Bagian sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Syekh Jampes dan Kitab untuk Para Perokok dan Penikmat Kopi (1): Awal Mula Penulisan

Pada manuskrip kitab Nazhatul Ifham di artikel sebelumnya, ditulis bahwa sang pengarang kitab ini adalah Ahmad Dahlan bin Abdullah At Tarmasi Al Fajitani, yang berasal dari Pacitan, tepatnya Pondok Pesantren Tremas.

Manuskrip tersebut juga menyertakan nama At Tarmasi Al Fajitani. Jadi besar kemungkinan, karya ini ditulis oleh KH Dahlan saat ia masih menuntut ilmu di Timur Tengah sebelum pulang ke tanah air dan berdomisili di Semarang.

Udin Badrudin dalam artikelnya menyebut, keluarga sang kyai justru tak mengetahui KH Dahlan membuat kitab yang hingga kini tertata rapi di perpustakaan Universitas King Saud di Riyadh, Arab Saudi ini.

Nah, saat Syeikh Ihsan menukil sebagian dari kitab Tadzkiratul Ikhwan dalam karyanya, nukilan itu menyertakan dua bait syair yang menjelaskan tentang manfaat minum kopi.

Ketika nukilan ini dicari di dalam kitab Nazhatul Ifham, hasilnya nihil. Meskipun hal tersebut tidak bisa menjadi bukti kuat, besar kemungkinan kitab Tadzkiratul Ikhwan dan Nazhatul Ifham adalah dua kitab yang berbeda.

Tadzkiratul Ikhwan membahas tentang kopi dan rokok, sedang Nazhatul Ifham khusus membahas rokok saja.

Keluasan ilmu KH Dahlan yang mengkaji kopi maupun rokok yang dituliskan dalam kitab tersebut disadari oleh santri beliau di Pesantren Darat yaitu Syeikh Ihsan Jampes. Hingga akhirnya, Syeikh Ihsan menyusun risalahnya sendiri mengenai kopi dan rokok untuk menguatkan dan melestarikan karya KH Dahlan dengan tema yang serupa.

Kemungkinan, belum banyak kalangan pesantren dan umat NU yang mengenal Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan. Beberapa pesantren memang mengajarkan di asrama, meskipun pesantren-pesantren besar belum banyak yang mengkajinya.

Para kyai, baik seorang perokok maupun tidak, mungkin banyak yang tidak memiliki kitab ini. Salah satu usaha yang cukup membuat kitab ini dikenal adalah penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 2009.

Kitab para perokok dan penikmat kopi karya Syekh Ihsan Jampes ini memanglah unik. Berikut beberapa poin penting dalam kitab ini.

Tidak Banyak Mengutip Hadis dan Al-Quran

Karena memang tidak ada dalil dari Alquran maupun hadis yang secara khusus menyebutkan rokok dan kopi, maka kitab ini pun tidak mendasarkan dalil hanya pada keduanya saja.

Karena memang pada dasarnya, bahaya rokok yang selama ini digaungkan terkesan bias dan tergantung pemakai, hingga masyarakat yang saat ini melihat berbagai fatwa keharaman rokok pun masih gamang.

Berisi tiga bab utama dan satu bagian mukadimah, kitab ini secara tuntas menghadirkan pembelaan terhadap para perokok dan penikmat kopi, dengan bertolak pada berbagai pendapat para ulama yang mengharamkannya.

Argumen keharaman ini kemudian diimbangi dengan pendapat yang menghalalkan rokok dan kopi, sekaligus membantahnya.

Alasan Ulama Mengharamkan Rokok dan Kopi

2017 lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram untuk rokok. Ada juga dua fatwa lain yang dikeluarkan oleh kelembagaan Islam lainnya.

Pertama, Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 6/SM/MTT/III/2010 Tentang Hukum Merokok yang menyatakan bahwa merokok haram, non-perokok dilarang mencoba merokok, dan perokok yang sudah telanjur diwajibkan berupaya berhenti secara perlahan.

