DNK

KPU Seharusnya Bikin Pasukan Ronda Nyoblos

KPU Seharusnya Bikin Pasukan Ronda Nyoblos

17 April besok, semua Homo Sapiens kategori umur diatas 17 tahun di Indonesia akan mencoblos kertas bergambar calon presiden, partai, dan calon legislatif. Kamu sudah mempersiapkan pilihan, baik presiden sampai DPRD?

Saya harap sih sudah karena deadline sudah hampir berakhir. Besok kamu kudu punya keputusan di tangan!

Pemilu 2019 adalah kali kelima bagi Indonesia melaksanakan pemilihan kepala negara dan wakil rakyat secara langsung. Kelima kali pula Komisi Pemilihan Umum (KPU) diberi mandat sebagai pelaksana sekaligus penanggung jawab dalam pemilu.

Metode pemilihan umum yang digunakan KPU sebenarnya tidak hanya terpaku pada teknik pencoblosan saja. Dulu sempat juga pakai metode contreng dengan spidol. Namun entah kenapa, kita justru kembali ke cara purba: mencoblos pakai paku.

Tapi, terlepas dari apapun teknik pemilunya, yang seharusnya jadi perhatian KPU sebenarnya adalah Gelombang Gerakan Masyarakat Golongan Putih, atau disingkat Gel Gemas Golput/3G. Kalau dibiarkan saja, ke depannya mereka laksana bola salju yang menggelinding semakin besar.

Tanpa antisipasi, ya harus siap-siap kena longsoran. Semakin dibiarkan, semakin jadi hambatan negara. Itu pendapat saya lho, monggo geruduk saya, bantai saya di medsos. Saya cuman kepengen diskusi dan saling lempar argumen dengan sehat gaes.

Alasan golput sendiri bermacam-macam. Dari alasan yang paling besar, seperti kehilangan rasa percaya terhadap capres dan caleg, hingga yang paling sepele,seperti ketiduran waktu coblosan. Alasan yang pertama mungkin bisa diterima. Tapi alasan kedua iku mbokne ancok.

Bobroknya mental orang yang nggak milih dengan alasan absurd memang jadi urusan pribadi. Tapi kalau dibiarkan, bisa jadi borok kronis yang menggelikan.

Maka dari itu, KPU harusnya memiliki tim khusus yang mengantisipasi warga negara Indonesia yang tidak datang ke TPS karena alasan seperti ketiduran, lupa alamat TPS,  hingga lupa kalo punya hak suara. B ahkan yang paling parah, nggak terdaftar di DPS karena nggak ngecek dan nggak punya e-KTP.

Fatal!

Kok sampek ada pemilih yang nggak bisa menyuarakan pilihannya karena alasan nggak jelas macam begitu? Kenapa KPU nggak mengadakan sweeping door-to-door untuk antisipasi hal ini.

KPU seharusnya bikin semacam Pasukan Ronda Nyoblos (Pandablos). Ronda bukan sembarang ronda, melainkan bertugas membangunkan orang-orang yang masih tertidur, untuk datang ke TPS menyalurkan suara. Mirip ronda sahur.

Orang-orang yang dipilih sebagai Pandablos pun nggak boleh sembarang orang, melainkan para SPG-SPG rokok yang aduhai (khusus para pria) dan para pria instruktur senam cowo yang menawan (khusus para pemilih wanita). Pasukan ini dilatih untuk mengajak pemilih menuju TPS.

Tapi kalau memang dasarnya nggak mau nyoblos dan punya sikap golput yang realistis, apa boleh buat.

Kalau itu terlalu norak, KPU bisa bikin Pasukan Sweeping Online (Paping-Line). Pasukan ini berisi para programmer-programmer handal gabungan dari satuan cyber kepolisian dan warga Indonesia yang paham teknik hacking.

Tugas mereka adalah melacak akun hingga lokasi terkini dari para pemilih. Apabila mereka ternyata masih belum mencoblos hingga menit-menit akhir, semua akun sosial media mereka semua akan di non-aktifkan hingga mereka mencoblos.

Paping-Line juga membantu para pemilih untuk mencoblos di TPS terdekat dari lokasi terkini mereka, agar mempermudah mereka untuk memberikan suara. Risikonya, website KPU mungkin yang akan down karena hacker yang mungkin golput juga banyak.

Hihihi. Lupakan recehan di atas. Yang pasti, apapun pilihan kamu, entah 01 atau 02 dan bahkan golput, itu hak-mu. Kita hidup Indonesia, negara besar yang konon merupakan negara paling demokratis di planet bumi. Apapun pilihanmu, jangan mencintai berlebih dan jangan membenci berlebih pula pada kubu lainnya.

Ini sesuai surat QS Al-Ma'idah ayat 8, bahwa apapun yang berlebihan itu nggak baik. Demikianlah pembahasan nggak penting saya yang sudah membuang-buang waktumu. Tapi setidaknya bisalah mengajakmu sedikit berpikir bahwa besok sudah coblosan.

Segera tentukan pilihan!