yang dilakukan suporter AS Roma ketika melawan Sampdoria. Chant rasis tersebut ditujukan pada gelandang Sampdoria, Ronaldo Vieira.

Tercatat, ada pula Fabio Liverani, pemain berkulit hitam pertama di Timnas Italia yang juga tak lepas dari cacian rasis di tribun penonton.

Sampai saat ini, Liverani, korban rasisme Seria A, masih mengingat masa-masa menyedihkan itu hingga kini. Hal yang sama masih berulang, meski sudah berganti generasi tradisi rasisme di Italia, terutama di ranah sepakbola yang nyatanya, masih berlanjut hingga kini.

Yang unik adalah kejadian beberapa waktu lalu setelah pertandingan berakhir 2-1 untuk Verona. Manajer Verona, Ivan Juric, justru menyangkal tindakan rasis yang dilakukan suporter timnya.

“Aku tidak takut mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi,” ujarnya. “Ada siulan keras dan ejekan tetapi tidak ada nyanyian rasis. Tidak ada apa-apa. Saya seorang Kroasia dan saya mendengar ‘omong kosong Gypsy’ kadang-kadang.  Itu adalah kecenderungan di Italia. Tetapi hari ini tidak ada apa-apa,” tambahnya, dilansir The Guardian.

Juric mungkin tidak mendengar nyanyian nyanyian rasis dari tribun (atau mungkin ia pura-pura tak mendengarnya). Tetapi beberapa pemain timnya yang mengetahui hal itu, jelas-jelas bereaksi pada tindakan fans yang “sangat memalukan” itu.

Video petingkah suporter Hellas Verona yang menjijikkan ini bisa dengan mudah kalian tonton di YouTube.

Sudah sering terjadi. Ketika sebuah klub menganggap enteng tindakan rasis fansnya, biasanya manajemen akan menganggap suatu cemoohan rasis dari tribun hanya sebagai “ungkapan sarkas dan bukan rasis.”

Meski sudah berulang kali terjadi, FIGC selaku induk sepakbola Italia tampaknya masih setengah hati menindak tegas pelaku rasis.

Contohnya ketika fans Inter meneriaki Kalidou Koulibaly dengan sebutan monyet pada Desember 2018 lalu. Bukannya mendukung Koulibaly, FIGC justru menolak banding Koulibaly atas kartu merah yang diberikan wasit. Alasannya, Koulibaly dianggap bersikap tidak menghormati wasit saat protes atas tindakan fans.

Alih-alih mendapat keadilan, Koulibaly malah harus melakoni sanksi larangan bermain di dua pertandingan. Oalah…

Dalam kasus rasis, tim di Liga Aki-aki mungkin harus belajar pada tim Liga Inggris. Contohnya adalah langkah cepat yang dilakukan Manchester United ketika bertemu Liverpool di pekan ke-8 EPL. Manajemen Red Devils dengan tegas mengusir salah seorang suporternya yang kedapatan menyoraki Trent Alexander-Arnold dengan kata-kata rasis. Sangar!

Tak berhenti sampai di situ, fans tersebut bahkan dilarang masuk ke Old Trafford seumur hidup!

Jadi, sampai kapan Liga Serie A Italia akan berbenah? Apakah kampanye mereka yang katanya memerangi rasisme hanyalah bualan belaka?