Kedua, fatwa Mufti Mesir, Fariz Wasil, pada 1999, yang menyatakan bahwa merokok hukumnya haram dalam Islam karena memiliki efek yang merusak kesehatan manusia.

Secara umum, para ulama yang mengharamkan rokok dan kopi beralasan bahwa rokok dapat membahayakan kesehatan.

Rokok juga diyakini dapat memabukkan dan melemahkan tubuh seperti halnya khamr. Selain itu, bau yang ditimbulkan para perokok banyak tidak disenangi sehingga dapat menyakitkan hati seseorang.

Dalam hal ini, bau tak sedap akibat rokok dikiaskan dengan bau bawang mentah yang dibenci oleh Rasulullah SAW dalam satu hadis.  Bahaya lain: merokok merupakan suatu pemborosan dan cermin sifat berlebihan yang terlarang.

Beberapa ulama yang ada di golongan ini antara lain Imam Alqulyubi dalam Hasyiah-nya dalam bab tentang najis. Ada juga Imam al-Luqqani yang sampai menulis kitab Nashihah al-Ikhwan bil Ijtinah li Syurb ad-Dhukhan.

Bahkan ada dari kalangan sufi yang menyebut, barang siapa yang 40 hari sebelum kematiannya belum bertobat dari rokok, maka dikhawatirkan atasnya su’ul khatimah.

Alasan Ulama Menghalalkan Rokok dan Kopi

Berbanding terbalik dengan ulama yang mengharamkan, para ulama yang menghalalkan rokok beralasan bahwa rokok mampu membangkitkan kinerja syaraf dan membantu pengurangan lemak tubuh.

Rokok diyakini juga mampu membunuh beberapa jenis mikroba, mengurangi serak, juga  menghilangkan kelesuan.

Sebagian ulama yang berpendapat kehalalan rokok antara lain: Abdul Ghani an-Nabilisi al-Hanafi, Syekh Ali Syibramalisi, dan Syekh al-Halabi.

Membantah argumen para ulama yang mengharamkan rokok, ulama-ulama yang menghalalkannya mengacu pada kenyataan bahwa merokok sama sekali tidak menghilangkan kesadaran.

Kalaupun timbul keharaman, maka hal itu lebih disebabkan suatu unsur luar yang datang kemudian.

Menurut mereka, rokok memang bisa menjadi haram kalau terbukti dapat melalaikan seseorang dari melakukan kewajiban. Misal, tak memberi nafkah keluarga. Hukum haram juga berlaku apabila perokok membeli rokok dengan harta yang seharusnya digunakan untuk menghidupi keluarga.

Imam al-Ghazali bahkan pernah memaparkan pendapatnya yang berkaitan dengan hal ini. Menurutnya, bahkan madu pun bisa haram bagi orang yang darahnya panas.

Hukum dalam kasus ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, rokok adalah barang mubah, tergantung bagaimana cara memanfaatkannya dan siapa penghisapnya.

Terdapat cuplikan bait yang menarik dalam kitab karya Syekh Jampes ini yang berbunyi:

“Minumlah kopi setiap waktu, karena di dalamnya terdapat lima faedah. (Yaitu) membangkitkan semangat, melancarkan pencernaan, menghilangkan dahak, memperbaiki fungsi pernafasan, dan membantu tercapainya tujuan.”

Selain membahas rokok dan kopi, Syekh Ihsan juga sedikit menulis tentang teh. Beliau berpendapat, teh tak jauh beda manfaatnya dengan kopi, meskipun kandungan teh jauh lebih ringan dibandingkan kopi.

Tapi, terlepas dari polemik halal-haram rokok, ada baiknya semuanya dilihat dari segi manfaat dan madharatnya. Seperti dijelaskan dalam Surah Shad, “Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.”

Wallahu ‘alam…

Sumber: Kitab Irsyadul Ikhwan, Terjemahan Kitab Rokok dan Kopi, (Udin Badrudin, Nasrudin)