Belum ada seminggu pelantikan menteri kabinet baru, sejumlah tuntutan sudah dilayangkan berbagai pihak sejak hari pertama menjabat. Salah satu yang kena adalah Menteri Komunikasi dan Informasi, Johnny Gerrard Plate.

Doi ujug-ujung diminta menutup jejaring sosial Facebook oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Victor Bungtilu Laiskodat. Nutup piye to!

Dilansir Kompas, Bungtilu mengungkapkan bahwa Kemenkominfo kudu menutup penuh akses Facebook alias memblokirnya. Bungtilu (eh bener nggak sih nama panggilannya ini) menambahkan, Indonesia harusnya bisa meniru Tiongkok yang punya aplikasi media sosial buatan negeri sendiri. Seperti yang banyak diketahui, saat ini Tiongkok punya aplikasi medsos bernama Weibo.

Tapi, nampaknya Bungtilu ini sotoy dan terlalu ndakik. Doi juga kayaknya belum tahu kalau anak-anak Indonesia sudah membuat aplikasi media sosial sejak lama, bahkan sebelum doi kepikiran dan merasa PALING pintar.

Buat Bungtilu, nih kami kasih info beberapa media sosial asli Indonesia. Nggak cuma satu lho!

DailyAct

Pamer dan kepo adalah salah dua kunci seseorang membuka media sosial (medsos). Namun, CEO DailyAct, Mario Setiawan melihat potensi media sosial bisa lebih dari sekadar aplikasi untuk kepo. Hem, ki lho, gawe koen sing biasane sering ngeponi mantan.

Melihat peluang dalam antusiasme masyarakat Indonesia untuk bersosial melalui media daring, Mario bersama timnya membuat aplikasi medsos yang diberi nama DailyAct. Mario berharap aplikasi yang dibuat ini akan digunakan untuk hal yang lebih positif.

Aplikasi ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak Desember 2017. Namun, dengan berbagai alasan sing mbulet sehingga menyebabkan aplikasi gak bisa ngorbit, akhirnya kesempatan tersebut baru datang di tahun 2019.

Aplikasi ini sudah meluncur di Google Playstore sejak 21 Agustus 2019. Untuk menggunakan aplikasi ini, kamu harus berusia minimal 13 tahun. Tapi lak koen kabeh iki wes tuwek cukup umur to yo, dadi yo amanlah.

Oorth

Aplikasi medsos buatan cah Solo ini bernama Oorth. Kenapa namanya Oorth?

Katanya sih Oorth berarti bagian dari awan. Oorth dikembangkan oleh Skynosoft Portal Prime, sebuah perusahaan software developer dari Solo yang sudah mbrojol sejak 2014 lalu.

Sejak diluncurkan tahun 2017 lalu, diperkirakan terdapat 34 ribu lebih pengguna aktif Oorth hingga saat ini.

Oorth ini nggak cuma sekadar modal tampang medsos tok lho, kamu bersama komunitasmu juga bisa berjualan, melakukan donasi, moco berita, tuku pulsa, dan token listrik. Cuma yo sayang’e sik gak isok digawe ngejak balikan karo de’e sing wes mbek lanangan liyo. Cuk, dadi iling maneh!

Yogrt

Media sosial yang dikembangkan oleh KongKo Digital dan Akasanet ini memiliki interface warna-warni yang menarik. Selain itu, Yogrt yang rilis tahun 2014 ini juga memiliki konsep yang berbeda dengan aplikasi lain.

Buat kamu yang bosan dengan kesendirian, bisa menemukan teman-teman baru berdasarkan lokasi. iso mbok jak ngopi barenglah.

Koen sing seneng nge-game, bisa bermain game berhadiah. Konco anyarmu maeng iso mbok jak mabar mari ngopi.

Terus buat kamu yang suka pamer membagikan momen, terdapat fitur live streaming juga. Wes, puas-puasno iku karaokean ta ngevlog.

Bisa dibilang, Yogrt ini adalah gabungan Tinder, Hago, dan Bigo Live dalam satu aplikasi. Mashok to?

Sebangsa

Aplikasi yang satu ini cocok untuk kamu yang ingin menemukan dan bergabung dengan komunitas. Sejak didirikan oleh Enda Nasution dan Indira B. Widjonarko pada tahun 2014 lalu, Sebangsa sudah mewadahi ratusan bahkan komunitas yang ‘mungkin’ bisa menjadi tempat yang cocok untuk menyalurkan minatmu.

