DNK

Yang Harus Kamu Tinggalkan di Kampung Halaman Saat Kembali ke Kota Rantau

Yang Harus Kamu Tinggalkan di Kampung Halaman Saat Kembali ke Kota Rantau

Hari raya dan mudik adalah dua hal yang sudah menjadi kebiasaan di Indonesia. Keduanya bagai Jack dan Rose yang tak dapat dipisahkan—hanya ambrolnya Titanic yang berhasil memporak-porandakannya.

Nah, ngomongin mudik, bagi para kaum pendatang yang lama mengais rejeki di kota rantau, biasanya mereka membawa berbagai oleh-oleh dari kampung. Biasanya sih untuk tujuan berbagi, supaya teman-teman di kota bisa ikut njajal oleh-oleh pedesaan.

Sah-sah saja kalau bawa oleh-oleh lemper atau kacang kapri. Tapi, jangan coba-coba membawa hal di bawah ini saat kamu boyongan kembali ke kota. Ini bukan oleh-oleh, malah bisa jadi beban seng nggateli. Sorry kawans artikel ini retjeh lagi. Aing mah sukanya gitu..

Boyong Teman Sedesa untuk Bekerja

Dalam bahasa Samoa, berbondong-bondong ke perantauan dengan niat mencari jalan rezeki yang lebih baik dikenal dengan istilah urbanisasi. Sudah menjadi kebiasaan lama, orang yang sudah sok sukses di kota besar suka memancing tetangga kampung halamannya ikut mengais rejeki di kota.

Nggak masalah kalau yang diajak sejatinya adalah orang yang memiliki kemampuan dan kemujuran yang tinggi.

Tapi ini bisa jadi beban kalo yang diajak ke perantauan adalah orang yang nggak punya skill dan kemujuran yang memadai. Ditambah lagi, mereka belum jelas mau kerja dimana, tinggal dimana, sama siapa, semalam berbuat apa?

Dadi ojok sok-sok jadi pahlawan lek nggak mikir prosperity-ne konco-koncomu!

Hewan Ternak

Membawa hewan ternak ke perantauan memang boleh-boleh saja kalau kamu membawa kendaraan pribadi, khususnya truk. Tapi kalau kalian adalah kaum pengguna kendaraan umum, baik golongan darat, laut, maupun udara, sebaiknya jangan pernah sekalipun mencoba membawa hewan kesayangan kalian kembali ke kota.

Selain mengganggu ketentraman penumpang lain, bisa dipastikan para hewan tersebut tak bisa ke toilet seandainya mereka kebet pipis ataupun eek. Jadinya, ya u know what lah..

Kembang Desa

Kembang desa memang bukan kembang biasa. Kembang desa adalah idaman semua pria satu desa. Kalo kamu bawa kembang mawar, melati, atau bahkan kamboja untuk merantau, semuanya ya bakalan bodo amat.

Tapi lek kon wani nggowo kembang desa minggat soko ndeso, siap-siap dibakar arek karang taruna wae. Ambikan lapo se digowa-gowo ae lek nggak dirabi.

Istri Tetangga

Ada sebuah pepatah dari negara Zimbabwe yang mengatakan bahwa cinta itu buta, tak memandang jasad dan nyawa. Pepatah ini memang belum terbukti secara sains, namun di kehidupan nyata yang sering saya lihat lewat acara Buser dan Silet, sering terjadi kerusuhan yang disebabkan cinta.

Cinta buta bisa menerpa siapa saja, bisa juga para perantau yang sedang pulang kampung. Nah mungkin karena sebab itulah mereka berani mengembat istri tetangga. “Bojone tonggo, digowo lungo nang kutho”—headline Pojok Kampung.

Memang terdengar lucu, tapi jangan menyepelekan yang satu ini. Perawan memang idaman, tapi MILF milik tetangga jauh lebih menggairahkan. Nek kon nggak ati-ati, siap-siap ae terpesona lalu lupa diri. Membawa hak milik orang lain secara ilegal pun bisa saja terjadi.

Wong aku ae saiki ngempet ben nggak nyulik bojoe tonggoku!