Kabar viral pekan ini: Bulog bakal mengagendakan pemusnahan 20 ribu ton beras! WHAT! 20 ribu ton beras! Isok dibuat sego goreng sampek wareg-wareg anjer!

Eits, sebelum maido pol-polan, biarkan saya memberi sedikit gambaran biar maidomu tambah luekoh..

Indonesia memang dikenal sebagai negara menjadikan nasi sebagai makanan utama. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi menyatakan, saat ini pola konsumsi nasi masih mendominasi porsi menu konsumsi masyarakat hingga 60%.

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kebutuhan akan pasokan beras selaku “cikal bakal” nasi pun mutlak dibutuhkan. Seiring majunya zaman, harusnya mendistribusikan setiap butir beras pada masyarakat bukanlah hal yang sulit bagi Bulog.

Tapi, kenapa sampai ada wacana kalau bakalan ada pemusnahan 20 ribu ton beras? Mirisnya, sejak tahun 2000 lalu, Indonesia tak pernah absen impor beras. Kok bisa impor beras ini kemudian dibuang-buang ngono ae?

Total 20.000 ton beras yang dibuang tersebut faktanya merupakan 1% dari cadangan beras pemerintah (CBP) 2019, yang totalnya mencapai 2,3 juta ton. Cadangan sebanyak ini berasal dari impor 2018 lalu, sebanyak 900 ribu ton. Sementara sisanya dari dalam negeri.

Opo para pejabat iku nggak eroh lek buang-buang panganan ini membuat berasnya nangis?! Rencana mereka yang mau memusnahkan puluhan ribu ton beras juga jelas menyakiti para petani.

Yang perlu disorot selanjutnya adalah kebijakan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), yang secara drastis membuat Bulog tak mampu mendistribusikan beras dengan baik. Ini berdampak pada stok beras di gudang yang makin numpuk, lalu berkutu kayak rambutmu.

Direktur utama Perum Bulog, Budi Waseso bahkan berani menuding adanya mafia yang menyebabkan seretnya pasokan beras Bulog lewat BPNT. Buwas menduga ada manipulasi menukar beras Bulog dengan beras lain yang kualitasnya lebih rendah.  Makin parah emang boroknya BUMN. Ckckck!

Selain itu, kebijakan impor pemerintah yang seakan-akan sudah menjadi hobi sebenarnya berkali-kali dikritik. Presiden Joko Widodo sendiri sudah dua kali menegaskan keinginannya menurunkan defisit neraca transaksi berjalan.

Jokowi berpandangan, biang keladi besarnya defisit neraca transaksi berjalan ialah tingginya impor. Ini menyebabkan membengkaknya defisit perdagangan.

Hmm. Semoga saja di dalam pemerintahan masih ada orang yang benar-benar punya nurani. Bisa berpikir jernih bahwa beras sebanyak itu masih bisa dimanfaatkan menjadi berbagai produk. Seperti dijadikan tepung, pakan ternak, masker wajah, susu tajin, dan banyak lagi. Nggak angger mbuwak!

Wong di Indonesia lho masih banyak pihak yang bahkan untuk makan sehari saja kesulitan, lha ini beras turah-turah kok mau dimusnahkan. Daripada dimusnahkan, mending dihibahkan saja, dapet pahala. Diolah jadi apa kek!

Yang paling penting, bulog juga harus bisa menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran. Daripada menyimpan dalam bentuk beras, Bulog sebaiknya mulai sekarang menyimpan gabah kering giling di gudang yang lebih tahan lama.

Ngono lo!