Tulisan ini tak hanya merujuk kepada para aktivis 1998, tapi untuk semua aktivis di berbagai angkatan. Semoga tulisan saya ini bisa menjadi bahan renungkan kita terhadap perjuangan yang nyaris mulai memudar. Namun kalau ada yang baperan, mending nggak usah baca.

Indonesia sedang “bersengketa”. Penyebabnya adalah wakil rakyat, sementara protesnya diwakili mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat. Meski tak meletus rata di berbagai belahan Indonesia, aksi ini dilakukan cukup kompak oleh mahasiswa di berbagai daerah.

Mahasiswa memang tak bisa dianggap remeh, sekali mereka turun ke jalan, para pejabat tak bisa lagi tenang duduk di kursi yang nyaman.

Banyak media yang mencoba menulis apa beda dan gap mahasiswa angkatan ’98 dengan mahasiswa angkatan 2019 yang (katanya) disebut pula dengan sebutan “generasi bunga”. Namun apapun bedanya, saya tetap yakin mahasiswa tetap berada di jalurnya, yakni selalu menjadi ujung tombak rakyat guna mengingatkan penguasa ketika lupa tugasnya.

Dulu, mahasiswa menuntut rezim yang berkuasa agar segera menyelasaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan korupsi yang merajalela, serta kolusi yang hampir terjadi dimana-mana.

Tahun 1998 memang terkenal dengan angkatannya yang dinilai sebagai salah satu yang paling galak meneriakkan reformasi. Melawan rezim yang kala itu membawa Indonesia ke ambang batas keterpurukannya.

Sekali lagi, mahasiswa memang tak bisa dianggap remeh. Tapi, kemana mahasiswa ‘98 yang dulu begitu berani?

Beberapa pentolan dari angkatan ’98 memang ada yang menduduki jabatan strategis negara ini. Yang paling menonjol ada Fahri Hamzah (Wakil DPR RI), Budiman Soedjatmiko (anggota DPR RI dari PDIP Dapil Jawa Tengah VIII), Fadli Zon (Wakil DPR RI), dan Adian Napitupulu (Komisi VII DPR).

Yang menjadi sorotan adalah, ada beberapa dari angkatan ‘98 tersebut yang justru mendukung UU KPK yang dinilai bisa membunuh KPK secara pelan-pelan. Lho lucu kan, ketika jadi mahasiswa getol melawan rezim, namun ketika sudah duduk di perlemen, mereka seperti lupa ingatan.

Lingkaran setan berupa mahasiswa-politisi ini bisa dijadikan pembelajaran untuk adik-adik mahasiswa yang kemarin semangat melayangkan perlawanan kepada DPR dan pemerintahan.

Jangan cuma mengidolakan karena mereka begitu keren, begitu ganteng, bla bla bla..

Penyakit netizen Indonesia itu memang tak pernah berubah, yakni mudah gatal. Liat ada yang ganteng dikit, bilang aduh rahimku anget, ada yang keren dikit, bilang nikahi aku mas. Nggilani cok fuck!

Hai para mahasiswa yang kemarin ikut aksi, ingatlah hari ini! Ketika kalian aksi, jangan pernah lupakan apa misimu, bahkan ketika kalian sudah melenggang ke parlemen. Ojok nyasar, jangan sampai lupa diri dan malah berbalik arah jadi korupsi!

Pas jadi mahasiswa panas-panasan teriak “demi rakyat”, begitu jadi pejabat, kok jadi nggak peduli sama rakyat yang semakin melarat?

Ingat, sekarang kalian masih berada di sisi pro rakyat. Ketika nanti godaan harta, tahta, wanita datang, apakah kalian masih bisa pro dengan rakyat? Masih bisakah kalian menjadi penyambung lidah rakyat?

Camkan!