Di Sebangsa, kamu juga bisa update berbagai macam agenda dengan minat yang sesuai denganmu. Asal ojok minat ngantemi wong ae cuk.

Yang menarik, Sebangsa juga menyediakan layanan “Japri” untuk melakukan obrolan secara langsung dengan teman, lalu fitur “911” yang berfungsi melaporkan atau mempublikasikan kondisi darurat kepada kepolisian atau pemadam kebakaran terdekat.

Fitur unik lain dari Sebangsa adalah “Bazar Senggol”, “Senggolan”, dan “Senggol Akbar”. Buat kamu yang penasaran fitur model opo ae iku, langsung install ae!

Kwikku

Kwikku diyakini menjadi media sosial buatan anak Indonesia yang paling identik dengan Facebook. Kwikku dilengkapi dengan fitur pesan instan, mini-blogging, berbagi tulisan, meme, dan video. Pengguna Kwikku disebut dengan “Kwikker”.

Kwikku dirilis pada 2013 lalu, dan dibuat oleh lima mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yaitu Hamdi Musad, Ifa Alif, Wim Sonevel, Catur Priyo Wibowo, dan Emil Enan Sabil.

Kwikku juga memiliki fitur tambahan lho, seperti berbagi novel, manga, webtoon, fitur “Curhat”, fitur “Jomblo”, dan bahkan ada pula yang namanya “Tanya Pakar”. Wenak to, iso takon nang pakar pisan tentang kejombloanmu sing wes menahun iku.

BuzzBudies

Yang menarik dari aplikasi yang didirikan Andrew Susanton pada tahun 2016 ini adalah adanya quest untuk pengguna yang baru bergabung.

Tantangan ini bisa berupa upload foto, login harian, membagikan post, dan lain-lain. Jika kamu berhasil menjalankannya, Buzzbuddies akan memberikan poin yang bisa ditukarkan menjadi hadiah. Mirip Plurk nggak sih?

Tidak seperti Twitter atau Facebook yang mewajibkan pengguna untuk menambah teman atau follow demi mengetahui kabar terbaru, seluruh konten yang diunggah di Buzzbuddies akan dapat dilihat semua orang. Jadi, seluruh informasi tentang minat pengguna tersebut akan dapat diketahui oleh seluruh pengguna dengan minat yang sama.

LiteBIG

Hingga saat ini, jumlah anggota dalam grup WhatsApp (WA) masih dibatasi sampai 256 anggota saja. Tapi, di LiteBIG, nama aplikasi yang berfungsi serupa WA ini, kamu bisa membuat chat group yang dapat menampung hingga 10.000 orang di dalamnya. Azzeek…

Aplikasi yang diusung PT. Sandika Cahaya Mandiri sejak 2014 ini juga punya berbagai fitur lain seperti berita, membayar tagihan, serta melakukan donasi. Sangar, Ndan!

Untuk membuat akun LiteBIG, kamu cukup menggunakan nomor handphone sebagai ID akun, seperti pada WhatsApp.

MindTalk

MindTalk bisa dibilang merupakan media sosial berdasarkan minat penggunanya. Aplikasi ini dibentuk oleh Robin Marufi dan Danny Oei Wirianto pada awal 2011 hingga akhirnya dirilis pada 2012.

Media sosial yang satu ini memiliki beberapa saluran (yang disebut dengan “channel”) minat seperti fotografi, teknologi, fashion, selebriti, kesehatan, otomotif, hingga bisnis dan pemasaran yang bisa diikuti oleh para penggunanya.

Di dalam channel ini para pengguna dapat beraktivitas dan berinteraksi dengan pengguna lain seperti membagi foto, video, hingga artikel. Jika minat yang diinginkan belum tersedia di MindTalk, pengguna bisa membuat channel sendiri.

Di masa depan, jumlah aplikasi medsos lokal mungkin bisa bertambah banyak lagi. Jadi, yang dibutuhkan memang bukanlah menutup akses Facebook begitu saja, melainkan mendukung para kreator dalam negeri untuk selalu melakukan inovasi sehingga mampu berkompetisi dengan aplikasi besar.

Semakin baik inovasinya, pasti akan berbanding lurus dengan minat masyarakat untuk menggunakannya. Gitu lho, Bungtilu Laiskodat!