Cerita tentang Kampung Ndresmo sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Menapaktilasi Kampung Ndresmo (4): Segenggam Pasir Ajaib

Dikisahkan oleh Abi Al-Khoir Zakki Nafis dan Muhammad Khoir Basyaiban

Rencana Belanda melemahkan keluarga Sayyid Ali Akbar dari Kampung Ndresmo nyatanya masih sia-sia. Ini karena mereka sudah memutuskan untuk berpencar, tak lagi menetap di Ndresmo.

Mengetahui fakta ini, Pemerintah Kolonial memutuskan fokus mencari istri Sayyid Ali Akbar yang sedang mengandung putra bungsunya.

Penjajah berencana agar bayi tersebut lahir di bawah pengawasan khusus dan selanjutnya dirawat Belanda. Dengan cara itu, Belanda berpikir dapat melemahkan semangat perlawanan keluarga Sayyid Ali Akbar.

Rencana kolonial ini pun sampai ke telinga Sayyid Iskandar. Dengan segera, Sayyid Iskandar memindahkan ibundanya ke salah satu kerabat di Sidoarjo yang bernama Sayyid Imam Asy’ari Singonoto bin Badruddin bin Abdurrahman bin Ali Al Arif, yang tak lain adalah saudara Sayyid Sulaiman.

Dikisahkan, tak lama setelah memutuskan pindah ke kediaman Sayyid Imam, istri Sayyid Ali Akbar melahirkan bayi lelaki yang sehat. Terdapat keunikan pada putra bungsu Sayyid Akbar ini. Dia terlahir dengan toh yang bertuliskan Surat Al-Ikhlas di dada kanannya. Sesuai dengan permintaan suaminya, sang ibunda memberi nama Ali Ashghor pada sang bayi.

Desas-desus kelahiran putra Ali Akbar terdengar oleh pihak kolonial. Pasukan paling dekat dikerahkan menuju Sidoarjo untuk membawa si bayi ke atasan. Sayyid Iskandar yang sudah memiliki banyak mata-mata di sekitar Sidoarjo pun langsung mempersiapkan rencana agar Belanda tak bisa melaksanakan rencananya.

Ia lantas memberitahukan kabar tersebut kepada pamannya. Sayyid Imam lantas menyuruh para santrinya membuat kuburan kecil palsu, agar pasukan Belanda tertipu. Sedangkan Sayyid Ali Ashghor sendiri disembunyikan di tempat yang aman.

Ali Ashghor selalu menangis saat digendong orang, tak terkecuali saudara-saudaranya. Ia hanya mau diam saat digendong ibunya.

“Sudahlah, kalian bisa lakukan rencana kalian ke para penjajah itu. Anakku biar aku yang mengatasi,”ujar istri Ali Akbar.

Tentara Belanda yang datang segera mengepung kediaman keluarga Ali Akbar. Mereka menyuruh keluarganya untuk menyerahkan diri. Penghuni rumah bersiap. Ibunda Ali Ashghor yang masih dalam keadaan nifas dan lemas setelah melahirkan, segera membawa putranya ke dapur.

Beliau mencari tempat guna menyembunyikan putranya. Ia melihat ada tempat penanak nasi, yang setelah dibuka ternyata ada beras dan sedikit air di dalamnya. Pertanda beras itu akan segera dimasak.

Karena sudah tak ada waktu lagi, akhirnya beliau memasukkan bayinya itu dalam kuali yang sudah berisi beras dan air. Sang ibu berpikir, selama tak ada api, maka tak akan ada masalah. Ia juga berdoa agar sang anak diselamatkan dari marabahaya.

Usut punya usut, beras yang sudah siap di kuali tapi tungkunya belum ada nyala api tersebut ternyata adalah kelalaian santri juru masak Kyai Imam. Santri tersebut lupa tak menghidupkan apinya di tungku.

Begitu sang ibu pergi, santri ndalem yang bertanggung jawab atas beras tadi kembali. Tanpa melihat kembali apa yang ada di dalam kuali, ia segera menyiapkan api di tungku.

Setelah menyalakan api, santri tersebut lantas kembali ke tempatnya semula sambil menunggu nasinya masak. Tanpa tahu bahwa di dalam kuali tersebut ada bayi yang baru saja dilahirkan.

Para serdadu Belanda yang mengepung tadi akhirnya menemui Kyai Imam. Tanpa panjang lebar mereka menanyakan bayi dari istri Ali Akbar. Kyai Imam berkilah. Beliau mengatakan bahwa bayi itu sudah meninggal saat dilahirkan. Serdadu Belanda tak percaya, mereka ingin ada bukti nyata.

Sesuai dengan rencana, akhirnya Kyai Imam menunjukkan letak kuburan kecil palsu yang ada di belakang rumah. Namun serdadu Belanda tetap tak percaya. Mereka memaksa untuk membongkar kuburan tersebut.

Dengan keadaan tertekan, Kyai Imam mengizinkan para tentara tersebut untuk membongkar makam. Saat para tentara bersiap, Kyai Imam tak henti-hentinya memanjatkan doa pada Allah.

Tiba-tiba keanehan terjadi. Tentara-tentara tersebut linglung seketika saat mereka sudah memegang cangkul. Mereka seperti lupa apa yang akan mereka kerjakan. Celingukan tak jelas.

Dalam hati, mereka bertanya-tanya: apa yang sedang mereka lakukan di padepokan itu?

BERSAMBUNG