Mari ngebahas kematian, mari ngebahas teknologi yang bisa memprediksi bahkan merencanakan kematian!

Jadi gini, sebagian besar orang akan melakukan banyak hal demi hidup mapan, hidup enak bersama keluarga. Untuk yang belum berkeluarga, biasanya menyiapkan semuanya buat dipamerin calon mertua.

Segalanya memang tentang harta, uang yang banyak. Bisa buat beli rumah, mobil, mahar, sampai tratak buat nikahan. Ini seolah jadi hal yang niscaya

Tapi nyadar nggak sih, sebagian besar umat manusia sudah pasti berencana hidup enak dengan banyak harta melimpah. Namun, nggak semua memiliki rencana untuk mati dengan enak. Hmm..

Ngebayangin kematian memang nggak seenak memikirkan asyiknya hidup. Mati selalu erat dengan hal-hal yang berbau horor, mistis, dan menakutkan. Di Indonesia sendiri, banyak mitos yang berhembus berkaitan dengan kematian.

Contohnya, ketika seseorang meninggal pada hari Selasa Wage, maka makamnya harus dijaga selama lima hari atau sepasar. Hal ini bertujuan agar tak ada yang membongkar dan mencuri kain kafannya untuk dijadikan jimat atau sengkelit.

Nah, sementara kita masih berkutat dengan berbagai mitos gaib tentang kematian, di Inggris, seorang peneliti dari Nottingham University sudah mengembangkan AI (Artificial Intelgence) atau kecerdasan buatan untuk memprediksi kematian.

Bagi yang belum tahu, AI merupakan teknologi komputer atau mesin yang memiliki kecerdasan layaknya manusia, bahkan berkali lipat lebih baik dari manusia dalam hal efisiensi.

Tim riset yang dipimpin Dr. Stephen Weng kini tengah mengembangkan teknologi AI yang tidak hanya mampu memprediksi, namun juga bisa memberikan data secara akurat.

Machine Learning AI ini sudah mencerna data lebih dari 500.000 orang. Ngerinya, mesin ini dapat menebak individu mana yang akan mati terlebih dulu.

Dilansir Teknologi.id, sistem ini mengadopsi algoritma unik dalam mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan data manusia, termasuk perbedaan gaya hidup dan kebiasaan diet. Subjek dalam penelitian tersebut sudah diaplikasikan pada sebagian besar penduduk Inggris.

Nggak berhenti di situ. Di wilayah lain, seorang alumnus Massachusetts Institute of Technology (MIT) bernama Suelin Chen dengan startup-nya yang bernama Cake, hadir dengan sebuah gagasan sangat uhuy, rancakbana, dan manteb slur.

Cake adalah sebuah startup perencana kematian, yang memiliki misi memudahkan perencanaan segala hal terkait kematian. Sehingga di hari akhir hidupnya, para pengguna tidak akan membebani keluarga ataupun kerabat.

Cara kerja Cake diawali dengan mengajukan serangkaian pertanyaan sederhana, membantu penggunanya membuat keputusan perihal akhir hayatnya.

Pertanyaannya sangat remeh seperti, musik apa yang ingin diputar di hari pemakaman, siapa saja yang tidak boleh diundang ke pemakaman, hingga apa yang harus dituliskan di akun sosial medianya ketika si pengguna sudah tiada.

Selain hal-hal diatas, ada pula pertanyaan-pertanyaan penting seperti siapa yang akan menerima asuransi jiwa, warisan, hutang, dan bahkan mungkin, cinta yang belum tersampaikan. Semuanya bisa pula dibantu oleh Cake!

Gimana, udah lebih siap menghadapi kematian dengan bantuan teknologi? Makin memudahkanmu atau malah makin bikin ngeri?