DNK

Meskipun Sudah Out, Edy Rahmayadi Tidak Sia-sia kok Memimpin PSSI, Berikut Sejumlah Prestasi Ciamiknya

Meskipun Sudah Out, Edy Rahmayadi Tidak Sia-sia kok Memimpin PSSI, Berikut Sejumlah Prestasi Ciamiknya

Akhirnya! Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi mundur! Ini disampaikannya di kongres PSSI 2019 yang diadakan di Hotel Nusa Dua Bali. Berita mundurnya Edy Rahmayadi juga dikabarkan PSSI melalui akun Twitternya.

"Edy Rahmayadi menyampaikan pengunduran diri sebagai Ketua Umum PSSI pada Kongres PSSI 2019 di Bali. Terima kasih atas segala dedikasinya untuk sepak bola Indonesia, Pak Edy!," tulis @PSSI, Minggu (20/1) tadi.

Seperti yang kebanyakan orang tahu, saat menjabat ketum PSSI Edy Rahmayadi sempat dihujat habis-habisan oleh netijen Indonesia. Ini bersamaan dengan gaungan tagar #EdyOut.

Namun kamu juga tidak boleh lupa, Edy Rahmayadi memiliki beberapa prestasi mentereng saat menduduki posisi tertinggi organisasi sepak bola Indonesia itu. Berikut sejumlah prestasi mentereng yang sempat ditorehkan Papa Edy saat memimpin PSSI.

Menggugah Kesadaran (dan Daya Nalar) Kalau Wartawan Baik, PSSI Pun Baik

Ini bisa jadi adalah kata mutiara Papa Edy yang mungkin masih ter-ngiang, khususnya bagi pemerhati sepak bola Indonesia dan wartawan. Komentar Edy ini adalah buntut kekalahan Timnas Indonesia di ajang AFF 2018.

Tapi apabila kita perhatikan lebih cermat, melalui komentar kontroversial ini, Edy mencoba menyampaikan pesan tersembunyi lho. Apakah itu?

Merujuk kembali ke tugas media yang menyampaikan informasi, Edy bermaksud supaya awak media tidak hanya menyebarkan informasi tapi juga menebar kebaikan. Khususnya berita soal bobroknya PSSI, sebaiknya juga diambil angle yang hebat-hebat saja.

Papa Edy ingin semua awak wartawan tidak hanya selamat di dunia, tapi juga di akhirat. Sungguh mulia sekali, bukan?

Motivasi Supaya Indonesia Memperbanyak Guru Ngaji

Beberapa saat lalu, ketika ditanya penyebab kesulitan PSSI memberantas mafia bola, Edy menjawab dengan amat filosofis:

"Begitu besarnya Indonesia ini, kita mempunyai 34 provinsi, kalau Belgia naik sepeda motor bisa keliling Belgi, tapi di Indonesia, pakai pesawat pun dari Medan menuju ke Papua sama dengan Medan naik haji ke Mekkah, itu panjangnya geografis Indonesia."

Karena hal itulah, menurut Edy, pengawasan menjadi suatu hal sulit. Lebih jauh, Edy menyebutkan, perlu lebih banyak guru ngaji dan pendeta agar masalah mafia bola bisa teratasi.

Sekali lagi, Papa Edy menyampaikan hal yang begitu satir kepada kita—para pengagum rahasia beliau. Tapi coba pahami sekali lagi, melalui pernyataan ini, Edy mungkin ingin membuka lapangan kerja menjanjikan untuk masa depan.

Mungkin dia ingin membuka komite baru di PSSI: komite ngaji dan pemahaman agama.

Dengan adanya komite ini, tiga masalah sekaligus selesai dalam satu langkah. Masalah lapangan kerja, mafia bola dan supaya masyarakat lebih memetik hikmah dalam setiap pertandingan sepak bola.

Tidak ada lagi bentrok antar suporter, yang ada adalah bertasbih bersama dalam tribun. Sungguh visioner Bung satu ini!

Mengelus Pipi Wartawan, Inspirasi Kelembutan Hati

Saat papa Edy ditanyai perihal tuntutan agar mundur dari jabatan ketua umum PSSI, ia menangggapi dengan sebuah elusan lembut ke pipi salah satu wartawan.

Jika kalian bertanya, apakah ini suatu prestasi? Saya jawab dengan lantang, YOI DONG!

Alasannya, Edy ingin mengajarkan pada para wartawan, arti kelembutan hati. Meskipun saat itu ia sudah menolak untuk diwawancarai, beberapa awak media masih berusaha bertanya lebih lanjut. Kemudian, dengan lembutnya ia mengusap pipi wartawan.

Melalui gestur-nya, ia mungkin ingin menyampaikan wartawan bisa saja membuat klub sendiri, sebut saja Wartawan United atau Media FC. Klub baru ini bisa menjadi salah satu pendapatan utama PSSI lho, kenapa?

Karena sudah pasti mereka banyak protes sama PSSI untuk kemudian bisa kena denda. He-he. Mayan garing cok.

Membongkar PSSI Dari Dalam

Adakah salah satu dari kalian yang menyadari, Papa Edy mungkin sudah berniat dari awal masuk PSSI dan ingin membongkar kebrobokan PSSI dari dalam?

Gaungan revolusi PSSI semakin keras akhir-akhir ini, dengan semua kekecewaan dan rasa muak dari penikmat bola Indonesia hal tersebut ibarat bom waktu. Tapi, bom waktu tidak akan memulai ledakan tanpa pemicu.

Menurut saya, Edy Rahmayadi di PSSI berperan sebagai pemicu.

Jangan mikir negatif dulu. Seandainya bukan Edy yang jadi Ketum saat itu, apakah kita akan tahu kalau PSSI pada dasarnya sudah bobrok dari dalam sejak lama? Maybe no, maybe yes.

Memang benar yang berperan besar pergerakan revolusi PSSI saat ini berasal dari langkah berani salah satu pionir jurnalis Indonesia, Mbak Nana alias Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa.

Tapi tanpa manuver-manuver unik Edy, mungkin hingga saat ini, kita tidak tahu PSSI sudah 'sakit' sejak lama.

Menggugah Kesadaran Privasi Lewat: “Apa Urusan Anda Menanyakan Itu Kepada Saya?”

Memang terkesan ngegas, tapi Edy sangat jenius membaca maksud Mas Aiman yang berusaha membongkar boroknya. Maka dari itu, kita bisa belajar bahwasanya kita tidak boleh lagi mengurus urusannya Edy.

Ya, untung sudah out. Jadi selanjutnya sak karep-karepmu, Pak! Moga PSSI bisa lebih baik deh ke depannya. Cihuy tanpamu!