Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Menapaktilasi Kampung Ndresmo (1): Asal Mula Nama Ndresmo dan Hubungannya dengan Ampel

Dikisahkan oleh Muhammad Khoir Basyaiban dan berbagai sumber lainnya.

Keberhasilan Sayyid Ali Akbar semakin nampak ketika Ndresmo jadi salah satu kampung dengan label “Tempat Pendidikan Islam” pada masanya. Tempat yang dulu bernama Ndemungan yang terkesan angker dan seram, sudah berubah nama menjadi Ndresmo yang asri, sejuk, dan penuh dengan semangat belajar dari masyarakatnya.

Tak ada lagi berandalan-berandalan yang berkumpul di daerah tersebut sambil tertawa dan meminum arak di kala petang. Suara tawa bromocorah di kala waktu maghrib, kini berganti dengan suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan pengajian Kitab Kuning di serambi masjid, mushola, dan beberapa rumah warga.

Hampir di setiap sudut kampung juga selalu ditemui warga yang sedang nderes Quran, mendalami ilmu Islam. Warga pun selalu mengikuti Sang Kyai berjamaah di masjid ketika waktu adzan tiba. Kampung yang dulunya hanyalah padepokan kecil dengan lima santri nderes, kini hampir semua penduduk melakukan hal serupa.

Perjuangan Sayyid Ali Akbar tak hanya dalam hal menegakkan ajaran Agama Islam di Ndresmo saja, tapi juga memerangi Pemerintah Kolonial Belanda yang menduduki Surabaya waktu itu. Bersama seluruh para ulama nusantara, beliau juga ikut bersatu padu dalam hal pergerakan mengusir para penjajah.

Meskipun kala itu, Pemerintah Kolonial Belanda terkesan baik pada Sayyid Ali Akbar karena sungkan dan menghormati beliau. Namun pada rakyat biasa, penajajah selalu berbuat semena-mena. Alasan inilah yang membuat Sayyid Ali Akbar tak bisa diam begitu saja.

Berkali-kali diminta untuk tak melawan Belanda, Sayyid Ali Akbar justru semakin meneriakkan perlawanan. Beliau bahkan mengajak masyarakat untuk melawan penjajah yang semena-mena.

Sudah menjadi rahasia umum, dulu ketika para ulama berjuang tidak hanya mengandalkan senjata dan keberanian saja. Tak terkecuali Sayyid Ali Akbar yang selalu memanjatkan doa kepada Allah sebelum berangkat berperang melawan penjajah.

Ajaran ini juga ditanamkan dalam pikiran dan hati para pejuang dari Ndresmo. Beliau selalu mengatakan, berjuang membela agama dan negara apabila mati, maka jaminannya adalah surga alias mati syahid.

Berbeda dengan penjajah yang berperang karena menyebabkan banyak orang kesusahan, kelaparan bahkan meninggal karena aturan yang hanya menguntungkan mereka.

Mendengar perintah Sayyid Ali Akbar, Warga Ndresmo pun kompak berperang tanpa rasa takut mati sedikitpun.

Dalam memberi bekal para santrinya yang berperang, Sayyid Ali Akbar memiliki cara unik. Beliau senantiasa membacakan doa singkat, lalu beliau tiupkan ke sumur dekat dengan pesantren, kemudian beliau berkata,

“Sing sabar yo olehe jihad. Wes, saiki ndang nginum banyu sumur iki. Moco bismillah disek. Ojo lali. Sakwise iku, pasrahno marang Gusti Allah.”

Para santri pun dengan patuh, antri, dan tertib meminum air sumur yang sudah diberi doa oleh Sayyid Ali Akbar. Kejadian ajaib bin luar biasa ini terjadi pada para santri Ndresmo yang turun ke medan perang. Beberapa ada yang ditembak, namun pelurunya hanya menembus begitu saja tanpa terluka.

Ada pula yang hanya melempar kerikil ke pasukan kolonial, namun ketika kerikil tersebut mengenai pasukan kolonial, efeknya seperti tertembak senapan. Selain itu, masih banyak kejadian ajaib lain yang menguntungkan pasukan Ndresmo.

Sayyid Ali Akbar sendiri tak henti-hentinya kedatangan tamu para pejuang, baik dari kalangan para kyai atau para pejuang kemerdekaan yang berasal dari masyarakat umum dan militer.

Selain dikenal memiliki “doa yang mustajab”, Sayyid Ali Akbar juga dikenal pandai dalam hal mengatur siasat perang. Konon, diceritakan Untung Suropati dan Sayyid Subakir pernah mendatangi beliau untuk dimintai berbagai pendapat.

Berkali-kali siasat perang dari Sayyid Ali Akbar membuat pasukan kolonial kelimpungan.

BERSAMBUNG