Disampaikan oleh Mas Udin, tokoh setempat.

Kisah Kampung Ndresmo di kawasan Sidosermo Surabaya sudah tersebar dari mulut ke mulut. Menjadi semacam legenda yang banyak disampaikan, hingga beredar luas di masyarakat. Meski sejarahnya belum bisa dipertanggung jawabkan secara nyata, cerita ini patut dijaga agar anak cucu kita kelak bisa memetik pelajaran.

Saat saya ingin mengklarifikasi kisah kampung ini, beberapa kali saya harus mencari sumber yang tepat. Ini karena adanya kesimpangsiuran cerita. Beberapa cerita bahkan tidak runtut. Hingga akhirnya saya diarahkan untuk mendatangi Mas Din, salah satu tokoh di Ndresmo yang bisa menceritakan dengan sejelas-jelasnya.

Menurut penuturannya, perkampungan Ndresmo yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Wonocolo ini bermula dari jalan dakwah KH Mas Sayyid Ali Akbar, kiai setempat. Ajarannya kemudian diikuti masyarakat sekitar yang menjadi santri, dan berlanjut hingga berdirinya banyak pondok pesantren.

Berikut kisahnya.

*

KH Mas Sayyid Ali Akbar, ulama terkemuka di Ndresmo, dikenal sebagai putra Sayyid Sulaiman, cucu Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat.

Menurut Mas Din, Sayyid Sulaiman, ayah KH Mas Sayyid Ali Akbar dan Sayyid Arif, saudaranya, dulu sempat berkelana ke Jawa Timur. Mereka ingin berguru di pondok pesantren yang diasuh Raden Rohmat (Sunan Ampel) di Surabaya.

Ketika menimba ilmu di sana, aura ulama besar keduanya barangkali sudah terbaca. Sebuah riwayat menyebut, pada suatu malam ketika Sunan Ampel melaksanakan salat malam, beliau melihat ada dua orang santri yang memancarkan sinar saat tidur.

Oleh Sunan Ampel, kedua orang santri itu masing-masing diikat kain jariknya. Ini demi menandai, siapa gerangan keduanya.

Keesokan harinya setelah menunaikan salat subuh, semua santri dikumpulkan. Lantas Sunan Ampel bertanya:

“Wahai para santri, siapa di antara kalian yang merasa kain jariknya terikat? Silakan datang padaku.”

Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman pun langsung menghadap Sang Sunan.

Saat menemui keduanya, Sunan Ampel langsung bertanya.

“Barang apakah yang paling berharga di dunia ini?” tanya Sunan Ampel.

“Emas!” jawab Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman serempak.

Sunan Ampel pun tersenyum. Tak lama setelah itu, beliau memberikan gelar “Mas” pada keduanya. Maknanya, ilmu keduanya dianggap amat berharga untuk umat manusia kelak.

Setelah cukup lama berguru pada Sunan Ampel, keduanya pun diutus untuk sowan kepada Mbah Sholeh Semendhi Pasuruan dan menyampaikan salamnya. Saat keduanya mendatangi Mbah Sholeh, tiba-tiba Mbah Sholeh teringat nadzar yang pernah diucapkannya.

“Aku tidak akan mengawinkan kedua orang anakku, apabila tidak ada dua orang bersaudara dengan ilmu yang mumpuni datang kepadaku secara bersama-sama.”

Akhirnya, ini jadi jalan bagi Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman untuk bertemu jodohnya.

Tapi untuk melaksanakan kehendak Mbah Sholeh Semendhi, Mas Sayyid Sulaiman merasa perlu mohon izin pada kedua orang tuanya di Cirebon. Sementara Mas Sayyid Arif, tetap tinggal di Pasuruan. Ketika Mas Sayyid Sulaiman berada dalam perjalanan yang memakan waktu hingga tiga bulan, Mas Sayyid Arif dinikahkan terlebih dahulu.

Barulah sekembalinya Mas Sayyid Sulaiman dari Cirebon, Mbah Sholeh Semendhi menikahkan beliau dengan putrinya yangg kedua, yakni adik dari istri Mas Sayyid Arif.

Dari perkawinan Mas Sayyid Sulaiman dengan putri Mbah Sholeh Semendhi, lahirlah putra yang diberi nama Mas Sayyid Ali Akbar. Kelak, beliau inilah yang kemudian membuka lembaran jalan dakwah di Sidosermo.

Sementara itu, Mas Sayyid Sulaiman sendiri memilih menetap di Kanigoro Pasuruan. Tapi saat beliau hendak pulang ke Cirebon, dalam perjalanan, beliau jatuh sakit di sekitar Jombang hingga akhirnya meninggal. Beliau pun akhirnya dimakamkan di Mojoagung Jombang.

*

Sejarah panjang keluarganya dengan Sunan Ampel membuat Mas Sayyid Ali Akbar juga belajar di Ponpes Sunan Ampel. Setelah cukup berguru, oleh Sunan Ampel, Mas Sayyid Ali Akbar diperintahkan kembali pulang, menyebarkan ajaran Islam.

Dalam perjalanannya untuk mengamalkan ilmu, beliau singgah di sebuah tempat di sebelah timur Wonokromo yang saat itu masih berupa hutan belantara.

Dengan bantuan santrinya, Mas Sayyid Ali Akbar kemudian mendirikan perkampungan untuk menyebarkan agama Islam. Ibarat gula yang selalu dikerubuti semut, orang-orang pun perlahan berdatangan dan belajar agama pada Mas Sayyid Ali Akbar.

Setiap hari, orang-orang semakin rajin mengaji. Mereka juga selalu istiqomah mengikuti arahan dan ajaran beliau. Hingga pada suatu malam, Mas Sayyid Ali Akbar melihat lima orang santri yang sedang mengaji sangat khusyuk hingga fajar datang.

Beliau pun termenung melihat pemandangan itu. Atas berbagai pertimbangan dan setelah memohon petunjuk dari Allah, beliau pun memberi nama kampung tersebut Ndresmo, yang berarti “nderese santri limo” (nderesnya lima santri).

Saat ini, perkampungan tersebut terus berkembang. Pondok pesantren dan perguruan Islam banyak yang berdiri di sana. Santri yang mengaji atau belajar ilmu agama di kawasan tersebut tak hanya dari Jawa Timur saja, tapi juga dari berbagai wilayah di tanah air.

BERSAMBUNG