Malaysia jancok!”

Teriak Sodik sambil misuh-misuh nggak karuan. Sontak orang-orang sak warung kopi langsung menoleh kepadanya.

Paidi, Cak Mamad, Mas Somad, dan Pak Tarno pun kaget dengan kedatangannya. Sedangkan Cak Dikin, masih fokus sama layar hapenya. Ia masih galau dengan hubungannya sama mbak pacar yang sedang dilanda gonjang-ganjing. Cak Dikin memang baru saja ketahuan menghubungi mantannya.

“Kalian pasti tahu kelakuan Malingsia itu!” Sodik mencak-mencak dengan nada tinggi.

“Berani-beraninya mereka ngelempar flare ke tribun suporter Indonesia. Mereka beraninya main keroyokan, ngantemi wong sitik lawan wong akeh. Bangsat! Awas saja kalau mereka sampai datang ke sini, bakal habis mereka!” Sodik masih ngegas dengan kata-katanya yang makin nggak aturan.

“Cangkemmu menengo, cuk! Lagi santai sore iki kon ribut ae! Opo gunane ngono iku?” Paidi yang merasa terganggu membalas Sodik dengan bacotan yang nggak kalah ngegas.

“Yo nggak ngono, Di. Iki masalah harga diri bangsa! Mosok kon rela harga diri bangsa kita diinjak-injak?” semangat Sodik masih belum padam.

“Yok opo to, Dik Sodik, dateng-dateng kok nyerocos nggak ada remnya. Kene lho ngopi disek,” kata Pak Tarno menimpali tingkah Sodik sambil nyeruput kopinya.

“Wah yo nggak gitu, Pak. Ini aksi bela negara!” Hardik Sodik.

“Ha? Opo? Bela Sapira?” Pak tarno balik bertanya.

Mendengar jawaban Pak Tarno, satu warung tertawa terbahak-bahak, kecuali Sodik.

“BELA NEGARA!!!”

“Nah itu maksudku! Aku sih udah berkali-kali dihina. Di pasar, tiap kali salah ngasih barang ke pedagang mesti dipisuh-pisuhi. Wes biasalah pokoke, tapi ya nggak ngono!” Pak Tarno dengan bijaknya menanggapi Sodik.

“Nasionalisme itu nggak nggak bisa dibandingno sama kerjaan kita sing angkut-angkut barang, Pak Tarno! Ini tentang negara!” Sodik masih ngotot dengan sikapnya.

“Oalah to, Dik Sodik, ngono kok ya mbok bawa serius. Pak Tarno mbok ajak mbahas negoro ya nggak paham. Pak Tarno iki sing penting iso mangan ambek ngudud wes Alhamdulillah. Iya kan Pak Tarno?” Mas Bimbim ikut mbales bacotan Sodik.

Sementara Pak Tarno yang ditanya cuma ngangguk sambil cengengesan.

“Gini Dik,” Mas Somad juga ikut-ikutan nimbrung, “Sebelum kita ngomong ngalor ngidul aksi bela negaramu itu, kita fokuskan dulu ke tetek bengek permasalahannya.

“Oke, ini kan terjadi dalam ranah bola. Emang sih, suporter timnas kita itu fanatiknya luar biasa. Aku setuju kalo urusan suporter itu Indonesia bisa dibilang jadi salah satu suporter paling jos sedunia.

“Tapi kalau bawa-bawa masalah bela negara sampai mau pengen perang karena ada beberapa oknum yang mancing masalah, ya nggak cocok kalo menurutku,” panjang lebar Mas Din mengemukakan pendapatnya.

“Yo mosok kita cuma diem aja sementara saudara kita dipukuli di sana mas?”

“Maksudku nggak gitu, Dik. Kita jangan sampai terprovokasi. Luwih apik kita balesnya lewat pertandingan dengan sportif kemudian menang. Jangan anarkis, apalagi kalo mbacot di sosmed,” ujar Mas Din.

“Terus bedanya kamu sama mereka apa coba kalau kamu jadi ngelakuin kata-katamu tadi. Benar kelakuan suporter Malaysia kemarin itu kebangetan. Tapi apa harus kita membalas pukulan dengan pukulan, ejekan dengan ejekan?

“Harusnya kita bisa membuktikan diri bahwa kita itu nggak lebih bar-bar dari suporter Malaysia. Kita kan manusia yang beradab, kalau memang suporter Malaysia nggak beradab, biarin aja, biarkan mereka bar-bar.

“Kita balas mereka dengan elegan, jangan malah ikut-ikutan jadi bar-bar! Apalagi sepakbola itu bukan agama, Dik. Sepakbola itu olahraga yang menyatukan dan mendamaikan.

“Jangan sampai karena sepakbola membuat kita saling berperang, nggak gitu caranya. Rasulullah nggak pernah ngasih contoh pokro kaya gitu,” Paidi ikut-ikutan nyamber Sodik lagi.

“Kapok kon Din! Diceramahi sama Ustad Paidi! Mangkane ojok misah-misuh Malaysia Jancok-Malaysia Jancok ae!” ujar Pak Tarno nyeletuk, disambut ketawa orang-orang di warung.

“Orang jahat nggak cuma ada di Malaysia, Dik. Di negara kita juga banyak. Ada oknum yang mengatasnamakan suporter klub, kemudian membunuh suporter yang lain. Kalau kayak gitu gimana menurutmu?” lanjut Paidi.

Sodik terdiam setelah mendengar jawaban dari kawan-kawan sobat seperkopiannya. Ia serasa dibrondong dengan jawaban logis yang menabrak segala ego yang sudah berapi-api sebelumnya.

“Dik Sodik, negara kita itu penduduknya banyak, Din. Jumlahnya berlipat-lipat penduduk Malaysia. Kalau semua rakyat Indonesia budal buat ngantemi Malaysia, ya ambyar.

“Tapi Nggak gitu logikanya, dik. Semua sudah ada yang ngurusi. Aku yo yakin pemerintah nggak bakalan diem aja kalo ada warganya yang ditahan di sana, apalagi ada dorongan dari suporter medsos kayak kamu ini.

“Kamu udah berjuang melalui jari jempolmu itu, Dik. Sekarang perjuangan kita adalah mendoakan saudara kita selamat sampai pulang kembali ke Indonesia,” Cak Dikin yang daritadi fokus sama hapenya sampai ikut menimpali.

“Ya boleh-boleh saja yang terhina terus bales menghina balik. Malaysia jancok lah apa lah. Tapi kalau aku sih malah Alhamdulillah, yo kan kalau aku dihina otomatis dosaku dikurangi.

“Coba kalikan aja kalau misal yang menghinaku jutaan orang terus aku sabar, ya bisa jadi investasiku di akherat besok. Menurutku, sepakbola harusnya bisa membuat kita lebih bisa menghargai perbedaan, tak hanya dalam lapangan.

“Melalui sepakbola, harusnya kita bisa saling menghargai satu sama lain. Sepakbola bagiku lebih dari sekadar olahraga, tapi juga mengajarkanku untuk lebih santun, bukan sebaliknya,” ujar Paidi.

Satu warkop tak ada yang menimpali ujaran Paidi. Mereka berlagak sibuk dengan urusan masing-masing. Tak Sodik, begitu pula Pak Tarno. Mereka seperti diberi pukulan tepat di di kepala mereka.

Ungkapan Paidi benar-benar menutup diskusi kopi sore itu dengan senyum malu-malu. Seiring dengan matahari yang mulai menghilang ditelan malam.