Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Menapaktilasi Kampung Ndresmo (2): Nyala Perjuangan dan Tauladan Sayyid Ali Akbar

Diceritakan oleh Muhammad Khoir Basyaiban, Mas Din (penduduk setempat), dan berbagai sumber.

Dalam suatu riwayat, disebutkan bahwa ada salah satu kyai muda dari Pasuruan yang dikenal Sayyid Ali Akbar, yakni Kyai Hasan Sanusi. Beliau adalah seorang pemuda sekaligus ulama yang tak mau kompromi ketika melawan penjajah.

Kerasnya sikap Kyai Sanusi terhadap penjajah membuatnya menjadi salah satu buronan paling dicari kala itu.

Sebelum para penjajah mengambil alih keamanan, kedua ulama ini seringkali saling berkunjung ke rumah satu sama lain. Namun, karena Kyai Sanusi sudah jadi buronan, Sayyid Ali Akbar pun kesulitan untuk menemuinya.

Hingga pada suatu hari, Kyai Sanusi akhirnya berkunjung ke tempat Sayyid Ali Akbar. Berbagai hal menjadi bahan perbincangan keduanya. Dari masalah agama, fiqih sehari-hari, hingga kolonialisme yang semakin semena-mena.

Keakraban keduanya bahkan sampai pada rencana besanan. Belakangan, rencana ini akhirnya terlaksana. Kelak putra ragil Sayyid Ali Akbar yakni Sayyid Ali Ashghor, menikah dengan putri Kyai Sanusi yaitu Sayyidah Muti’ah atau yang lebih dikenal dengan Nyai Muti’.

Tapi, pertemuan kedua ulama ini akhirnya tercium oleh Pemerintah Kolonial. Penjajah menganggap kedekatan dan pergerakan keduanya mengganggu manuver kolonial di Indonesia, khususnya di Kota Surabaya.

Berbagai usaha dilakukan pemerintah kolonial agar keduanya pecah atau tak lagi didukung masyarakat setempat. Fitnah juga sempat disebarkan agar masyarakat tak lagi mengikuti perintah keduanya.

Pemerintah Kolonial bahkan membayar orang-orang agar meninggalkan kyai. Tapi usaha tersebut sia-sia. Bahkan, konon para penjajah sempat menyiksa rakyat agar menjauhi kedua kyai tersebut, tapi tetap saja usaha mereka gagal.

Hingga akhirnya, penjajah kehabisan akal untuk menggembosi dukungan pada Sayyid Ali Akbar dan Kyai Sanusi. Mereka pun mengadakan rapat, mencari cara menangkap keduanya.

Seluruh pejabat diundang, berkumpul dalam satu majelis. Ternyata, ada orang Indonesia yang ikut rapat sedari awal. Mereka adalah orang-orang yang menjadi antek Belanda.

Semua kegagalan dalam menghadapi Sayyid Ali Akbar dan Kyai Sanusi dilaporkan. Hingga setelah diberi izin, orang Indonesia yang mengikuti rapat menyampaikan sebuah usulan.

“Sayyid Ali Akbar adalah seorang ulama yang hidupnya selalu beliau curahkan untuk para rakyat kecil. Beliau sangat menyayangi rakyat kecil, melebihi dirinya sendiri.

“Untuk menangkap Sayyid Ali Akbar tidaklah sulit. Tangkaplah sebanyak-banyaknya penduduk di sekitar Ndresmo. Lalu sampaikan pada Sayyid Ali Akbar agar mau menyerahkan diri.

“Jika beliau menolak, beri ancaman untuk membunuh satu persatu rakyat kecil tadi hingga mati semuanya. Dengan begitu, sudah pasti beliau akan menyerahkan dirinya karena besarnya rasa sayangnya pada rakyat kecil,” ujar antek penjajah tersebut.

Pemerintah kolonial langsung menyetujui siasat licik tersebut tanpa pikir panjang. Singkat cerita, akhirnya rencana tersebut dilaksanakan. Mereka menangkapi orang-orang miskin yang hidup disekitar Ndresmo.

Kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Sayyid Ali Akbar. Beliau pun sangat marah mendengarnya. Beliau tak mau mengorbankan para rakyat kecil. Sayyid Ali Akbar akhirnya berjanji menyerahkan diri. Syaratnya, para penajah harus membebaskan para tawanan.

Beliau juga membuat syarat agar penjajah mengubah rute mereka, menjauh dari kawasan Ndresmo dan sekitarnya. Syarat lain yang juga beliau ajukan adalah, pemerintah kolonial wajib membebaskan Ndresmo dari pembayaran pajak yang selama ini sangat menyengsarakan rakyat kecil.

Penjajah yang juga memikirkan biaya perang, akhirnya menyetujui syarat-syarat tersebut. Hal tersebut juga atas dasar penghormatan Pemerintah Kolonial terhadap Sayyid Ali Akbar.

Dan, sebelum Sayyid Ali Akbar menemui pemerintah kolonial, ia berpesan pada sang istri.

“Istriku, jika anak ini lahir perempuan maka namakan dia sesukamu. Namun, jika anak ini laki-laki, maka namakan dia Ali Ashghor,” ucap Sayyid Ali Akbar.

Itulah pesan terakhir beliau pada istrinya sebelum berangkat menuju tempat Belanda untuk menyerahkan diri. Selanjutnya, tak ada catatan sejarah yang jelas tentang keberadaan beliau.

Ada yang mengatakan beliau diasingkan di daerah Batavia. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa beliau diasingkan ke Belanda dan meninggal disana. Dari sekian banyak kabar burung tersebut, tak ada satupun cerita yang memiliki bukti valid.

Satu hal yang pasti, pemerintah kolonial memperlakukan beliau dengan sangat hati-hati. Banyak terjadi berbagai hal tak masuk akal ketika ada yang memperlakukan beliau dengan buruk dan kasar.

Satu gerakan kasar pada beliau, bisa membuat tubuh si kasar jadi kaku, lemas, panas dingin, gemetaran, dan pingsan.

Konon, ada salah satu orang Belanda yang sangat jengkel dan dendam pada beliau. Dengan emosi, ia menembak kaki Sayyid Ali Akbar. Bukannya terluka, malahan kaki si penembak sendiri yang berlumuran darah.

Inilah salah satu hal yang membuat kekhawatiran penjajah tak berhenti setelah mereka menangkap Sayyid Ali Akbar. Mereka masih takut pada putra Sayyid Ali Akbar yang masih ada dalam kandungan. Akankah seperti ayahnya yang selalu membuat kalah pihak Belanda?

Di sisi lain, kandungan istri Sayyid Ali Akbar makin membesar.Hingga akhirnya, lahirnya sang fajar setelah tuntas dibuai malam. Ali Ashgor keluar ke dunia, tanpa melihat wajah sang ayah.

Mungkinkah Ali Ashgor akan menggempur Belanda kelak?

BERSAMBUNG