Cerita tentang Kampung Ndresmo sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Menapaktilasi Kampung Ndresmo (3): Persahabatan, Karomah, dan Penerus Perjuangan Sayyid Ali Akbar

Sumber: Abi Al-Khoir Zakki Nafis dan Muhammad Khoir Basyaiban

Menurut Muhammad Khoir Basyaiban, Sayyid Ali Akbar memiliki sejumlah putra, antara lain Sayyid Badruddin, Sayyid Ghozali, Sayyid Ibrahim, Sayyid Abdullah, Sayyid Iskandar dan Sayyid Ali Ashghor (yang kala itu masih di dalam kandungan).

Keberadaan anggota keluarga dari Sayyid Ali Akbar yang selalu dicari, membuat Sayyid Baqir, yang tak lain adalah adik Sayyid Ali Akbar, menyarankan agar keluarga kakaknya tak sering berkumpul.

Saran Sayyid Baqir diterima. Akhirnya, trah besar Sayyid Ali Akbar memutuskan untuk berpencar agar Belanda tak mudah menemukan mereka, Selain itu, putra-putra Sayyid Ali Akbar juga ingin meneruskan perjuangan sang ayah dengan cara berdakwah di berbagai tempat.

Sayyid Badruddin (putra tertua sayyid Ali Akbar), memutuskan bermukim di daerah Bubutan, Surabaya. Sedangkan, Sayyid Ghozali dan Sayyid Ibrahim, hijrah ke Pasuruan, menuntut ilmu dan pengetahuan di bawah pengawasan sahabat karib sang ayah, Sayyid Hasan Sanusi.

Sayyid Abdullah sendiri juga memutuskan untuk berdakwah di suatu tempat, tapi belum diketahui pasti lokasinya. Sementara, Sayyid Iskandar memutuskan untuk tak jauh dari sang ibunda.

Sayyid Iskandar masih ingin menjaga sang ibu yang saat itu sedang hamil tua. Karena itu, dia berpindah tak jauh dari Ndresmo, yakni di Bungkul. Dikisahkan oleh Khoir Basyaiban, Sayyid Iskandar-lah yang paling sering menjenguk dan menyiapkan kebutuhan ibunda.

Padepokan Ndresmo yang dulu menjadi tempat belajar yang damai, telah berubah mencekam semenjak penangkapan Sayyid Ali Akbar.

Sayyid Iskandar berpesan kepada para santri sepuh, agar mereka tetap menjalankan pesantren seperti biasanya dan sementara tidak ikut berperang melawan penjajah.

Sayyid Iskandar bertujuan memberi kesan pada serdadu Belanda, bahwa pesantren peninggalan Sayyid Ali Akbar bukanlah tempat yang berbahaya, melainkan hanya tempat belajar biasa. Meski begitu, pihak Belanda masih was-was dan senantiasa mengawasi Ndresmo setiap saat.

Lama-kelamaan, Sayyid Iskandar kehabisan kesabaran. Ia merasa semakin lama, Belanda makin membuat pergerakan santri terbatas.

Hingga suatu malam, Sayyid Iskandar berdoa memohon kepada Allah agar pesantren diselamatkan dari cengkeraman Belanda. Lantas, Sayyid Iskandar menggenggam pasir dan menaburkannya di sekitaran pesantren.

Keajaiban pun terjadi. Semenjak malam itu, acapkali tentara Belanda ingin bermaksud buruk di Ndresmo, mereka tak pernah menemukan kampung Ndresmo. Seakan-akan kampung Ndresmo lenyap ditelan bumi.

Mereka pun hanya berputar-putar di sekeliling kampung dan tak pernah bisa sekalipun memasuki kawasan Ndresmo.

Berkali-kali mengalami hal yang sama, akhirnya pihak belanda menyimpulkan bahwa Kampung Ndresmo lenyap. Mereka tak lagi mendatangi Ndresmo. Padahal Kampung Ndresmo tak kemana-mana, tetap di tempat semula. Begitupun para warga dan santri.

Pemerintah Kolonial tentu saja tak mau berhenti meskipun mereka kehilangan jejak Ndresmo. Mereka mengalihkan fokus ke pencarian keturunan Sayyid Ali Akbar.

Tentara Belanda masih menganggap keluarga dan keturunan Sayyid Ali Akbar di Surabaya, suatu saat bisa membuat Pemerintah Belanda yang menduduki Surabaya, kerepotan bahkan kewalahan.

Bersambung