Ini adalah lanjutan artikel ekonomi kemarin ya gaes. Bisa dibaca di sini nih kalo belum mbaca:

Mengenal Sukuk (1): Sebelum Nyinyir, Memangnya Kamu Sudah Paham Soal Utang Negara?

Jadi gini rek, pemerintah, selain menerbitkan instrumen utang yang ditujukan untuk investor sebuah institusi, juga mengeluarkan instrumen khusus untuk penduduk Indonesia yang mau berkontribusi membiayai pembangunan.

Sejauh ini, sudah ada empat instrumen yang diterbitkan pemerintah dan dikhususkan untuk investor ritel, khususnya WNI. Instrumen tersebut antara lain, Obligasi Negara Ritel (ORI), Saving Bonds Ritel (SBR), Sukuk Ritel (Sukri), dan Sukuk Tabungan.

Kon ojok bingung! Kene tak jelasno sitok-sitok!

Obligasi Negara Ritel (ORI)

ORI sing tak maksud duduk musuhe KW! ORI ini adalah instrumen yang menyerupai obligasi korporasi. Yang membedakannya hanyalah penerbitnya saja. Jika obligasi korporasi diterbitkan oleh perusahaan, baik BUMN atau swasta, ORI diterbitkan oleh pemerintah.

Dilansir dari situs Kemenkeu, selain berfungsi sebagai salah satu sumber pembiayaan defisit APBN, ORI juga bisa jadi alternatif investasi bagi masyarakat, khususnya investor ritel. Selain itu, penerbitan ORI merupakan salah satu strategi pemerintah untuk melakukan pendalaman pasar Surat Berharga Negara. Caranya dengan memanfaatkan potensi besarnya jumlah penduduk Indonesia.

Untuk bisa membeli ORI, pemerintah mematok harga minimal pembelian sebesar Rp5 juta dan maksimal Rp5 miliar. Untuk membelinya, investor bisa langsung datang ke agen-agen penjual, seperti bank dan perusahaan sekuritas yang sudah bekerja sama.

Saving Bonds Ritel (SBR)

Tak jauh berbeda dengan ORI, SBR juga merupakan instrumen investasi. Bedanya, jika besaran kupon ORI sudah ditentukan sejak awal penerbitan. Maka, SBR memiliki kupon bisa naik turun sesuai dengan kupon minimal.

Tingkat kupon SBR akan disesuaikan tiap tiga bulan, sesuai dengan patokan tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk bank umum.

Selain itu, karena menggunakan kata saving, maka SBR tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Tak sama dengan ORI yang bisa diperdagangkan setelah pembelian pertama di pasar perdana. Artinya, setelah melakukan pembelian ORI, investor harus menunggu hingga obligasi tersebut jatuh tempo.

Jadi nggak isok jual-beli sak karepmu dewe, rek!

Sukuk Ritel (Sukri)

Sukri bukan sembarang sukri. Sukri yang satu ini punya kemampuan menambah tebal dompetmu untuk melamar pacarmu. Instrumen yang satu ini dikhususkan untuk jenis investor yang lebih memilih berinvestasi pada instrumen syariah.

Selain itu, instrumen ini juga bisa diperdagangkan di pasar sekunder dan memiliki tingkat bagi hasil yang tetap. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bunga tiap bulannya.

Presiden Joko Widodo melalui Kemenkeu pernah mengatakan, “Instrumen keuangan berbasis syariah di Indonesia punya potensi besar dan peran penting dalam kegiatan pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Berarti, kita sekarang memiliki alternatif-alternatif dalam berinvestasi. Inilah kebhinekaan negara kita.”

Mashok to?

Sukuk Tabungan

Sukuk Tabungan adalah opsi yang menurut saya dapat dijangkau oleh dompet kebanyakan people di Indonesia. Pembelian minimalnya cukup terjangkau, cukup 2 jutaan saja. Selain itu, sukuk tabungan juga memberikan imbalan tetap setiap bulan, serta memiliki jangka waktu yang sesuai dengan kebutuhan tabungan investasi masyarakat.

Situs Kemenkeu menyebut, meskipun Sukuk Tabungan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, namun ada fasilitas pencairan sebelum jatuh tempo.

Nah, untuk kalian para rakyat jelata yang mau membantu negara, kalian bisa melakukannya melalui keempat instrumen tersebut. Selain turut berperan dalam pembangunan negara, kalian juga bisa memperoleh keuntungan dengan cara berinvestasi dengan halal.

Mangkane ayo, ndang invest!