DNK

Nggak Kabeh Seng Pengen FPI Bubar Iku Doyan Maksiat, Bos!

Nggak Kabeh Seng Pengen FPI Bubar Iku Doyan Maksiat, Bos!

Izin organisasi Front Pembela Islam (FPI) resmi habis masa berlakunya 20 Juni mendatang. Ketua Umum FPI Sobri Lubis berujar, organisasi yang didirikan Rizieq Syihab tersebut secepatnya akan memperbaharui izin organisasi ke Kemendagri.

Tapi, tampaknya ada beberapa pihak yang lebih bahagia kalau organisaasi tersebut dibubarkan saja.

Geliat pembubaran ini didukung petisi di Change.org yang mendorong Kemendagri supaya nggak mengeluarkan izin organisasi untuk FPI. Pantauan terakhir, petisi yang digagas oleh Ira Bisyir ini sudah ditandatangani 359.542 orang. Pancene seng nggak seneng FPI iki jan akeh tenan to rek..

"Mengingat akan berakhirnya ijin organisasi FPI di Indonesia,mari kita bersama-sama menolak perpanjangan ijin mereka. Organisasi tersebut merupakan kelompok radikal, pendukung kekerasan dan pendukung HTI," kata Ira dalam petisi.

Menanggapi hal ini, Kemendagri bakal mempertimbangkan suara-suara dari masyarakat terkait keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk perpanjangan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Front Pembela Islam. Meskipun itu bukan satu-satunya pertimbangan.

Nah, menanggapi hal tersebut, Pak Sobri berujar dengan super entengnya, bahwa yang ingin FPI bubar hanyalah orang-orang yang suka maksiat.

Saya sih kurang setuju dong dengan pernyataan Pak Sobri. Saya kadang maksiat pak, maksiat mata, sampe maksiat online. Tapi saya nggak pengen bubarin FPI kok, ya kalo mau eksis di Indonesia ya silahkan, asal nggak rusuh aja. Inget ya, JANGAN RUSUH!

Menurut saya, nggak semua orang yang maksiat itu nggak suka sama FPI pak. Contohnya, Bu Ratna Sarumpaet yang pada 24 Desember 2012 lalu pernah ngetwit supaya FPI dibubarkan. Padahal seperti yang kita ketahui, Bu Ratna ini aktivis lho. Sudah pasti beliau ini orang baik—dan nggak pernah bohong.

Intinya begini deh, yang mendukung petisi pembubaran FPI bukan berarti orang mursal yang doyan maksiat. Jadi, untuk Pak Sobri Lubis, biar gampangnya, berikut saya kategorikan golongan non maksiat yang ikut menandatangani petisi pembubaran FPI versi saya.

Jadi jangan digebyah uyah maksiat nggak maksiat, kafir nggak kafir gitu dong bung!

Punya Akun Change.org

FYI, Change.org adalah situs web petisi yang punya misi menyemangati orang-orang dari manapun untuk membuat perubahan yang mereka ingin lihat. Sebagaimana kebanyakan situs, Change.org juga punya kebijakan. Biar seseorang bisa menandatangani suatu petisi, maka diwajibkan untuk punya akun di situs itu.

So, sudah jelas, orang yang menandatangani petisi agar Kemendagri tidak meloloskan izin organisasi FPI adalah orang-orang yang memiliki akun di Change.org!

Ayoo FPI, kita unjuk rasa! Jihad! Bubarkan Change.org! Takbir!

Melek Akses internet

Para penandatangan petisi tersebut nggak semuanya jadi pengabdi maksiat, mereka hanya punya akses internet saja, pak. Jelas to, karena internet mereka bisa browsing dan menandatangani petisi yang ditujukan kepada Kemendagri. Jadi, untuk para sobat FPI, mari gaungkan tagar #BoikotInternet . Internet Maksiat! He-he..

Sorry atas kegejeanku, lur.

Nggak Sengaja

Ada pepatah, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Bahkan ada hadist yang berbunyi:

"Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya.” (HR. At Tirmidzi).

Pepatah dan hadis ini memberikan penjelasan bahwasanya manusia itu bisa berbuat salah atau lupa. Jadi, kalau ada orang yang nggak sengaja menandatangani petisi anti-FPI tersebut, bukan berarti dia itu ahli maksiat, melainkan golongan manusia yang luput.

Saya sendiri sebenarnya sangat suka dengan FPI. Dengan sepenuh hati saya tegaskan bahwa saya berani mendukung supaya FPI tetap eksis di Indonesia. Ini karena saya sudah sedari balita jadi anggota FPI—alias Fasukan Penyantap Iwak asin!

Rodok mekso guyonane? Yo babah seng penting FPI bubar, eh.. lanjoot! Take beer!

He-he. Salam damai.