Kedua mempelai itu terlihat duduk di sofa warna coklat dengan ornamen bunga di belakangnya. Mempelai laki-laki nampak mengenakan baju dan peci serba putih, demikian pula memempelai perempuan.

Sang mempelai laki-laki adalah salah satu kawan seperjuangan ketika di dunia perkuliahan. Kami sama-sama harus mengambil waktu “ekstra” untuk lulus. Saya tentu masih ingat ketika dia bilang, “Aku ndang pengen lulus terus kawin!”

Kukira dia bercanda, eh jebul tenanan!

Wajahnya bersama sang istri nampak sumringah. Beberapa undangan datang dan bersalaman di atas pelaminan. Sesi foto tak lupa mereka lakukan untuk mengabadikan momen bahagianya.

Begitu pula dengan saya, yang tentu saja ikutan bahagia. Tapi selain itu, saya juga bahagia hari ini bisa menikmati mbak-mbak biduan favorit saya dari dekat.

Tibalah waktunya bagi saya antri untuk bersalaman. Tepat di hadapan saya, ada ibu-ibu yang usianya sekitar 50 tahunan. Si ibu ini salamannya biasa aja, nggak ada yang spesial. Sampai akhirnya beliau menarik lengan pengantin pria untuk mendekatkan kupingnya dalam jangkauannya.

“Wah kacau nih ibu-ibu,” batinku sembari kepo sama bibir bergincunya. Bukan penasaran apa merek gincu si ibu, tapi sama bisikannya ke temanku.

Sayangnya, volume suara si ibu terlalu lemah. Nggak kedengeran sama sekali. Dengan keadaan kepo setengah lapuk, kugengggam tangan pengantin pria dan bertanya.

“Cok, ibuke mau takon opo, kok raine serius nemen?” tanyaku.

Raut muka temanku otomatis jadi tegang. Melihat ekspresinya yang berubah, aku jadi sungkan dan akhirnya berlalu begitu saja dengan rasa penasaran yang menumpuk.

Seminggu setelah pernikahannya, kawanku menelpon. Kukira dia membutuhkan bantuan di malam pertamanya. Ealah, ternyata dia masih kepikiran sama pertanyaanku waktu di panggung pelaminan.

“Kowe ngerti tahun duda?” tanyanya.

“Wah opo iku? Tahun persaudaraan duda se-Indonesia ta?” jawabku terkekeh.

Jujur aku nggak ero opo iku tahun duda, sampai akhirnya temanku menjelaskan padaku. Jadi intinya, tahun duda merupakan tahun yang jatuhnya pada tanggal satu Suro dalam satu windu menurut hitungan kalender Jawa.

Dihitung mulai tahun dari alif sampai dengan jim-2, menurut hitungan kalender Jawa, dalam sewindu terdapat dua kali tahun duda yang jatuh pada tahun Za dan Wawu. Berdasarkan hitungan tersebut, tahun 2020 nanti adalah Tahun Wawu.

Ada beberapa kota di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa yang hingga saat ini mempercayai pantangan menikah di tahun duda—yang berarti dilarang menikah selama setahun. Apabila larangan ini dilanggar, maka keluarga sang pengantin tidak akan langgeng.

Membahas larangan menikah di tahun duda tak bisa terlepas dari Bulan Suro atau Muharram. Bulan Suro memang spesial bagi sebagian kalangan khususnya orang Jawa.

Tradisi dan kepercayaan Kejawen memandang bulan Suro sebagai bulan sakral. Bagi manusia yang memiliki sensivitas lebih tinggi, disebut dapar merasakan aura mistis dari alam mistik begitu kental sepanjang bulan Suro, melebihi bulan-bulan lainnya.

Masyarakat Jawa punya kepekaan makrokosmos yang lebih unggul. Orang-orang yang menjaga ‘kejawenan’ dalam dirinya beranggapan, Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadah) maupun metafisik (mistik). Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan.

Bulan Suro sebagai awal permulaan bulan juga tak hanya berlaku dalam kalender Jawa, tapi juga alam mistik. Alam mistik yang saya maksud yakni jagad makhluk halus, jin, setan, siluman dan badarawuhi.

Dalam interaksi antara jagad leluhur dan jagad mahluk halus dengan jagad manusia, biasanya selalu menggunakan penghitungan waktu almanak Jawa. Misalnya, malam Jumat Kliwon dianggap sebagai malam suci agung.

Ini karena para leluhur terdahulu turun ke bumi untuk njangkung dan njampangi anak turunan agar menghargai dan menjaga kontak dengan para leluhurnya. Demikian pula dalam bulan Suro yang merupakan bulan paling sakral bagi jagad makhluk halus.

Diluar kepercayaan itu semua, kita sebagai manusia wajib tahu dan menghormati makhluk lain. Selalu eling lan waspodo, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ruwatan tradisi Jawa memang selalu dijaga turun temurun, namun melarang seseorang untuk menikah dalam jangka waktu satu tahun adalah berlebihan. Selama kita menghargai orang yang percaya, tidak akan jadi masalah.

Toh kawan saya yang tetap menikah tahun ini juga langgeng sampai sekarang. Wallahu a’lam..