Bagaimana kisah Kiai Mahrus Aly selanjutnya? Bersumber dari Tim Sejarah BPK P2L Pondok Pesantren Lirboyo dalam buku 3 Tokoh Lirboyo, berikut kami lanjutkan riwayat kiai kharismatik ini.

Pada tahun 1936, setelah mondok di Kasingan, Kiai Mahrus Aly melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Berangkat dengan ilmu yang sudah mumpuni, beliau berniat tabaruk di Pesantren Lirboyo.

Selama mondok di Lirboyo, meskipun dikenal sebagai santri yang memiliki Ilmu yang unggul, beliau tak pernah sekalipun melewatkan kesempatan untuk mengaji. Beliau dikenal sebagai santri yang rajin mengikuti kegiatan mengaji di pondok.

Seringkali, ketika waktu libur tiba, Kiai Mahrus Aly juga nyantri pasaran (mondok selama bulan Ramadhan) di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Di sana, beliau mengaji kitab Shahih Bukhari langsung dari Kiai Hasyim Asy’ ari.

Selain itu, beliau juga ngaji berpindah-pindah pada banyak guru. Termasuk belajar ilmu manthiq pada Kiai Dalhar, Watucongol Muntilan, Magelang, selama enam bulan. Ditambah banyak pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Langitan dan Pesantren Sarang di Rembang.

Kiai Mahrus Aly sebenarnya hanya tiga tahun mondok di Lirboyo. Namun meski sebentar, kealiman beliau sangat dikenal di pondoknya. Hingga akhirnya Sang Guru, yaitu Kiai Abdul Karim, menjodohkannya dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab.

Setelah resmi menjadi menantu Kiai Abdul Karim, beliau mendapat kepercayaan membantu mengajar di Lirboyo.

Sepeninggal Kiai Abdul Karim tahun 1954, kepepimpinan Pondok Pesantren Lirboyo diserahkan pada kedua menantunya, yaitu Kiai Marzuqi Dahlan dan Kiai Mahrus Aly. Di bawah keduanya, Pondok Pesantren Lirboyo semakin berkembang.

Di bidang pendidikan modern, atas rekomendasi Kiai Mahrus Aly, didirikanlah Universitas Islam Tribakti (UIT) pada tanggal 11 Rajab 1386/25 Oktober 1966. Beliau sendiri menjadi rektor pertama UIT, yang pada awal berdirinya hanya memiliki dua fakultas, Syariah dan Tarbiyah.

***

Banyak kisah yang menuliskan bahwa Kiai Mahrus Aly merupakan salah satu sosok pejuang. Saat Jepang menjajah, beliau pernah ikut serta dalam anggota Kamikaze. Keikutsertaan itu bukan tanpa alasan. Ini dilakukan untuk menimba ilmu dari penjajah, yang nanti bisa digunakan sebagai bekal perjuangan.

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, atas inisiatif Kiai Mahrus Aly dan Mayor Mahfudh, Rahim Pratalikama (Komandan Sudanco Kediri), berhasil melujuti senjata tentara Jepang yang bermakas di Jalan Brawijaya.

Pelucutan senjata ini didukung oleh kurang lebih 440 orang santri Lirboyo. Bersama dengan tentara, mereka melucuti senjata tentara Jepang dan hasil rampasannya diserahkan pada Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Selain pelucutan senjata, Beliau juga termasuk salah satu ulama yang ikut berjuang pada 10 November di Surabaya.  Beliau adalah salah satu ulama yang ikut dalam jam’iyyah NU yang mengeluarkan resolusi jihad pada Kongres 21-25 Oktober 1945 di Surabaya.

Kiai Mahrus Aly mengirimkan 97 orang santri Pondok Lirboyo dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah, untuk ikut berperang melawan tentara Inggris di Surabaya pada 10 november 1945.

Mereka juga ikut andil melawan Belanda di Agresi Militer II tahun 1948. Santri yang dikirim tergabung dalam Batalyon 508 atau Batalyon Gelatik, yang merupakan cikal bakal Kodam VII Brawijaya (sekarang Kodam V).

Dalam sejarah pembentukan Kodam VII Brawijaya, berkat jasa-jasa beliau sebagai salah satu inisiator Kodam V Brawijaya, Kiai Mahrus Aly kemudian dipercaya sebagai sesepuh dan penasehat Kodam V Brawijaya.

Perjuangan beliau tak berhenti meski Indonesia sudah merdeka dari cengkeraman penjajah. Bangsa Indonesia masih harus menghadapi PKI yang memberontak. PKI melakukan kudeta tak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah seperti Banyuwangi, Besuki, Kediri, Blitar, Mantingan, dan salah satu yang terbesar, di Madiun.

Mengetahui kabar adanya rencana pemberontakan PKI pada 1965 di Kediri, Komandan Resimen Kolonel Sampoemo segera mengadakan kontak dengan ketua NU Cabang Kediri, Syafi’i Sulaiman.

Kolonel Sampoemo meminta agar Pak Syafi’i mengadakan apel besar warga NU, GP Ansor, dan para santri. Atas restu Kiai Mahrus Aly, pada 13 Oktober 1965, apel besar itu dilaksanakan di alun-alun Kediri–yang kemudian diteruskan dengan gerakan perlawanan melawan PKI.

Perjuangan beliau pun akhirnya menjumpa titik puncak. Pada 6 Ramadhan 1405 H/26 Mei 1985, beliau wafat di usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga, belakang Masjid Pondok Pesantren Lirboyo.

Meski begitu, tauladan dan perjuangannya tak akan pernah hilang.

Wallahu alam..