Joko Widodo, presiden terpilih periode 20019-2014 sudah memilih para menteri (23/10). Ya walaupun hasilnya bikin kaget, tapi saya lebih merasa kecewa. Gimana nggak? Saya adalah suporter setia tim Garuda yang mempertanyakan kembali semangat pemerintah membawa Timnas Indonesia ke trek terbaiknya.

Maka dari itu, harapan saya pada Jokowi simpel: Kenapa nggak sekalian bikin Kementrian Sepakbola? Kenapa cuman Kemenpora tok?

Seharusnya Jokowi bikin KemenSSI, yang walaupun rodok mekso adalah singkatan dari Kementrian Sepakbola Seluruh Indonesia. Iya, saya tahu udah ada Kemenpora yang menaungi PSSI. Tapi sampean-sampean semua tahu kan gimana “mantebnya” sepak bola di negeri ini? Entah dari yang bar-bar suporternya, sampai lawaknya timnas kita.

Kita semua tahu bagaimana prestasi Timnas Indonesia, terlebih di bawah kepemimpinan coach Simon McMnemy. Jangankan menantang tim-tim dunia, melawan negara Asean seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand saja sudah babak belur.

Padahal suporter Indonesia sempat dimanjakan ketika awal penunjukan Simon kala itu. Indonesia menang meyakinkan kala menjamu Tim Myanmar dalam match day FIFA. Indonesia bermain cukup cantik sih meski masih banyak yang harus dibenahi.

Tapi, bukannya semakin menunjukkan tren positif, Timnas justru semakin menunjukkan penampilan yang menurut saya garing. Entah apa yang merasuki pasukan Pak Simon. Timnas Indonesia jadi lebih sering memainkan bola-bola atas semenjak pelatih berpaspor Skotlandia ini didapuk. Padahal kan wes ero nggak cocok kok sek dipekso..

Itu dari sisi timnas. Alasan lain dibentuknya KemenSSI adalah, sebagaimana diucapkan Jokowi di pelantikan menteri (23/10) pada Menpora baru, Zainudin Amali.

“Pak, sepakbolanya Pak,” ujar Jokowi sambil mesem.

Setidaknya, ini sedikit membuktikan bahwa Jokowi menganggap sepakbola adalah olahraga yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Selain itu, animo suporter Indonesia tak pernah surut dari zaman Hindia-belanda. Suporter Indonesia adalah salah satu alasan mengapa sepakbola Indonesia dihormati insan sepakbola dunia.

Lantas, kenapa harus punya kementrian sendiri padahal sudah ada Kemenpora? Singkat saja, alasannya karena Kemenpora tidak cukup pandai mengurus sepakbola.

Lihat saja, adakah cabang olahraga lain yang sampai memakan nyawa manusia hampir tiap tahunnya? Setahu saya, hanya sepakbola. Dengan adanya kementrian baru yang khusus mengurusi sepakbola, setidaknya mereka bisa ngemong atau malah membubarkan PSSI yang sedari dulu labil karena selalu ada dedengkot nggak jelas di dalamnya. Kasian Ratu Tisha..

PSSI sudah dalam perjalanan menuju kebobrokan. Berkali-kali berganti ketua, PSSI seperti muter-muter di circle orang-orang itu aja. Malah ada isu, La Nyalla mau nyalonin lagi. Astaghfirullah..

Please lah, biarkan orang-orang yang memang fokus berbakti kepada kemajuan sepakbola nasional memegang kendali di PSSI. Jangan orang yang itu-itu aja. Kompetisi juga masih banyak yang harus dibenahi, kalau jatuhnya ke tangan orang-orang yang sama, ya kita cuma gini gini aja..

Seorang ketum PSSI juga harusnya orang yang fokus di PSSI, nggak boleh nyambi. Karena PSSI adalah milik suporter Indonesia, bukan milik eksekutif, apalagi EXCO. Kalau nggak gitu, sekalian bubarin aja PSSI, bentuk Kementrian Sepakbola.

Atau kalau nggak mempan juga, wes nggak usah bal-balan!