Menjelang puncak malam pergantian tahun, hotel dan penginapan telah penuh dipesan. Kalau kalian punya waktu senggang, coba bukalah aplikasi pemesanan perjalanan atau penginapan seperti Agoda, RedDoorz, OYO, atau semacamnya. Dapat dipastikan, pasti  hanya tersisa beberapa kamar saja untuk malam tahun baru. Bahkan, saya berani bilang, kos-kos dan hotel melati dadakan akan penuh tanpa ada kamar kosong yang tersisa pada malam nanti.

Malam tahun baru menjadi ladang rezeki tersendiri bagi pengusaha properti macam hotel. Harga kamar di hotel bahkan bisa melonjak hingga 200 persen pada malam pergantian tahun.

Hotel dan losmen kerap menjadi rujukan muda-mudi, alasannya ya sederhana saja. Sebetulnya, kedua tempat itu biasa dijadikan tempat menginap untuk para pelancong. Kadang, mereka juga memanfaatkan layanan pesan-antar untuk makanan atau transportasi. Masalahnya, ada juga penghuni hotel yang justru menggunakan layanan pesan-antar untuk….. kondom dan tisu magic.

Menurut salah seorang kawan yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol), semenjak pagi tadi dia berkali-kali mendapat pesanan makan sekaligus “titipan” kondom.

Sampai-sampai ia sempat berkata, “Wah, aku kalah. Tadi ada customer yang minta dibelikan kondom. Pas sampai di penginapan, ternyata yang nerima paket, perempuan. Kayak masih SMA gitu,” ujarnya disambut tawa kawanku yang lain.

“Lah, kenapa kalah?”

“Ya, kalo emang bener masih SMA, berarti kan aku kalah sama yang masih kecil,” ujarnya pasrah.

Seketika salah satu kawanku yang lain mendekat, memberinya nasihat. Layaknya Mario Tegang, dia datang membawa seribu kata indah. “Punya pasangan itu bukan masalah balapan, Bro,” ujarnya dengan senyum menahan ketawa.

“Bukan masalah balapan, tapi masalah nasib. Berarti nasibmu apes emang,” sahut yang lain sambil terkekeh.

Saat kami semua tertawa mendengar jawaban tersebut, kawanku si Pengemudi Ojol tiba-tiba bertanya dengan wajah sungutnya, “Seandainya saja kondom bisa ngomong, dia bakal ngomong gimana ya sama tisu magic?”

“Mereka kan kayak teman seperjuangan, senasib, dan bahkan bisa dibilang kalau mereka itu tak bisa terpisahkan,” celotehnya.

Dua kawanku masih tertawa, sementara aku kepikiran. Oh iya, seandainya di malam tahun baru mereka berdua bisa ngobrol, kira-kira perasaan mereka gimana ya? Seneng karena dibeli? Atau sedih karena habis manis sepah dibuang?

***

“Nasib kita gini amat ya, Bro. Kerjanya di sekitar titit, kalau nggak ya pantat. Pengen deh rasanya jadi jam Rolex, tiap hari dirawat, dibersihin, disayang-sayang,” ujar Tisu Magic.

Kondom melihat Tisu Magic dengan senyum terbaiknya. Tak lama setelahnya, ia menepuk bahu Tisu Magic, “Bro, hidup itu tidak untuk disesali. Coba lihat tubuhku, berlumur cairan bau amis, dan bahkan dibuang sembarangan. Padahal sebelumnya, manusia-manusia itu mencari-cariku, seakan-akan dunia akan kiamat kalau aku tak ada.”

Mendengar jawaban Kondom, Tisu Magic merasa ada yang mengganjal.

“Oh, jadi kamu merasa lebih penting daripada aku gitu, Ndom? Dasar sok penting! Tanpaku, manusia itu akan merasa payah karena tak bisa ngaceng maksimal! Tanpaku, mereka akan sulit bermalam tahun baru! Aku ini punya peran khusus dalam sejarah manusia!”

“Lho, kok gitu? Kamu tuh nggak seberapa penting. Sudah, akui saja. Bahkan tanpamu, manusia masih bisa melanjutkan hidup. Tapi, tanpaku? Mereka akan kebingungan! Mereka nggak akan bisa menikmati malam tahun baru!” Balas kondom sambil ngegas.

Di tengah cek-cok mereka, tiba-tiba datang sebuah kembang api melerai keduanya.

“Kenapa kalian berantem? Kita itu harusnya rukun, malam tahun baru jangan sampai ada cek-cok. Kita semua tahu, manusia suka seenaknya, langsung buang sembarangan setelah memakai kita, aku juga dibuang setelah isi mesiuku habis, Kondom juga suka dibuang sembarangan dengan keadaan masih menyimpan sperma, tak ada bedanya juga dengan kau, Tisu Magic! Kau juga sering jadi sampah di gunung! Kita itu sama!

Jangan berantem! Manusia hanya mencari-cari ketika butuh, namun setelah mendapatkan kenikmatan mereka akan seenaknya sendiri, padahal kita nggak gampang diurai secara alami. Kita itu sampah semua, kita akan membunuh bumi secara perlahan!” Kembang Api berceramah soal eksistensialisme. Kembang Api memang suka berapi-api, tapi kali ini dia menangis. Menangisi bumi yang tua dan manusia yang makin seenak udelnya.

Kondom dan Tisu Magic kemudian berpelukan, saling memaafkan. Dalam hati Kondom, ia masih bisa sombong sambil berucap, “Setidaknya aku berguna bagi bumi karena ikut menekan angka kelahiran dan mencegah penyakit. Tanpaku, manusia bisa mbrojol di mana-mana, kalau enggak, ya kena wabah sifilis. Ujung-ujungnya, ya mereka merusak planet ini. Manusia memang bangsat!”

Sayangnya, sejak percakapan di atas hanya terjadi di malam tahun baru 2019, karena kemarin, stok kondom dan tisu basah justru menghilang dari pasar. Konon, Kembang Api yang menghasut para manusia untuk menyita kedua benda tersebut agar ia bisa jadi satu-satunya pusat perhatian dan memancing pemanasan global lebih jauh. Hah, dasar manusia-manusia naif!