DNK

Kisah Istiqamah Yai Anwar Malang: Tak Pernah Mau Makan di Warung, Selalu Berendam Sebelum Tahajud

Kisah Istiqamah Yai Anwar Malang: Tak Pernah Mau Makan di Warung, Selalu Berendam Sebelum Tahajud

Sosok Mbah Yai Anwar muda dikenal sebagai seorang pemuda yang tekun belajar ilmu agama dan taat beribadah. Dari pesantren satu ke pesantren lainnya, Yai Anwar muda seolah haus akan ilmu. Mulai Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo sampai Pesantren Sidogiri Pasuruan, semua pernah dicicipinya.

Selama mondok, Yai Anwar sangat menaati perintah dari sang kyai. Termasuk saat beliau mendapat dawuh dari gurunya di Sidogiri, agar menempuh perjalanan ke selatan sembari mengamalkan ilmunya pada masyarakat.

Dimulailah petualangan Yai Anwar muda hingga sampai di daerah Bululawang, Kabupaten Malang.

Di sana, beliau dengan tekun mengajar ilmu agama pada masyarakat dan menggunakan keahliannya dalam meracik jamu. Selain untuk membantu masyarakat yang sakit, jamu buatannya  juga jadi sumber penghidupan.

Konsistensi dan khasiat dari racikan jamu ini lambat laun membuat Yai Anwar muda mendapat kepercayaan di hati masyarakat Bululawang. Apalagi, Yai Anwar selalu punya gaya khas yang mudah dikenali: gemar memakai pakaian putih atau hijau polos—tanpa pernah pakai baju bermotif.

Ini juga ditunjang sikap yang sehari-hari ditujukan Yai Anwar, yang dikenal sangat pendiam dan mungkin hanya gemar melantukan ayat Al-Qur’an dan pengajian saja.

Sikap teduh inilah yang membuat Haji Hasan, seorang warga Bululawang yang kebetulan kaya raya, terpikat pada kesalehan dan ketekunan Yai Anwar muda. Hingga akhirnya beliau mengambilnya sebagai menantu untuk putrinya, Marwiyah.

Pernikahan Yai Anwar dan Marwiyah yang dilangsungkan sekitar tahun 1935, jadi tonggak awal eksistensi Mbah Yai Anwar di Bululawang. 

Sesudah beristri, beliau tinggal di Kampung Kaji, yang dikenal sebagai tempat tinggal orang-orang kaya. Hampir semua penghuninya sudah melaksanakan ibadah haji—yang pada masa itu, jadi sesuatu yang masih terbilang mewah.

***

Selanjutnya, Yai Anwar menerima waqaf tanah yang kemudian dibangun mushola dan beberapa bidak kamar yang memang khusus dipersiapkan untuk ditinggali santri. Cikal bakal Ponpes Annur dimulai. Sementara, untuk menunjung kebutuhan hidup sehari-hari, beliau menggarap lahan pertanian seluas dua hektar.

Secara istiqomah, beliau terus merawat kepercayaan masyarakat sembari terus mendidik santri. Masyarakat pun semakin menaruh kepercayaan pada beliau, sehingga santri Ponpes Annur—yang saat itu belum bernama—terus bertambah banyak.

Peresmian formal ponpes ini baru dilakukan pada 1942. Beliau secara resmi menamai pondoknya Pondok Pesantren Annur, yang diambil dari nama ayahanda beliau. Pada masa ini beliau hanya mendidik para santri putra saja.

Begitulah perjalanan Yai Anwar muda dan awal mula Ponpes Annur.

Hingga pada tahun 1960an saat putri beliau pulang mondok dari Jombang, barulah Mba Yai Anwar mulai mencoba menerima santri putri. Putri yang menginspirasi beliau, Ibu Nyai Hj. Zubaidah, saat ini masih mengasuh Pondok  Pesantren Putri Annur 1.

Seiring perkembangan zaman, Ponpes Annur juga mulai mengembangkan Lembaga Pendidikan Formal. Inisiator dari berdirinya sekolah formal ini adalah Buya Burhanuddin Hamid, menantu Mbah Yai Anwar yang merupakan suami dari Ibu Nyai Hj. Zubaidah.

Sekolah pertama yang didirikan ini adalah Madrasah Tsanawiyah, disusul Madrasah Aliyah, SMA, SMP, dan MI. 

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri-pun terus bertambah. Hingga akhirnya didirikanlah Pondok Pesantren Annur 2 dan Annur 3 di lingkungan wilayah Bululawang. Putra-putra beliau turut serta mengembangkan Pondok Pesantren ini dalam satu naungan.

Nama Bululawang pun akhirnya masyhur sebagai kawasan perguruan Islam.

***

Banyak riwayat menyebutkan, Yai Anwar punya kepribadian yang sangat dermawan sekaligus wira’i.

Putra-putri beliau sempat menyebut, saat Mbah Yai dalam perjalanan, tak sekalipun beliau berkenan makan di warung. Beliau hanya berkenan makan bekal dari rumah. Bahkan saat melakukan perjalanan beberapa hari ke Madura, beliau memilih tetap berada dalam kendaraan saat yang lain makan di warung.

Selain itu, Yai Anwar juga sangat istiqomah. Tak pernah lepas khataman Al-Qur’an setiap dua hari sekali, senantiasa membaca wirid, dan tak pernah alpa shalat tahajud dengan terlebih dahulu mandi ‘kungkum’ di kamar mandi khusus yang saat ini masih dirawat dengan baik di ndalem kasepuhan beliau.

Sikap istiqomah ini juga ditujukan saat shalat berjamaah, di mana beliau amat berpegang teguh pada jam matahari dalam penentuan waktu shalat. Dari jam itu, beliau membunyikan klonengan penanda waktu shalat.

Klonengan Mbah Yai Anwar inilah yang senantiasa ditunggu masyarakat Bululawang sebagai penanda waktu shalat. Masjid Jami’ Bululawang pun sampai saat ini masih menjadikan klonengan Mbah Yai Anwar sebagai penunjuk waktu shalat.

Jam matahari itu masih terjaga di Ponpes Annur 2, sedangkat klonengannya dipindahkan di Kompleks Annur 3.

Mbah Yai Anwar wafat pada tahun 1992 dan meninggalkan duka cita mendalam bagi keluarga dan santrinya. Beliau dimakamkan di Pesarean Ponpes Annur 1. Beliau punya satu pesan yang paling terkenal dan tak akan dilupakan santrinya sampai saat ini.

”Monggo nderek-nderek nyetah sholihin sholihat.”