“Surabaya sudah hujan?” tanya seorang kawan saya dari Semarang.

Pertanyaan seperti ini sudah kali ketiga saya terima dalam satu pekan ini. Suroboyo pancen panase ganas, rek! Sumpah nggak ngapusi! Ketika daerah lain dalam seminggu sudah turun hujan setidaknya dua kali, Suroboyo blas nggak onok udan cok! Panase malah tambah ndadi!

Saat musim kemarau kayak begini, kecemasan juga datang beruntun. Selain ongkep dan nggumun piye-iki-kulitku-lek-metu-omah, salah satu yang paling menimbulkan kecemasan adalah kebakaran hutan. Untung di Surabaya hutannya jarang. Tapi di daerah lain, hmm, rawan…

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berdasarkan citra satelit landsat sampai pada bulan September 2019, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 857.755 hektare. Untuk lahan mineral 630.451 hektare, dan lahan gambut 227.304 hektare.

Di Jawa Timur sendiri pada rentang bulan Juli sampai Agustus, Walhi Jatim mencatat ada beberapa titik kawasan hutan di Jatim yang mengalami kebakaran luas. Itu meliputi hutan di teritori Kabupaten Tuban, Bondowoso, Situbondo, Madiun, Nganjuk, Malang, dan Batu.

Itu baru kebakaran hutan. Belum lagi masalah kekeringan dan ketersediaan air.

Saat ini, harusnya memang udah memasuki musim hujan. Meskipun belum semua wilayah Indonesia sih, hanya beberapa titik dan itupun tak merata.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi musim hujan di Surabaya terjadi pada minggu terakhir November 2019. Ini jauh lebih lambat bila dibandingkan dengan wilayah Jatim lain seperti Madura, Bojonegoro, Malang, hingga Banyuwangi.

Nah, serupa ketika musim kemarau. Saat musim hujan, kecemasan juga pasti muncul. Cemas apakah bencana banjir dan tanah longsor sudah dapat diatasi. Tapi kayaknya, bencana ini bakalan terus berulang deh, bahkan lebih parah.

Banjir sudah seperti biduan di acara kampanye, selalu datang ketika panggung sudah siap. Namun, dengan segala prediksi kedatangannya, dari tahun ke tahun, pemerintah, entah dari pusat maupun daerah, kayak masih tergagap-gagap menghadapinya.

Dilansir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP), dampak kerugian dan kerusakan akibat banjir dan tanah longsor di Indonesia sepanjang tahun lalu, menyebabkan 286 orang meninggal dunia, 348 luka-luka, dan 149 ribu warga mengungsi. Taksiran kerugiannya mencapai puluhan triliun rupiah!

Sebuah ironi memang. Hujan yang harusnya diturunkan Tuhan sebagai berkah, justru menjadi biang masalah.

Pemerintah selalu kelabakan ketika hujan datang. Seakan musim hujan selalu datang dengan bencana. Padahal, kedatangannya selalu bisa diprediksi.

BMKG secara rutin membuat prakiraan cuaca mengenai kapan hujan terjadi, di mana titiknya, dan dengan intensitas seperti apa. Namun, banjir yang terus berulang mencerminkan ketidakberdayaan pemerintah memitigasi bencana.

Entah memang tak punya daya, atau tak ingin berusaha, pemerintah hanya pasrah ketika berbagai problem datang bersama musim hujan.

Bukan bermaksud menyalahkan pemerintah semata, masyarakat pun harusnya sadar, ada berbagai hal yang bisa dilakukan agar banjir dan longsor tak terjadi lagi. Setidaknya bersiap dan mengurangi berbagai faktor yang bisa menyebabkan bencana.

Masyarakat tak boleh lagi apatis terhadap ancaman bencana lingkungan. Peran terkecil seperti membuang sampah pada tempatnya tak bisa diabaikan begitu saja. Hal kecil yang dimulai dari kemauan diri sendiri dalam memperbaiki lingkungan tempat tinggal, bisa berdampak besar nantinya.

Jadi mulai detik ini, berhenti cuma bacot dan protes: Musim panas kepanasan, musim hujan kebanjiran! Sadar diri, semua toh berasal dari tingkah laku kita masing-masing. Setuju nggak?