Akhir pekan lalu, saya diberi kesempatan mengunjungi salah satu tempat bersejarah di Surabaya. Tempat tersebut adalah Benteng Kedung Cowek, yang masih berada di Kawasan Kenjeran.

Ternyata, di sepanjang bibir pantai Kedung Cowek, saya tak hanya bisa menikmati keindahan pemandangan saja, tapi juga kisah masa lampau seorang mujahid yang pernah singgah dan berdiam di kawasan itu. Mujahid itu adalah KH Hasbullah.

Awal cerita akan saya mulai di sekitar tahun 1890 Masehi. Saat itu, di pinggir Pantai Kedung Cowek, ditemukan mayat yang tak diketahui jatidirinya. Para warga kemudian membawa mayatnya ke tepi pantai. Namun setelah diketahui tak lagi selamat, warga kemudian menghanyutkan kembali mayatnya ke arus laut.

Namun kejadian aneh terjadi. Belum lama setelah dipindahkan, mayat itu sudah kembali ke tempat semula. Akhirnya, mayat tersebut dibawa ke lokasi yang lebih jauh untuk dihanyutkan kembali. Namun mayat itu sudah kembali ke tempat semula.

Selanjutnya, mayat itu dibuang ke tempat yang paling jauh dan melawan arus. Akan tetapi sebelum warga sampai ke tepi pantai, mayat tersebut sekali lagi kembali ke tempat semula.

Kejadian tersebut terjadi hingga tiga kali pembuangan. Akhirnya, salah seorang warga ada yang melaporkan dan meminta pendapat kepada KH Hasbullah. Beliau adalah seorang kyai yang sudah teresohor dan mutawattir tentang kewaliannya. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa beliau adalah Wali Abdal yang berada dalam tingkatan yang tinggi.

KH Hasbullah memberi wejangan pada warga agar mayat tersebut diurusi tidak oleh sembarang orang. Walaupun sudah wafat, mayat tersebut harus tetap dihormati.

KH Hasbullah akhirnya menyuruh warga untuk menggali kubur, namun ketika warga sedang menggali, tiba-tiba di dalam kubur sudah ada jedingan (tempat untuk mayat). Dan ketika mayat di mandikan, bau harumnya melebihi minyak kasturi yang semerbak mewangi, sehingga air percikan untuk memandikannya sampai bertahun tahun masih berbau harum.

Makam baru tersebut belum diberi cungkup. Tapi sudah ada banyak kejadian dan gaib dan ganjil di sekitar pusara.

Jika ada orang yang berani buang hajat di sekitar makam, seketika itu orang tersebut langsung sakit perut tak ada hentinya. Jika ada orang yang naik delman tidak turun, maka akan ambruklah dokarnya. Bahkan suatu ketika, ada warga yang bernama Wak Djam, melempar kambing dan mengenai makam. Seketika itu pula tangan dan kakinya langsung mengecil.

Akhirnya KH Hasbullah mempunyai inisiatif, lebih baik makam itu di beri pembatas, artinya diberi cungkup (rumah beratap) yang dahulu terbuat dari kayu. Sekarang, cungkup ini sudah tiga kali direhab dan dibenahi. Setelah diberi cungkup, maka amanlah kejadian-kejadian yang telah di alami itu.

***

Kewalian KH Hasbullah sebenarnya sudah terlihat sejak beliau remaja, ketika beliau mondok di pesantren KH Cholil Bangkalan. Ada suatu kisah dimana para santri disuruh KH. Cholil untuk melihat tonel (ludruk) di desa. Jika tidak mau, maka akan dihukum dengan cara dipukuli.

Akan tetapi KH Hasbullah tidak mau menonton. Bahkan meskipun dihukum, beliau tidak akan pergi. Padahal sahabat dan teman-temannya berangkat semua. Kosonglah pondok tersebut, menyisakan KH Hasbullah seorang.

Padahal, KH Cholil hanya bermaksud menguji kegigihan kendali iman para santri. Sang Kyai bermaksud ingin mengetahui sampai seberapa kehendak hawa nafsu para santrinya. Tak lama kemudian ketika para santri sedang tidur, ada cahaya yang berasal dari tempat para santrinya.

KH Cholil yang penasaran kemudian mendekati sumber cahaya tersebut, ternyata sinar itu berasal dari seorang santri yang sedang tidur dengan tubuh yang tertutup sarung dari kepala hingga ujung kaki. KH Cholil hanya terdiam melihat kejadian langka ini.

Sang kyai yang penasaran, bermasud untuk melihat siapa santri yang berada di balik sarung tersebut. Bersamaan dengan waktu subuh, barulah beliau mengetahui bahwa santri tersebut adalah KH Hasbullah muda.

Tapi, penemuan kewalian Hasbullah ini hanya di simpan dalam hati KH Cholil sendiri. Tanpa di beritahukan pada siapapun..

BACA KELANJUTANNYA DI SINI..