Ole Gunnar Solskjaer menunjukkan tren positif kala pertama kali didapuk sebagai caretaker tim berjuluk The Red Devils. Legenda Manchester United asal Norwegia itu teken kontrak tiga tahun setelah mantra interim yang ia tunjukkan begitu mengesankan sejak menggantikan Jose Mourinho.

Bahkan bisa dibilang, ia adalah manajer terbaik Setan Merah sepeninggal Sir Alex Ferguson.

Dengan status mantan pemain Manchester United, pernah diasuh oleh Sir Alex, dan memiliki sejarah yang cukup panjang bersama tim, tentu membuat suporter Man Utd banyak berharap pada Ole. Saya setuju kalau ada yang bilang Ole adalah super-sub terbaik yang pernah dimiliki Manchester United.

Striker asal Norwegia ini mencatatkan 366 penampilan untuk Setan Merah, dan 126 gol selama 11 tahun masa baktinya. Dari 126 gol itu, 33 di antarnya hadir pada 15 menit terakhir pertandingan. Masuk sebagai pemain pengganti, Solksjaer memanglah menakutkan. Ia mencetak 28 gol di mana itu adalah catatan terbaik pemain klub yang bermarkas di Old Trafford itu.

Harapan Pengabdi Setan (julukan fans United) dalam diri Ole mungkin berasal dari anggapan ini. Kemampuan Ole sebagai super-sub amat diharapkan dalam memimpin klub. Ya tentu saja sebagai super-sub-nya Sir Alex Ferguson. Bukan super-sub David Moyes, Van Gaal, atau bahkan Jose Mourinho.

Oke, kita flashback dulu.

Setan Merah seakan sudah menghabiskan seluruh keberuntungannya di masa kedigdayaan Sir Alex. Semenjak kehilangan beliau, United hanyalah tim papan tengah yang bahkan kalah dengan Singha All-Star 11.

Nggak familar? Buat kamu yang nggak tahu, Singha All-Star 11 adalah sekumpulan pemain yang bermain di Liga Thailand. HAHAHA!

Buktinya, laga yang jadi debut Moyes sebagai manajer setelah 66 hari Sir Alex pensiun dari dunia sepak bola, berakhir dengan skor 1-0 untuk kekalahan Setan Merah.

Sisi positif semenjak pertandingan yang dihelat di Rajamangala Stadium tersebut adalah: Manchester United yang semula dikenal sebagai klub yang banyak dibenci oleh suporter Big Six lain, jadi klub yang banyak ditunggu tiap pertandingannya.

Pertandingan United yang awalnya seringkali menang, malah jadi lucu-lucuan! Dagelan-dagelan yang ditampilkan duo bek terhandal abad 21, Smalldini dan Jomblo Ngenes bisa menampilkan duo benteng yang sangat enak ditonton—oleh suporter tim lain.

Saat ada di tangan The Special One, Manchester United sebenarnya mulai menunjukkan tren positif. Mereka berhasil membawa pulang piala Europa League. Dikontrak selama tiga tahun pada 27 Mei 2016, sayangnya Mourinho di-cut sebelum menyelesaikan kontraknya. Sebuah keputusan yang sangat tergesa-gesa.

Jose Mourinho sejatinya sudah mendatangkan tiga piala ke Old Trafford, Europa League, Community Shield dan Piala Liga Inggris. Pelatih berpaspor Portugal tersebut menorehkan kemenangan 100% selama berlaga di ajang Eropa bersama Setan Merah. Puncaknya, saat mengalahkan Ajax Amsterdam di final Europa League.

Namun bahkan dengan prestasi tersebut, manajemen United tetap mendepaknya dan kursi kepelatihan, yang lantas diserahkan kepada Ole dengan status interim.

Manchester United saat ini memang sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Saya bahkan hanya bisa tertawa ngakak ketika ingat sedikit saja tentang klub yang satu ini. Dasar klub papan tengah. Mau berapapun duit yang diabisin buat beli pemain, tetep aja papan tengah. HA-HA

Mungkin yang jadi masalah bukan apa yang membuat pelatih Manchester United selalu flop sepeninggal Sir Alex, tapi tuntutan dan target yang terlalu muluk. Ini membuat siapapun pelatih yang datang auto-hancur karirnya.

Ekspektasi berlebihan oleh manajemen dan fans pada para manajer yang datang, jelas memberikan tekanan berlebih. Apalagi, siapapun yang datang selalu dibanding-bandingkan dengan prestasi Sir Alex.

Buat para Mancunian, Red Army, atau para suporter Manchester United sekalian, kalian mustinya kudu bisa sabar. Meracik mie instan saja butuh waktu, apalagi meracik tim bola. Saya bukan pandit, cuma fans Arsenal yang bahkan belum pernah menyentuh tembok Emirates Stadium.

Kalian mustinya bisa niru kita, para Gooners yang bertahun-tahun cuman di-PHP mulu.

Ole adalah Ole, bukan Mou, Moyes dan Sir Alex. Jangan banding-bandingkan dirinya dengan pelatih United sebelumnya. Beri dia waktu, biarkan dia membuat dagelan. Minimal sampai Manchester United degradasi. #SaveOle

HA-HA-HA!