Cerita Kampung Ndresmo sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Menapaktilasi Kampung Ndresmo (5): Kelahiran Ali Ashghor

Sumber: Abi Al-Khoir Zakki Nafis, Muhammad Khoir Basyaiban, dan berbagai sumber lain.

Di tengah kebingungan, pasukan Belanda bertanya kepada Kiai Imam, salah satu ulama Kampung Ndresmo.

“Bolehkah kami memeriksa rumah Kiai?”

“Oh, monggo. Silakan saja tuan-tuan periksa,” jawab Kiai Imam.

Gerombolan pasukan pun masuk ke dalam rumah. Mereka menggeledah tanpa luput. Mereka bahkan menggeledah hingga ke halaman belakang rumah, dapur, termasuk periuk yang sebelumnya dibuat masak oleh salah satu santri.

Saat mereka akan membuka kuali, mereka melihat bara api di bawah kuali menyala. Mereka berpikiran, mana mungkin bayi itu disembunyikan di dalam kuali yang sedang digunakan untuk memasak?

Kalaupun memang ada bayi di dalam kuali, maka sudah pasti bayi tersebut matang bersama dengan nasi. Mereka pun melewatkan kuali tersebut dan memutuskan untuk menghentikan pemeriksaan. Akhirnya, para pasukan Belanda kembali ke markas dengan tangan kosong.

Setelah semua pasukan berpamitan kepada Kiai Imam, semua yang ada di rumah sangat bergembira. Mereka berhasil menipu sekompi pasukan Belanda. Tak terkecuali istri Sayyid Akbar.

Alhamdulillah, anakku selamat, terima kasih ya Allah,” batinnya.

Dengan perasaan gembira, beliau berlari menuju ke dapur. Saat sampai ke dapur, beliau menjerit keras saat melihat kuali tersebut menyala bara apinya. Sang ibunda yang mengira bayinya telah matang dengan nasi tersebut langsung ambruk.

Mendengar teriakan itu, Kiai Imam bersama dengan para santri segera menyusul ke dapur. Istri Sayyid Akbar menceritakan semuanya. Mendengar cerita beliau, Kiai Imam kaget bercampur sedih. Beliau bahkan sampai marah kepada santri yang langsung memasak tanpa memeriksa isinya terlebih dahulu.

Dengan langkah lemas, sang ibunda mendekati kuali tersebut. Pikirannya kacau, hatinya hancur. Ia harus melihat anak bayinya matang dengan nasi. Tapi, naluri keibuan memaksanya untuk membuka kuali tersebut.

Dengan perasaan yang campur aduk, beliau membuka kuali tersebut dengan tangan kanan. Betapa kagetnya beliau, bayi Ali Ashghor masih utuh tanpa luka sedikitpun. Seperti menyambut ibunya, ia tergelak sembari mengemut jempol tangan kanannya.

Sontak semua orang yang ada di dapur terkejut. Mereka seakan tak percaya, seperti melihat sebuah sulap. Bayi Ali Ashghor dengan tenang tidur di atas kuali dengan api tungku yang menyala.

Kisah tentang bayi Ali Ashghor ini dengan cepat menyebar, menjadi kisah yang kemudian disampaikan turun temurun oleh warga Ndresmo. Inilah kisah kelahiran Putra Sayyid Ali Akbar yang nantinya banyak menurunkan tokoh-tokoh ulama.

Ali Ashghor tumbuh menjadi seorang pemuda yang santun dan peka dengan lingkungannya. Sang Ibunda sangat telaten merawat beliau, memastikan putranya mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup.

Konon, di salah satu riwayat dikisahkan, Sayyid Ali Ashghor belajar langsung kepada ibu dan saudara-saudaranya, seperti Sayyid Badruddin, Sayyid Ghozali, Sayyid Ibrahim, dan Sayyid Iskandar.

Ali Ashghor juga dikarunai dengan kemampuan mudah belajar. Dengan kemampuannya ini, dia belajar dengan cepat dari para saudaranya secara bergantian.

Karena keluarganya adalah target pencarian Belanda, ia pun belajar dengan sembunyi-sembunyi. Tak butuh waktu lama bagi Sayyid Ali Ashghor menjadi seorang yang loman, wira’i, alim, luhur, santun, serta peka dengan lingkungan sekitarnya.

Sayyid Ali Ashghar akhirnya menikah dengan putri sahabat yang juga masih kerabat dekat ayahnya, Kiai Hasan Sanusi. Ia menikahi putri Kiai Hasan yang bernama Dewi Muthi’ah, yang juga dikenal dengan Nyai Muthi’.

Pernikahan ini juga merupakan rencana dari kedua ayah pengantin yang sudah direncanakan bahkan ketika Ali Ashghar belum lahir. Dari pernikahan ini, Sayyid Ali Ashghor memiliki beberapa putra.

Putra dan putri beliau di antranya bernama Robi’ah, Tamim, Sahal, Mujahid, ‘Amiroh, Ruqoyyah, Nadhifah, ‘Azimah, dan Sholihati.

Kemungkinan, masih ada putra dan putri beliau berdasarkan catatan dari bapak Abi Al-Khoir Zakki Nafis dan Muhammad Khoir Basyaiban. Maka kalau ada khilaf, kesalahan tulis, atau bahkan ketidaksesuaian dengan fakta, kesalahan tersebut sepenuhnya berasal dari saya.

Wallahu ‘alam bisshawab.