Indonesia resmi ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 Kamis (24/10) lalu. Prestasi ini bisa dibilang hebat di tengah keterpurukan sepak bola Indonesia—ingat deh masalah pengaturan skor, suporter yang tak kunjung dewasa, dan Timnas senior Indonesia yang tak kunjung berprestasi.

Bahkan, induk sepakbola nasional PSSI, hingga saat ini internalnya masih mboh nggak jelas juntrunge. Lha yo jelas, wong Plt. Ketua PSSI Joko Driyono sek dipenjara lho.

Di tengah ketidakjelasan sepakbola Indonesia, FIFA memberikan hadiah yang mungkin tak pernah terbayangkan insan sepakbola negeri ini, yakni penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-21. Bisa dibilang ini adalah kado terindah buat perayaan Sumpah Pemuda 28 Oktober ini.

D­­alam bidding kali ini, Indonesia menyingkirkan tujuh negara pesaing yang tak main-main infrastruktur pendukung sepakbolanya. Sebut saja Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Myanmar, Thailand, Brasil, dan Peru.

Hampir semua negara tersebut adalah negara yang infrastruktur sepakbolanya lebih mapan dibanding negara kita. Dan lagi, mereka tak mengajukan negaranya sebagai tuan rumah sendirian, melainkan bersama negara tetangga.

Lah, Indonesia dengan gagahnya melakukan bidding sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 sendiri! Dan kepilih! Swangar ta cuk!

Untuk menunjang perhelatan Piala Dunia U-20 2021, PSSI telah menyiapkan sepuluh stadion. Venue yang dipilih di antaranya meliputi Stadion Utama Gelora Bung Karno, Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, dan Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Nah, Surabaya selaku salah satu kota yang terpilih menjadi venue seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Pemkot Surabaya sendiri saat ini sudah memastikan tiga dari total lima venue yang akan digunakan dalam perhelatan Piala Dunia U-20 2021 di Surabaya nanti. Mbois tenan!

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, setelah dirinya melihat secara langsung kondisi lima lapangan, hanya tiga lapangan yang representatif. Ketiga stadion yang memenuhi persyaratan FIFA yakni Stadion Gelora 10 Nopember, Karanggayam, dan Lakarsantri.

Karena itu, Pemkot Surabaya wajib, fardhu ‘ain untuk mempersiapkan venue yang ada di Surabaya, wa bil khusus GBT. Standar seperti single seat, ketersediaan toilet, pusat informasi, hingga berbagai faktor kenyamanan dan keamanan venue.

Oh ya, apakah isu bau sampah yang terbawa angin hingga ke stadion masih beneran ada? Hmm ini nih yang yo kudu dibenahi.

Sekadar catatan tambahan, merujuk pada dua perhelatan terakhir Piala Dunia U-20 2017 di Polandia dan yang paling baru, tahun ini di Korea Selatan lalu, keduanya menggunakan enam stadion utama sebagai venue.

Sedangkan Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru, dihelat menggunakan tujuh stadion—hal yang sama juga terjadi di Piala Dunia tahun 2013 di Turki.

Saat ini, Indonesia sudah mengajukan total sepuluh stadion untuk perhelatan Piala Dunia U-20 2021 mendatang. Melihat ke belakang, kemungkinan besar masih ada venue yang akan dicoret.

Supaya tak dicoret, Surabaya wajib berbenah. Tak hanya dari sisi venue seperti stadion dan tempat latihan yang standar FIFA, namun juga harus mulai memperbaiki berbagai fasilitas pendukung.

Salah satu yang paling penting adalah akses menuju venue. Seperti yang banyak diketahui, saat ini akses ke GBT sendiri belum benar-benar bisa disebut baik untuk standar internasional. Masih perlu banyak berbenah.

Dengan banyaknya waktu persiapan, Pemkot Surabaya kudu wani mengambil langkah tercepat demi tampang Surabaya di pentas sepakbola terbesar sejagad.

Kesan positif yang diberikan turis yang datang ke Surabaya nanti akan mereka kabarkan ke dunia. Semakin baik wajah Surabaya, semakin banyak pula turis yang akan datang pasca perhelatan piala dunia untuk berwisata.

Wani tok lur!