Asap mengepul memenuhi tiap jengkal ruangan 6 x 5 meter. Udara terasa sesak. Padahal yang merokok cuma seorang guru saja. Santri yang lain hanya tertunduk, memegangi pulpen sambil njrendeli lembaran kuning kitab berisi tulisan huruf-huruf arab gundul.

Ini adalah ingatan saya, seorang anak kecil yang awalnya hanya ikut-ikutan ngaji di salah pondok pesantren di kabupaten paling barat laut Jawa Timur. Padahal, kitab yang sedang dibacakan saat itu sebenarnya bukan tujuan ngaji saya.

Bisa dibilang, waktu itu saya berniat mau nderek ngaji Kitab Ta’limul Muta’allim. Karena salah majelis, akhirnya saya ikut ngaji bersama santri-santri yang umurnya jauh lebih tua dari saya.

Namun, layaknya cinta yang begitu candu, saya akhirnya saya berkali-kali mengikut majlis kitab kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes ini. Kitab ini juga banyak dikaji berbagai pesantren di Jawa. Punya judul lengkap: “Syarhi Mandzumati Irsyadil Ikhwani li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan.”

Kalau diartikan kurang lebih bermakna, “Penjabaran terhadap Karya Hafalan Berjudul ‘Irsyadul Ikhwan li Bayani Syurbil Qahwati wad Dukhan’.”

Kitab ini merupakan salah satu karya ulama Nusantara mengenai rokok yang banyak dikenal di kalangan pesantren. Ini merupakan adaptasi puitik plus syarah dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dukhan karya KH Ahmad Dahlan Semarang.

Kitab ini juga merupakan salah satu karya monumental KH Ihsan Dahlan Al-Jampes, yang tebalnya kurang lebih 50 halaman.

Awalnya, kitab dengan judul yang sama hanyalah berupa mandzumah (bait-bait puitis), lantas kemudian dijabarkan melalui syarh (penjelasan). Pada awalnya, Syeikh Ihsan menulis mandzumah dengan tujuan supaya mudah dihafalkan.

Namun, beliau kemudian berpikiran, kalau hanya dengan mandzumah, justru membuat beberapa kalangan kesulitan menghafalnya. Alasan inilah yang menjadi motivasi beliau untuk membuat syarah yang kemudian dikenal dengan nama kitab Irsyadul Ikhwan.

Sang pengarang kitab yang lebih sering disebut sebagai Syeikh Ihsan Jampes, adalah Ihsan bin Muhammad Dahlan dari Jampes, Kediri.

Sedangkan Jampes sendiri merupakan nama sebuah dusun yang termasuk bagian dari Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

***

Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 Masehi dengan nama Bahrul Ulum, yang akrab dipanggil Bakri. Sewaktu kecil, beliau dikenal bandel, namun memiliki ingatan yang sangat kuat. Saking cepatnya belajar, Bakri seringkali mondok hanya sebentar karena dengan mudahnya mengerti tiap ilmu yang diajarkan guru-gurunya.

Beberapa pesantren yang pernah ia singgahi untuk belajar di antaranya, PP Bendo Pare Kediri asuhan KH Khozin (paman Bakri), Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Darat Semarang sewaktu diasuh KH Dahlan, menantu KH Soleh Darat, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang, serta pesantren asuhan Syaikhuna KH Cholil Bangkalan Madura.

Setelah beribadah haji pada 1926, nama Bakri diganti Ihsan. Tahun 1928, ayah Syeikh Ihsan yang mengasuh Pesantren Jampes meninggal. Namun baru pada tahun 1932 Syekh Ihsan mau menjadi pengasuh Pesantren Jampes setelah sebelumnya diserahkan kepada adiknya, KH Cholil.

Syeikh Ihsan dikenal sebagai seorang ulama nusantara yang giat menghasilkan berbagai tulisan. Beliau adalah salah satu ulama yang begitu memperhatikan literasi sepanjang hidupnya.

Syeikh Ihsan mempelajari berbagai cabang ilmu. Inilah yang membuatnya memiliki kemampuan menulis banyak kitab dari berbagai keilmuan. Di antara karya-karta tersebut, kitab Irsyadul Ikhwan-lah yang hingga kini dianggap sebagai salah satu kitab paling magnifico. Paling tidak sampai saat ini, belum ditemukan karya sejenis yang mampu menandingi kedalaman kitab ini.

Tidak diketahui kapan penulisan bait maupun penjabaran dari Irsyadul Ikhwan karena tidak ada catatan tahun dalam karya tersebut. Namun banyak yang menduga, Syeikh Ihsan menulis secara intensif setelah ia pulang ke Jampes sepeninggal ayahnya.

BERSAMBUNG