Kalian tahu nggak kalo pemerintah desas-desusnya bakal ngutang lagi di pekan ini? Katanya sih, ini buat memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.

Kali ini, instrumen yang digunakan adalah lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa, 5 November 2019 besok pukul 10.00 hingga pukul 12.00 WIB. Diperkirakan, target indikatif dari lelang SUN ini sekitar Rp15 triliun atau maksimal Rp30 triliun, dengan penyelesaian transaksi pada Kamis, 7 November 2019.

Konon, ini adalah utang kedua dari pemerintahan Jokowi – Ma’ruf setelah menjabat presiden dan wakil presiden. Lelang surat utang sebelumnya sudah dilakukan pemerintah pada 29 Oktober lalu. Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk ini terdiri dari lima seri surat utang. Terdiri dari satu Surat Perbendaharaan Negara – Syariah (SPN-S) dan empat Project Based Sukuk (PSB).

Tak jauh beda dengan yang akan dilakukan pekan ini, lelang surat utang akhir Oktober lalu itu juga dilakukan agar pemerintah mendapat dana dalam rangka menambal anggaran di APBN 2019. Bedanya, Kementerian Keuangan punya target utang bulan Oktober sebesar Rp7 triliun.

Adakah dari kalian yang belum tahu apa itu sukuk? Hmm, sakno rek, kene-kene, ayo sinau bareng!

Sukuk adalah kata dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata shak, yang artinya cek atau sertifikat—alat tukar yang sah selain uang. The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) berkesimpulan bahwa sukuk adalah sertifikat yang bernilai sama dan merupakan bukti kepemilikan yang tidak dibagikan atas suatu aset, hak manfaat, jasa, atau kepemilikan atas proyek/kegiatan investasi tertentu.

Sukuk punya prinsip yang mirip dengan obligasi konvensional. Namun, konsep utama yang membedakan antara sukuk dengan obligasi konvensional adalah penggunaan konsep imbalan dan bagi hasil yang menggantikan bunga seperti pada obligasi konvensional.

Selain itu, ada pula transaksi pendukung berupa sejumlah aset tertentu yang menjadi dasar penerbitan sukuk. Dalam sukuk, wajib terjadi akad atau perjanjian antara para pihak yang terkait. Kesemuanya disusun berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Jadi, di dalam sukuk, dilarang ada riba, ghahar, dan maysir.

Dalam makalah “Tasaaulat Haula as-Shukuk al Islamiyyah wal Ijaabah ‘Alaiha” (Berbagai Pertanyaan Seputar Sukuk dan Jawabannya) yang ditulis oleh DR. Hussein Syahattah, pakar ekonomi syariah Mesir, beliau menyebut bahwa sukuk Islami berdiri dengan landasan musyarokah.

Nah, landasan ini bisa digunakan dalam mendanai sebuah proyek atau dapat juga dikatakan sebagai usaha investasi jangka menengah dan jangka panjang yang sesuai dengan kaidah “al-ghunmu bil ghurmi” (keterlibatan yang sama dalam keuntungan dan kerugian), seperti halnya sistem saham di perusahaan-perusahaan saham modern dan dalam sistem unit investasi di pasar-pasar investasi.

Oke, balik lagi ke permasalahan utang negara. Seperti yang sudah kita ketahui, pemerintah terus menggiatkan pembangunan infrastruktur sejak beberapa tahun terakhir, mulai dari Sumatera hingga Papua.

Apalagi, Indonesia berencana memindahkan ibu kota ke Kalimantan yang diperkirakan memakan biaya mencapai sampai Rp466 trilyun rupiah. Gawe tuku kerupuk oleh pirang ton iki, Lur?

Lah, untuk membangun semua itu, pemerintah dapat dana dari mana aja? Sebagian besar memang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tapi, tak jarang pula negara kita berhutang untuk menopang pembangunan negara.

Nah, iki! Nggak jarang kita nemu kaum-kaum yang bisanya teriak-teriak di medsos. Bacot soal utang Indonesia yang mulai membengkak, koar-koar pemerintah dungu lah, bisanya pencitraan lah, dll, dkk. Padahal pemerintah nggak pake citra-citraan! Kaum sotoy seperti ini harusnya dimusnahkan pake jurus bola semangat milik Goku!

Sebagai penduduk Indonesia yang baik, kalian seharusnya jangan cuma nyalahin pemerintah. Pernah nggak sih kalian mikir, sebagai warga negara yang baik, yang dompetnya tipis kinyis-kinyis koyo pipine Nia Ramadhani, ikut membantu pembangunan negara agar negara tidak berhutang ke luar negeri?

Cara membantunya gimana? Santai, ini bakalan dibahas lagi di artikel selanjutnya! Daaah!